Saudaraku, Jangan Kautanam Bibit-bibit Perpecahan dengan Berprasangka… – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Saudaraku, Jangan Kautanam Bibit-bibit Perpecahan dengan Berprasangka… – Islampos

Terbit 17 December 2020 | Oleh : Admin | Kategori : bahaya prsangka buruk / bibit perpecahan / Hadits / Nasihat / prasangka / suudzon


SAUDARAKU, seringkali kita berprasangka terhadap orang lain, bahkan kepada Rabb yang telah menciptakan kita dan alam semesta. Bisa disimpulkan baha kehidupan manusia tidak terlepas dari berprasangka terhadap apapun, entah itu prasangka baik atau pun buriuk.

Prasangka biasa muncul karena kita melihat sesuatu yang kita anggap baik atau buruk. kita hanya mampu menilah seseorang dari tampilan fisik. Namun, sedikit dari kita yang mampu menilai bagaimana ia bersikap. Bisa jadi, orang yang kita berprasangka buruk kepadanya ialah orang yang lebih mulia dari kita di hadapan Allah SWT.

BACA JUGA: Ini Cara Rasulullah Hindari Prasangka Buruk Orang

Saudaraku,

Sudah seharusnya kita menghindari sikap berprasangka ini. Seperti yang diriwatkan dari Abu Hurairah , Rasulullah SAW bersabda,

“Hindarilah oleh kalian berprasangka, karena prasangka itu merupakan ucapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang, jangan memantau kesalahan orang, jangan bersaing dengan persaingan tidak sehat, jangan pula kalian saling dengki, saling benci, saling menjauhi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaqun Alaih)

BACA JUGA: Anak yang Mengigit 2 Buah Apel untuk Ibunya

Saudaraku,

Berprasangka yang dimaksudkan di sini adalah prasangka buruk. Al-khutabi mengatakan: “Prasangka buruk yang diharamkan adalah yang tertanam dalam hati secara terus menerus.”

Sudah sangat jelas bahwa Rasulullah SAW melarang kita untuk berprasangka buruk terhadap siapapun karena kita adalah bersaudara. Ketika kita berprasangka buruk terhadap saudara kita sendiri, maka pada hakikatnya kita sedang menabur bibit-bibit ketidakharmonisan. []

Referensi: Fiqih Wanita Edisi Lengkap/Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah/Pustaka Al-Kautsar



Source link

SebelumnyaPenuntut Ilmu harus Bisa Menjaga Lisan dan Tulisannya – Islampos SesudahnyaSuami Terkena Penyakit Menular, Bolehkah Minta Cerai?

Berita Lainnya

0 Komentar