MUKMIN ITU JUJUR
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MUKMIN ITU JUJUR

Terbit 27 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hadits / Hikmah / Kisah Nabi / Kisah Sahabat / Mu'amalah / Tadzkiroh / Ustadz Uril
MUKMIN ITU JUJUR

Jujur adalah landasan dari keimanan, sedangkan bohong adalah pangkal dari kemunafikan. Antara iman dan kebohongan selamanya tidak akan pernah bertemu, karena salah satunya pasti akan mengalahkan yang lain.   

Jati diri seseorang dapat ditunjukkan dari kejujurannya dalam setiap perilakunya. Jujur adalah integritas moral yang baik yang dimiliki oleh setiap mukmin. Seorang mukmin harus selalu menunjukkan sikap yang sama antara yang dzahir dengan keyakinan yang ada dalam dirinya.  Jika secara dzahir kelihatan beriman, namun di dalam dirinya tersimpan kekafiran yang tidak diperlihatkan, maka orang seperti itu disebut dengan munafik. Karena itu, salah satu yang membedakan antara mukmin dan munafik adalah kejujuran.  

Jujur adalah kenikmatan yang sangat besar setelah nikmat Islam, karena itulah Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang jujur sejajar dengan derajat para nabi, syuhadak dan orang-orang yang shalih (QS An Nisa: 69). Dan karena itu pula, Allah memerintahkan kepada orang yang beriman agar senantiasa memiliki sikap jujur (QS At Taubah:119).   

Rasulullah saw. di awal-awal menyampaikan dakwah di Makkah, sikap yang ditonjolkan adalah kejujuran hingga beliau mendapat gelar Al Amin. Sikap jujur itu selanjutnya menjadi modal dasar bagi nabi Muhammad saw. untuk menarik simpati dan kepercayaan masyarakat Quraisy Makkah kepada risalah Islam yang dibawa oleh beliau. Meskipun lambat tapi pasti, gerakan dakwahnya. dapat berkembang hingga pada puncaknya kota Makkah dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin yang langsung dipimpin oleh Rasulullah tanpa pertumpahan darah. 

Jujur

Karena itu, kita sebagai penyeru kepada kebaikan yang mewarisi misi suci Rasulullah saw., kejujuran menjadi suatau keniscayaan dalam setiap aktifitas dakwah kita, agar kita dapat dengan mudah menarik simpati orang-orang yang kita ajak kepada kebaikan Islam. Lebih dari itu, dengan adanya kejujuran yang tinggi, kita akan dapat menggapai cita-cita yang kita dambakan meskipun pada hakekatnya kita belum sampai pada cita-cita tersebut. Bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda: “Barang siapa yang memohon kepada Allah untuk mati syahid dengan jujur, maka Allah tetap akan mengantarkannya kepada kesyahidan, meskipun ia wafat di atas tempat tidurnya” (HR Muslim).  

Imam Ghazali menyebutkan dalam kitabnya ihya’ ulumuddin 6 macam kejujuran yang harus diperhatikan oleh setiap mukmin. Pertama adalah jujur dalam perkataannya. Maka barang siapa yang dapat menjaga lisannya dari menceritakan berita yang berbeda dengan yang sesungguhnya, maka dia adalah orang yang jujur. Bukankah petaka yang paling dahsyat di dunia ini adalah yang disebabkan karena ketergelinciran lisan.  

Kedua adalah jujur dalam niat dan keinginan. Yang dimaksud di sini adalah keikhlasan. Orang yang jujur adalah orang yang tidak memiliki niat atau motivasi kecuali hanya untuk mencari dan mendapatkan ridha dari Allah swt. Jika niat dan motivasi seseorang itu terkotori dengan motivasi lain selain ridha Allah, maka kejujuran dalam niat dan keinginannya menjadi rusak dan berubah menjadi kebohongan. Kisah tentang seorang mujahid, pembaca al Quran dan ahli infaq, yang pernah diceritakan oleh baginda Rasulullah dalam hadis sahih riwayat muslim, hendaknya menjadi inspirasi bagi kita, mereka bertiga gagal mempertahankan amal perbuatannya di hadapan Allah yang secara dzahir sangat baik, namun kemudian menjadi batal karena ada kesalahan dalam niat dan motivasi.  

Ketiga adalah jujur dalam tekad atau azam. Tekad yang jujur adalah tekat yang tinggi dan kuat, semangat yang tidak kenal lelah apalagi ragu-ragu. Tekad yang jujur adalah yang berhasil mendorong pelakunya untuk tetap tegar melakukan kebaikan. Allah akan memberi balasan kepada mereka yang memiliki tekat yang jujur, meskipun belum sampai pada cita-cita kebaikan yang diinginkan.  

Keempat adalah jujur dalam kesetiaan melaksanakan tekad. Biasanya manusia akan dengan mudah dapat membangun tekad dalam dirinya. Seorang muslim yang memiliki tekat yang jujur harus tetap setia melaksanakan tekadnya. Tidak jarang tekad seseorang dapat berubah karena godaan nafsu, sehingga dia menjadi tidak jujur lagi alam tekannya. Karena itu, Allah sangat memuji mereka yang tetap jujur dalam kesetiaan melaksanakan tekadnya, apapun keputusan yang akan ditetapkan oleh Allah (QS Al Ahzab:23-24).  

Kelima adalah jujur dalam amal perbuatan. Jika seseorang hanya menampilkan ketaatan ketika berada di depan orang lain, sementara dia masih bermaksiat ketika tidak dilihat orang, maka dia belum termasuk orang yang jujur dalam amal perbuatannya. Hal ini adalah merupakan tanda-tanda kebohongan yang sangat dicela oleh Allah swt (QS As Ṣaf:2-3).  

Keenam adalah jujur dalam seluruh perangai dalam beragama. Seperti jujur dalam berharap, tawakkal, ridha, cinta, zuhud dan lain sebagainya. Cirinya adalah dapat melaksanakan seluruh konsekwensi dan semua perangai keimanan tersebut dengan jujur (QS Al Hujurat:15).  

Semoga Allah swt. senantiasa memudahkan kita untuk menerapakan sikap jujur dalam keenam perilaku di atas, sehingga Allah berkenan menempatkan kita sederajat bersama orang-orang yang jujur. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMENJAGA KETAATAN DALAM KEBAIKAN SesudahnyaAGAR AKU BISA JUJUR

Berita Lainnya

0 Komentar