TAᾹWUN DALAM KEBAIKAN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

TAᾹWUN DALAM KEBAIKAN

Terbit 16 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Fiqh / Hadits / Kisah Sahabat / Ustadz Uril
TAᾹWUN DALAM KEBAIKAN

Ta’awun Dalam Islam

Pada saat Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke kota Madinah, yang paling berperan membantu menyukseskannya adalah keluarga Abu Bakar As Ṣiddiq ra. Dalam strateginya, Rasulullah meminta Abu Bakar untuk mendampingi dalam perjalanan. Asma’ bin Abu Bakar ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan logistik sejak keluar dari rumah, ketika singgah di goa Ṡur, hingga benar-benar Rasulullah dan ayahnya merasa aman dalam perjalanan mereka menuju Madinah. Abdullah bin Abu Bakar bertugas mengumpulkan berita dan menjadi mata-mata. ‘Ᾱmir bin Fuhair, bertugas menggembalakan kambing dengan mengikuti jalan yang dilalui oleh Rasulullah dan Abu Bakar agar jejak mereka terhapus oleh jejak kambingnya.  

Itulah kisah ta’āwun keluarga Abu Bakar yang dalam menyukseskan perjalanan hijrah. Meskipun perjalanan hijrah itu dalam rangka memenuhi perintah Allah swt., yang pasti akan ditolong oleh-Nya, tetapi tetap saja Rasulullah melakukannya sesuai dengan perhitungan manusia, membuat perencanaan dan menggunakan strategi yang baik. Dalam peristiwa hijrah itu, Rasulullah saw. juga mengajarkan ta’āwun atau tolong menolong dalam ibadah dan kebaikan.  

Ta’āwun adalah merupakan salah satu prinsip utama yang diajarkan oleh Islam (QS Al Maidah:2). Dengan ta’āwun, masyarakat muslim akan bersatu dan saling menyintai, menjadi bagaikan tubuh yang satu sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya. Ta’āwun juga merupakan sarana untuk memberdayakan berbagai potensi yang berserakan di masyarakat, karena dengan ta’āwun, masing-masing dapat memberikan potensi yang dimiliki, sehingga akan terwujudlah maslahat yang lebih besar.  

Tidak sempurna adalah merupakan tabiat manusia. Potensi dan kekuatannya sangat terbatas, ia pasti membutuhkan bantuan dari saudaranya agar kekurangan yang di miliki dapat disempurnakan oleh yang lain. Suatu ketika, datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah menyatakan kesiapannya untuk ikut serta dalam sebuah peperangan, namun dia tidak memiliki perbekalan. Rasulullah kemudian menunjukkan kepada seseorang yang memiliki perbekalan cukup, namun tidak bisa ikut peperangan karena sedang sakit. Semuanya akhirnya mendapatkan kebaikan dan keutamaan karena ta’āwun atau tolong-menolong dalam rangka menyebarkan agama Allah.  

Ta’āwun bukan hanya terbatas pada masalah materi semata, namun nasehat yang kita sampaikan kepada saudara kita sesungguhnya merupakan bentuk ta’āwun yang berharga, karena akan dapat mengurangi beban saudara kita. Dalam beribadah, menunjukkan orang lain pada kebaikan, menolong saudara kita yang terdzalimi juga merubakan bagian dari aktifitas ta’āwun yang harus kita lakukan.  

Dalam dunia dakwah, tidak mungkin dakwah Islam ini akan sukses hanya dipikul oleh segelintir orang saja, atau bahkan oleh satu organisasi saja juga tidak bisa. Siapa saja dari kelompok Islam mana saja seharusnya bisa ta’āwun atau saling bahu-membahu dalam rangka menyukseskan misi suci dakwah Islam ini. Sayangnya sebagian kelompok kaum muslimin masih ada yang belum menyadari akan keniscayaan ini, bahkan sebagian kecil yang lain masing memiliki anggapan bahwa kelompoknyalah yang paling benar, sementara yang lain dianggap salah.   

Dalam memerintahkan kaum muslimin untuk ta’āwun dalam berdakwah yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Allah bukan hanya mengungkapkan dalam bentuk perintah, tetapi Allah juga telah menunjukkan kepada kita bahwa di fihak lain, orang-orang kafir telah melakukan ta’āwun dan menyatukan langkah untuk menyebarkan kekafiran dan kebatilan mereka, masihkah kita belum juga mau berta’āwun untuk berdakwah dan menyebarkan al haq (QS Al Maidah:51).  

Untuk memudahkan kita dalam berta’āwun, hendaknya kita lebih memahami dan mengenal saudara-saudara kita, memperhatikan urusan kaum muslimin sehingga kita mengetahui cela yang mungkin kita bisa berta’āwun di dalamnya. Memahami hak muslim terhadap muslim lainnya juga bisa jadi sarana untuk ta’āwun. Menanamkan spirit bekerjasama, merasa mendapat pahala akibat ta’āwun dan membersihkan diri dari penyakit hati juga merupakan sarana efektif untuk menumbuhkan sikap ta’āwun dalam diri kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu ta’āwun dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaDAMPAK DARI EKSISTENSI KEIMANAN SesudahnyaINDAHNYA IBADAH TAFAKKUR

Berita Lainnya

0 Komentar