TANᾹFUS
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

TANᾹFUS

Terbit 18 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / Hikmah / Kisah Nabi / Kisah Sahabat / Ustadz Uril
TANᾹFUS

Arti Tanafus

Suatu hari Rasulullah saw. dalam suatu pertemuan bersama para sahabatnya menyampaikan sebuah berita penting. Beliau memberitakan bahwa, diantara umat Islam ada 70 ribu orang yang dijamin akan masuk surga tanpa melalui hisab atau siksa terlebih dahulu. Mendengar berita tersebut, salah seorang sahabat bernama ‘Ukasyah berkata: “Ya Rasulallah, doakan kepada Allah agar saya termasuk diantara mereka”. Kemudian Rasulullah menjawab: “Ya, anda termasuk diantara mereka”. Melihat kejadian itu, salah seorang sahabat lain berdiri dan mengatakan sebagaimana yang dikatakan ‘Ukasyah. Kemudian Rasulullah menjawab: “’Ukasyah telah mendahuluimu”.  

Tanāfus atau berlomba-lomba menjadi yang paling terdepan dan terbaik adalah bagian terpenting dari nilai-nilai Islam yang harus disambut oleh setiap muslim. Allah dan Rasul-Nya menghendaki agar manusia di dunia ini selalu berusaha untuk tanāfus dalam mengejar kebaikan. Karena itu banyak ayat-ayat al Quran dan juga hadis Nabi, sebagaimana kisah ‘Ukasyah di atas, yang menganjurkan kepada kita untuk saling berlomba-lomba menjadi orang yang terbaik dalam hidup ini, dengan menggunakan istilah yang berbeda-beda namun memiliki makna yang sama, seperti musābaqah, musāra’ah dan mubādarah.  

Disamping tuntutan syar’i, tanāfus adalah perilaku para nabi dan kebiasaan malaikat yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan cemas (QS Al Ambiya’:90). Melalui tanāfus, seseorang akan melihat orang lain bersemangat untuk maju. Dengan demikian, motivasi dan semangatnya untuk menggapai yang terbaik akan ikut meningkat.   

Dengan tanāfus pula, akan muncul manusia-manusia pilihan yang memiliki keunggulan. Pada saat perang Uhud, Rasulullah pernah menawarkan sebilah pedang dengan mengatakan: “Siapa yang mau menerima pedang ini?”, ternyata semua sahabat mau menyambut tawaran tersebut. Kemudian Rasulullah mengulang kembali tawarannya, seraya berkata: “Siapa yang mau menerima pedang ini dengan seluruh haknya?”, maka tidak ada yang mengangkat tangan kecuali satu sahabat saja yaitu Abu Dujanah. Ternyata dalam kisah tanāfus yang ditawarkan Rasulullah, hanya muncul satu orang pilihan yang mengerti maksud dari pemberian pedang beserta seluruh haknya dari Rasulullah saw. 

Tanāfus ini menjadi sangat penting untuk selalu kita lakukan sebelum datangnya hambatan. Sebagaimana yang sudah kita fahami bersama, bahwa umur kita sangat terbatas, ajal kita tidak ada yang tahu, sementara hambatan dan rintangan untuk melakukan kebaikan ini sangat banyak. Karena itu, mumpung kesempatan masih ada, maka tanāfus menjadi pilihan kita. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk bersegera menyambut dan melakukan kebaikan sebelum datangnya fitnah, fitnah itu digambarkan oleh beliau seperti malam yang sangat gelap, karena dahsyatnya fitnah tersebut, hingga manusia dengan mudah dan cepat dapat berubah antara menjadi mukmin dan kafir.  

Dalam hal ber-tanāfus, kita dianjurakan hanya pada kebaikan, seperti berlomba-lomba untuk mendapatkan shaf pertama dalam shalat berjamaah, untuk berjihad dengan jiwa dan harta di jalan Allah, untuk mencari ilmu, untuk memperbanyak dzikir, untuk banyak memberi manfaat kepada orang lain dan sejumlah kebaikan yang lain. Sementara tanāfus pada kejelekan tentunya tidak dianjurkan oleh Islam, seperti tanāfus untuk mengejar dunia, untuk melakukan dosa dan kekufuran, untuk menyesatkan orang lain dan melakukan kerusakan.  

Al Quran telah membagi kaum muslimin dalam ber-tanāfus menjadi tiga tingkatan (QS Fāthir:32). Pertama: adalah orang yang iamannya lemah, langkah kakinya lambat untuk mengerjakan amal shalih dan menuju kebaikan, bahkan kadang-kadang juga meninggalkan sejumlah kewajiban dan mencicipi sejumlah kemaksiatan.   

Kedua: mereka yang mencukupkan diri dengan kewajiban dan meninggalkan larangan, tanpa menambah dengan amalan-amalan sunnah. Seperti kisah seorang laki-laki yang pernah datang kepada Rasulullah untuk bertanya tentang kewajiban dalam Islam, setelah di jelaskan oleh Rasulullah, kemudia dia berkata: “Saya tidak akan menambah dan juga tidak akan mengurangi”. Ketiga: mereka yang disamping melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan, juga juga mau berlomba-limba memburu amal kebaikan yang disunnahkan dan dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya.   Ketiga tingkatan tersebut semuanya akan masuk surga Allah, hanya saja tingkatan pertama dengan melalui syafaat dari nabi Muhammad saw., kemudian yang kedua dengan melalui penghisaban yang cukup mudah, sementara yang ketiga tanpa hisab. Semoga Allah memudahkan kita menjadi orang kelompok ketiga, yang selalu terdepan dalam melakukan kebaikan, hingga kita dapat memasuki surga Allah tanpa hisab. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaBERHIAS DENGAN PAKAIAN TAKWA SesudahnyaAGAR KEHIDUPAN KITA MENJADI TAWᾹZUN

Berita Lainnya

0 Komentar