Mereka Tetap Semangat - Kisah Para Sahabat
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MEREKA TETAP BERSEMANGAT

Terbit 2 July 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hadits / Hikmah / Kisah Sahabat / Motivasi / Ustadz Uril
MEREKA TETAP BERSEMANGAT

Semangat yang tinggi dalam melakukan kebaikan atau dalam bahasa Arab biasa disebut dengan himmah ‘āliyah adalah nilai penting dalam beragama. Kebanyakan ayat-ayat al Quran mendorong kita untuk memiliki nilai itu, begitu juga hadis-hadis Rasulullah saw. Karena itu sudah sepatutnya jika kita ingin ber-Islam dengan sempurnya, maka beribadah dengan semangat yang tinggi adalah sebuah keniscayaan.   

Apabila kita baca kembali sejarah salafus salih, maka akan kita dapatkan contoh-contoh yang luar biasa dalam hal semangat yang mereka miliki, kisah-kisah semangat mereka dapat dilihat dari beberipa sifat berikut:  

Pertama: Tidak berhenti karena ada hambatan. Orang yang memiliki semangat yang tinggi tidak akan berhenti dalam mencapai tujuan, meskipun di hadapannya terdapat berbagai hambatan. Ia akan terus melaju, mencari jalan keluar dari setiap rintangan hingga sampai pada tujuan yang dicita-citakan.   

Pada zaman Rasulullah, kita kenal ada seorang sahabat yang buta bernama Ibnu Umi Maktum. Secara logika, dia memiliki hambatan untuk mencari Ilmu dan mendalami Islam dari Rasulullah saw. Namun karena dia memiliki semangat yang tinggi, tidak bisa melihat bukan alasan untuk tidak belajar Islam sebagaimana sahabat-sahabatnya yang lain. Kegigihan dan semangatnya diabadikan oleh Allah dalam surat ‘Abasa, hingga secara khusus Rasulullah saw. diingatkan oleh Allah agar tidak mengabaikan semangat Ibnu Umi Maktum dalam belajar Islam.  

Dialah Syekh Bin Baz rahimahullah, juga memiliki hambatan tidak bisa melihat. Namun semangatnya dalam mencari ilmu bahkan melebihi orang-orang yang bisa melihat sekalipun. Beliau hafal al Quran sebelum usia baligh. Ketika kita bertanya kepada beliau tentang suatu hadis, maka beliau akan menyebutkan matan dan sanadnya secara lengkap. Ilmu hadis yang dikuasainya tidak diragukan lagi. Semangat beliau untuk mengajarkan ilmu juga sangat tinggi. Di usia yang sudah melebihi 70 tahun pun masih tetap semangat untuk mengajarkan ilmu.  

‘Azimah Dalam Beribadah

Kedua: Memilih ‘azimah bukan rukhṣah dalam ibadah. Apabila kita dihadapkan pada bolehnya memilih antara‘azimah yaitu ibadah yang sempurna seperti melakukan shalat dengan sempurna saat musafir dan rukhṣah yaitu ibadah dengan keringanan seperti melakukan shalat jama’ atau qaṣar saat sedang musafur, pastinya kita akan lebih memilih yang rukhṣah, biasanya kita alasan karena Allah juga suka kalau keringanan-Nya dipilih. Namun tidak demikian bagi pemilik himmah ‘āliyah, dia tetap memilih yang ibadah sempurna.  

Seringkali kita temukan perbedaan pendapat para ulama dalam masalah fiqh, terutama masalah-masalah yang furu’ atau cabang. Diantara beberapa pendapat ulama dalam masalah tertentu, biasanya ada pendapat atau hukum yang paling ringan. Apabila kita hanya mengambil hukum yang paling ringan dari setiap permasalahan fiqh, maka berarti kita hanya akan mengerjakan hukum-hukum yang ringan semuanya. Menurut ulama, hal ini tidak diperbolehkan karena akan terkumpul pada diri seseorang hukum-hukum minimalis yang nilainya kurang. Karena itu pemilik semangat yang tinggi tidak akan mengambilnya dan hanya akan memilih hukum-hukum yang nilainya kuat atau tinggi.  

Ketiga: Mengejar ketertinggalan dan menyesalinya. Diantara sifat orang yang memiliki semangat yang tinggi adalah tidak mau ketinggalan dari amal kebaikan. Jika karena suatu hal dia tidak bisa melakukannya, maka dia segera mengejarnya. Misalnya, jika tidak bisa melakukan shalat malam karena sakit, maka dia harus menggantinya shalat di siang hari. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Barang siapa yang tertidur di malam hari sehingga tidak sempat membaca hizb-nya (target bacaan al Quran harian), kemudia baru dibacanya antara shalat subuh dan dzuhur, maka dianggap seakan-akan dia membacanya di malam hari”.  

Demikian pula apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah yang belakangan masuk Islam seperti Abu Sufyan dan Ikrimah, mereka mengejar ketertinggalannya dan tidak mau kalah dengan sahabat yang terlebih dulu masuk Islam, sehingga mereka akan mendapatkan kemuliaan yang sama. Misalnya, mereka berinfak dua kali lipat dari sahabat yang lain.   

Keempat: Mengatur waktunya dengan baik. Pemilik himmah ‘āliyah adalah mereka yang menginvestasikan hidupnya sehingga memiliki manfaat kebaikan yang berlipat-lipat. Mereka yang menggunakan usianya dalam ketaatan kepada Allah dan agama-Nya. Mereka yang merencanakan waktunya secara tepat dan efektif untuk merealisasikan tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah.  

Semoga Allah swt. memudahkan kita dalam meneladani mereka. Sehingga kita termasuk orang-orang yang memiliki himmah ‘āliyah. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaSEMANGAT DALAM KEBAIKAN SesudahnyaMANAJEMEN WAKTU

Berita Lainnya

0 Komentar