MENYUSURI PANTAI TIGA WARNA
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MENYUSURI PANTAI TIGA WARNA

Terbit 16 July 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hikmah / Motivasi / Ustadz Uril
MENYUSURI PANTAI TIGA WARNA

Bersama lebih dari seratus orang kami hidup bareng dengan suara ombak pantai selatan kabupaten Malang. Kehadiran kami di pantai itu bukan sekedar bersenang-senang untuk melepas lelah karena setumpuk pekerjaan yang tak pernah selesai, namun karena panggilan suci untuk melatih diri ingin menjadi manusia yang lebih berarti dalam kehidupan ini. Selama tiga hari kami harus belajar menjadi manusia yang lebih berkualitas, dapat memberi kontribusi yang lebih banyak lagi kepada masyarakat.  

Selama tiga hari, kami mengikuti program Kemah Bhakti Nusantara Lanjutan 1 yang diadakan oleh KP3M, yaitu sebuah LSM di Malang yang bergerak di bidang pemberdayaan potensi pemuda. Kegiatan kemah itu adalah salah satu dari kegiatan rutin LSM sebagai sarana untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anggotanya. Sebagaimana layaknya orang bergabung dalam sebuah organisasi, dan karena sudah meniatkan diri untuk bergabung di dalamnya, maka kami harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti seluruh rangkaian program yang telah dicanangkan.  

Kegiatan kemah bhakti ini juga bukan yang pertama kali kami ikuti, kegiatan kemah seperti ini rutin dilakukan tahunan. Untuk kali ini dan untuk yang pertama kali dilakukan di pantai, tepatnya tenda kami berdiri di tepi pantai Ungapan kabupaten Malang.   Hari Jumat dini hari sekitar jam 01.00 kami mulai tidur di atas sebuah matras kecil tanpa bantal. Sesekali kami dibangunkan oleh binatang-binatang kecil pantai, seakan-akan mereka ingin mengajak kami bermain, senang mendapatkan teman baru yang sebelumnya belum mereka kenal. Obat anti nyamuk oles yang telah kami siapakan akhirnya bermanfaat untuk mengusirnya.  

Selepas sahalat subuh, setelah usai mendengarkan tazkirah dari salah seorang peserta dan membaca zikir pagi bersama, kami berkemas-kemas menuju pantai yang berpasir, untuk mengikuti agenda senam pagi, tes kebugaran dan upacara pembukaan. Dalam suasana panas yang terik dan perut yang keroncongan, semua peserta mengikutinya dengan senang karena dalam kegiatan seperti ini memang kami sedang dilatih untuk menurunkan ego pribadi dan mengedepankan kepercayaan kepada pimpinan. Rupanya panitia juga tidak tega membiarkan peserta kelaparan, sebelum upacara pembukaan dimulai mereka mengirim buah semangka dan pohong kukus untuk para peserta.  

TADABUR ALAM

Diantara rangkaian kegiatan hari pertama yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar peserta adalah agenda menyelam di pantai tiga warna. Meskipun harus dilalui dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 5 kilometer pulang-pergi, para peserta dapat menikmati indahnya laut selatan, berbagai model batu karang yang tumbuh sangat menakjubkan itu, maha suci Allah yang telah menciptakannya. Permainan kami bersama ikan pantai tiga warna yang berwarna-warni itu membuat beberapa goresan kecil batu karang yang mengenai tubuh ini tidak terasa. Selama dua jam lebih kami berkejar-kejaran bersama sesama makhluk Allah yang hidup di lautan. Sebuah kenangan yang luar biasa.  

Pada saat kami memasuki area pantai tiga warna, yang memang pantai itu memiliki keindahan tersendiri dari warna airnya yang bermacam-macam, kami menemukan pemandangan yang belum pernah kami temukan sebelumnya. Saat di pintu gerbang kami harus menjalani pemeriksaan, yang ingin dideteksi bukan bahan peledak atau senjata tajam sebagaimana ketika masuk bandara, namun untuk kali ini yang harus dicek adalah barang bawaan peserta yang akan menjadi sampah, mereka ingin memastikan bahwa sampah itu tidak boleh dibuang di seluruh area lokasi pantai, namun harus dibawa kembali dan diserahkan kepada petugas pantai. Jika diantara peserta ada yang meninggalkan sampah alias tidak dapat menunjukkan kembali sampah yang telah didaftar sebelumnya, maka setiap sampah yang ditinggal dikenakan denda 100 ribu rupiah. Luar biasa, ternyata dengan cara seperti itu kebersihan pantai dapat terjaga dengan baik.  

Pada saat para peserta usai menyelam, kemudian mereka pergi ke kamar mandi untuk bilas dan ganti baju. Ternyata, kami juga dilarang memakai sabun, sampo atau semacamnya untuk membersihkan badan, semua itu tujuannya juga untuk menjaga pantai dari pencemaran. Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya dengan penuh manfaat dan tidak sia-sia. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaKisah Inspiratif Anak Muda Lulusan UGM yang Memilih Jadi Petani SesudahnyaTerjerat Sampah Plastik, 160 Kura-Kura Terluka dan Puluhan Lainnya Mati

Berita Lainnya

0 Komentar