PINTU-PINTU MENUJU RABBANI
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

PINTU-PINTU MENUJU RABBANI

Terbit 31 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hikmah / Mu'amalah / Tips & Trik / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
PINTU-PINTU MENUJU RABBANI

Diantara sikap atau sifat terpuji yang diperintahkan oleh Allah dalam al Quran agar dimiliki oleh setiap muslim adalah sifat rabbāni, perintah itu disampaikan melalui surat Ali Imran:79. Menjadi manusia rabbāni adalah kehormatan dari Allah dan pada saat yang sama adalah merupakan beban bagi manusia. Dikatakan kehormatan, karena istilah rabbāni menggunakan nama Tuhan atau Rabb, sementara tidak ada kemuliaan yang lebih besar melebihi posi bersanding dengan Tuhan. Dikatakan beban, karena kata-kata itu menuntut konsekwensi dan beban yang berat, karena kita sebagai manusia harus berusaha untuk mendidik diri kita dengan menggunakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan berkomitmen dengan syari’at-Nya. Itulah jalan yang akan mengantarkan mansuia menuju sifat rabbāni.  

Untuk itu, kita perlu mengetahui beberapa pintu rahasia rabbāni, sehingga jalan yang kita lalui akan semakin dapat mengantarkan kepada tujuan.

Pintu Rabbani

Pintu pertama yang akan mengantarkan kita menuju sifat rabbāni  adalah beajar dan mengajarkan al Quran. Dzikir yang paling utama adalah dengan mendekat kepada kitab-Nya, semakin kuat komunikasi kita dengan al Quran dengan cara membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkan, maka semakin bertambah keimanan kita dan kekokohan kita dalam berpegang kepada tali Allah. Kedekatan kita dengan al Quran juga akan memunculkan cinta dan kebersamaan dengan Allah, yang pada gilirannya akan menuntun kita untuk mudah menapaki jalan ketaatan dan menjaga kita dari perilaku kemaksiatan.  

Begitulah orang-orang yang dekat dengan al Quran, mereka adalah manusia yang memiliki hubungan khusus dengan Allah. Mereka terdepan dalam kebaikan, mereka memiliki akhlak yang mulia, mereka paling banyak berdzikir kepada-Nya dan paling takut kepada-Nya. Itulah makna firman Allah di atas (QS Ali Imran:79). Apabila kita cermati lebih dalam lagi, dalam ayat tersebut Allah benar-benar menegaskan bahwa untuk mencapai derajat rabbāni, ada dua sarana utama yaitu belajar dan mengajar al Quran. Bahkan dalam ayat tersebut Allah menggunakan bā’ sababiyyah, yaitu ba’ yang menunjukkan sebab atau sarana.  

Pintu kedua adalah ibadah. Tidak akan terwujud sifat rabbāni tanpa adanya ibadah kepada Allah. Orang-orang yang memiliki sifat rabbāni adalah mereka yang senang beribadah kepada-Nya dengan pemahaman ibadah yang sempurna. Semakin bertambah kuantitas dan kualitas ibadah seseorang, akan semakin kokoh kakinya dalam menapaki jalan rabbāni. Seluruh kehidupan orang rabbāni adalah ibadah, makan dan minumnya, tidur dan terjaganya, kata-kata dan diamnya semua adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya. Dia sedang beribadah kepada Allah pada saat sedang berada di rumah, dia adalah hamba Allah pada saat melaksanakan tugas dan kewajiban. Itulah salah satu makna rabbāni yang disebutkan oleh Ibnu Kaṡir dalam tafsirnya. Makna itu dikuatkan dengan firman Allah dalam surat al An’am:162-163.  

Pintu ketiga untuk menuju sifat rabbāni adalah dengan membangun lingkungan yang rabbāni. Setiap kita harus memiliki teman yang selalu mengingatkan kepada Allah jika kita lupa, mengingatkan kita pada saat kita salah. Kita membutuhkan sahabat yang mau menasehati kita dalam kebenaran dan kesabaran. Kita sangat memerlukan kawan yang mau menemani kita dalam perjalanan menggapai kebenaran, karena jalan itu tidak aman, di jalan itu selalu saja ada gangguan dan hambatan. Jalan itu dipenuhi dengan berbagai ancaman yang akan mengganggu perjalanan kita. Berjalan sendiri pada jalan rabbāni tidak mungkin dapat kita lakukan, karena itu kita perlu kawan dan lingkungan yang sama-sama menapaki jalan rabbāni ini.  

Pintu keempat untuk menuju sifat rabbāni adalah dengan menggunakan sistem yang baik. Sistem dan cara yang dapat mengantarkan kita menuju sifat rabbāni harus sempurna, mencakup seluruh sisi kehidupan masnusia, yaitu sistem yang dapat memenuhi kebutuhan akal, spirituan dan fisik masnusia secara sempurna. Keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan tiga unsur yang ada pada manusia adalah merupakan keniscayaan. Salah satu unsur saja tidak tercukupi dengan sempurna, bisa jadi akan mengganggu keberlangsungan kehidupan menuju rabbāni.  

Disamping itu, dalam memenuhi kebutuhan tiga unsur yang ada pada diri kita tersebut harus dilakukan dengan jadwal dan tatanan yang baik, biasa juga dengan memperhatikan prioritas kerja dalam rangka memenuhi kekurangan yang mungkin ada pada salah satu dari tiga unsur di atas.  

Untuk dapat memasuki empat pintu di atas dengan mudah, memerlukan kesungguhan atau dalam bahasa agama kita disebut dengan jihad. Kita betul-betul harus berjihad melawan hawa nafsu, yang menurut Ibnul Qayyim harus ditempuh melalui empat tahapan, yaitu; jihad dalam rangka mengenali kebanaran, jihad dalam rangka mengerjakan kebenaran, jihad dalam rangka mendakwahkan kebenaran dan jihad dalam rangka bersabar menanggung beban berat mendakwahkan kebenaran. Jika empat tahap untuk menuju pintu-pintu rabbāni itu dapat kita lakukan, insyAllah kita akan dapat menggapai derajat rabbāni dengan baik.  

Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk dapat menggapai derajat dan sifat rabbāni, yang merupakan kehormatan dari Allah swt., sekaligus beban bagi kita. Wallau a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaAGAR AKU BISA JUJUR SesudahnyaMENGUKUR KUALITAS DIRI SENDIRI

Berita Lainnya

0 Komentar