NASEHAT ADALAH PILAR KEKUATAN MASYARAKAT
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

NASEHAT ADALAH PILAR KEKUATAN MASYARAKAT

Terbit 8 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hadits / Kisah Sahabat / Mu'amalah / Tadzkiroh / Ustadz Uril
NASEHAT ADALAH PILAR KEKUATAN MASYARAKAT

Hampir semua pemilik perusahaan yang serius ingin mengembangkan dan memajukan perusahaannya, pasti rela mengeluarkan anggaran yang besar sekalipun untuk menggaji orang tertentu atau tim khusus yang diberi tugas khusus pula untuk melakukan penilaian terhadap perusahaannya. Penilaian itu dimaksudkan agar dapat diketahui sedini mungkin kelemahan atau kekurangan yang ada para perusahaan tersebut untuk selanjutnya dilakukan perbaikan dan peningkatan sehingga pada akhirnya perusahaan itu akan menjadi sehat dan berkembang dengan baik.  

Jika seseorang dengan perusahaannya yang tujuannya untuk mendapatkan keuntungan dunia harus mengeluarkan beaya besar untuk dapat memperoleh nasehat secara objektif terkait dengan perbaikan dan pengembangan perusahaan tersebut, maka manusia dalam kehidupannya di dunia ini yang memiliki tujuan yang lebih utama, yaitu mendapatkan ridha Allah dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat, tentunya lebih membutuhkan nasihat kebaikan dari saudaranya. Demi kebaikan kita bersama, kita membutuhkan orang lain yang mau mengingatkan dan menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Kita juga harus mau menerima peringatan dan nasehat dari saudara kita dengan berbesar hati, karena sesungguhnya nasehat itu manfaatnya kembali pada diri kita sendiri.  

Karena itulah, Islam sebagai agama yang sempurna sejak awal telah meletakkan dasar-dasarnya yang kokoh, diantaranya menjadikan nasehat sebagai pilar utama baik dalam sekala pembentukan pribadi maupun masyarakat. Dalam hal pembentukan peribadi muslim yang baik, Allah mengaitkan bahkan mensejajarkan nasehat ini dengan keimanan. Maka dalam surat al ‘Asr, Allah menjelaskan tiga syarat utama agar manusia tidak terjerumus dalam kerugian yaitu iman, amal shalaih dan nasehat.  

Masyarakat Madani

Dalam rangka membangun kehidupan beragama yang sehat dan betul-betul diharapkan dapat mewujudkan spirit Islam yang rahmatan lil ‘alamin, budaya saling menasehati ini harus hidup dalam masyarakat muslim. Jika tidak, maka masyarakat muslim yang ideal itu tidak akan terwujud karena salah satu pilarnya tidak ada. Dalam hal mengokohkan pilar nasehat dalam masyarakat muslim, secara khusus Rasulullah saw. menegaskan bahwa agama itu adalah nasehat. Seakan-akan Rasulullah ingin mengatakan bahwa Islam tidak akan dapat memberi manfaat secara sempurna dalam kehidupan masyarakat kecuali jika budaya saling menasehati dapat berjalan dengan baik pada masyarakat tersebut.   

Dalam kehidupan dakwah, nasehat bukan hanya bermanfaat untuk objek dakwah, namun ia juga menjadi kebutuhan pokok yang harus dikonsumsi oleh para da’i itu sendiri. Para penyeru kepada kebaikan adalah manusia biasa yang tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Agar tetap dapat menjalankan aktifitas dakwah dengan semangat harus ada kawan yang selalu menasehati dan memotivasinya. Rasulullah saw. ketika mengutus Muaż bin Jabal untuk menjadi da’i ke Yaman, agar sukses dalam misi dakwah yang akan ditunaikan, beliau membekalinya dengan sejumlah nasehat. Rasulullah memulai nasehatnya dengan memberitahu kondisi objek dakwah di Yaman hingga langkah-langkah yang harus dilakukan, serta tema-tema prioritas yang perlu disampaikan pertama, kedua, dan seterusnya.  

Begitu juga Rasulullah ketika mengutus Abu Musa Al Asy’ari ke Yaman dalam misi yang sama. Nasehat yang beliau sampaiakan adalah berkaitan dengan bagaimana berinteraksi dengan objek dakwah, beliau bersabda: “Mudahkan dan jangan mempersulit. Berikan kabar gembiran dan jangan menakut-nakuti”. Nasehat-nasehat Rasulullah yang disampaiakan pada saat memberikan pembekalan kepada para juru dakwah yang mau dikirim ke Yaman itu sekarang menjadi kaidah penting dalam aktifitas dakwah.  

Dalam hal nasehat, jika nasehat itu ditujukan kepada kita, maka yang harus kita siapakan dari dalam diri kita adalah kesiapan kita untuk menerima nasehat tersebut. Sebagai seorang mukmin seharusnya kita dapat menerima nasehat kebenaran dari siapapun, bahkan dari orang yang biasa sekalipun. Sayangnya, dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak diantara kita yang tidak berkenan menerima nasehat jika bersumber dari orang yang status sosialnya rendah dari kita. Bisanya kebanyakan kita hanya mau menerima nasehat jika disampaikan oleh penguasa atau orang yang terhormat diantara kita.  

Dalam sebuah riwayat, terkait dengan keharusan menerima kebenaran dari manapun sumbernya, ada pelajaran menarik yang pernah terjadi pada sahabat Abu Hurairah, dimana dia diberi nasehat oleh syetan untuk membaca ayat kirsi setiap malam agar syetan tidak dapat mengganggunya. Ketika disampaikan kepada Rasululullah tentang nasehat tersebut beliau berkomentar: “Dalam hal ini nasehatnya benar, namun yang menyampaiakan tetap pembohong” (HR Bukhari).  

Semoga Allah swt. memberikan kemudahan kepada kita untuk dapat menghidupkan suasana nasehat menasehati diantara kita kaum muslimin, sebagaimana memudahkan kita untuk dapat menerima semua nasehat kebenaran yang sampai kepada kita, dari manapun sumbernya. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMEMBIASAKAN DIRI KHUSYU’ DALAM SHALAT SesudahnyaLaporan Keuangan Per Mei Tahun 2020

Berita Lainnya

0 Komentar