MENUMBUHKAN TSABAT PADA KEBENARAN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MENUMBUHKAN TSABAT PADA KEBENARAN

Terbit 20 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / Kisah Nabi / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
MENUMBUHKAN TSABAT PADA KEBENARAN

Ketika kita sudah berada pada posisi yang benar dan telah meyakini bahwa jalan yang kita tempuh akan mengantarkan kepada tujuan yang kita cita-citakan, maka tidak ada kata lain kecuali kita harus tetap berpihak kepada jalan kebenaran itu. Memang, seringkali jalan itu tidak mulus, bahkan banyak rintangan dan hambatan, namun jika kita tetap ingin sukses sesuai dengan keyakinan awal, sebesar apapun hambatan dan rintangan itu menghadang, harus selalu disikapi dengan tetap berpihak dan komitmen kepada kebenaran tersebut, yang dalam al Quran dikenal dengan istilah tsabat.  

Tsabat adalah sikap seorang muslim dalam hidupnya di dunia ini untuk tetap berada pada jalur yang benar dalam menuju tujuan dan cita-citanya, rela berkurban untuk kebenaran yang diperjuangkan dan komitmen dengan prinsip-prinsip serta sistem yang telah ditetapkan oleh Islam hingga akhir kehidupannya (QS Ibrahim:27). Istilah lain yang memiliki makna yang sama dengan tsabat adalah ṣidq atau jujur (QS Al Ahzab:23), istiqamah (QS Fuṣṣilat:30) dan juga sabar. Semuanya menunjukkan makna dan tujuan yang hampir sama, yaitu mengantarkan manusia tetap dalam kebenaran sampai akhir kehidupannya.  

Tidak sedikit kita jumpai dalam kehidupan ini, orang-orang yang kemaren berada dalam kebenaran, namun sekarang sudah tidak berpihak lagi kepadanya. Semangatnya untuk ber-Islam menjadi meredup bahkan mati. Karena itu, sikap tsabat adalah sebuah keniscayaan yang kita perlukan di tengah-tengah kehidupan yang selalu menarik kepada kemaksiatan. Lebih dari itu, akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah adalah cita-cita semua orang. Untuk bisa sampai kepadanya tidak ada jalan lain kecuali dengan tsabat. Itulah rahasia perintah Rasulullah saw. agar kita selalu berdoa: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami dalam agama-Mu”.  

Tsabat

Ada beberapa prinsip yang dapat membantu kita tetap berada pada kebenaran dan dapat menguatkan hati kita untuk tetap berpihak kepadanya, diantaranya:  

Pertama: Menyakini kebenaran yang kita perjuangkan. Prinsip yang paling penting dalam menumbuhkan dan menjaga sikap tsabat adalah keyakinan kita akan kebenaran dan kesempurnaan Islam yang kita perjuangkan, yakin akan kebenaran prinsip-prinsip aqidah yang menjadi landasan perjuangan kita, dan  yakin akan kebenaran jalan dakwah yang kita tempuh. Tidak peduli dengan berapa jumlah orang yang melalui jalan itu, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pengikut. Bukankah al Quran telah mengabarkan bahwa pengikut dakwah nabi Nuh as jumlahnya tidak banyak.  

Dalam waktu 950 tahun berdakwah, nabi Nuh hanya mendapatkan 12 orang pengikut saja. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa ada nabi yang pengikutnya hanya terdiri dari 3 orang, 2 orang dan 1 orang saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Apakah dengan sedikitnya jumlah pengikut itu menunjukkan bahwa ajaran para nabi itu tidak benar? Tentunya tidak.  

Kedua: Memiliki keterikatan yang kuat dengan al Quran. Melalui sejumlah cara interaksi kita dengan al Quran, mulai dari membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkan, akan membantu kita untuk tetap komitmen dalam kebenaran yang kita yakini. Dengan berinteraksi dengan al Quran, kita akan menemukan kisah-kisah para nabi dengan ke-tsabat-an mereka dalam kebenaran yang diperjuangkan, meskipun mereka harus menghadapi berbagai ujian dan fitnah (QS Ali Imran: 146). Hal itu akan semakin mengokohkan hati dan pendirian kita untuk tsabat.  

Ketiga: Memohon tsabat dari Dzat menganugerahkannya. Karena tsabat itu adalah nikmat dan karunia dari Allah. Dengan nikmat itu, Allah akan mengikat hati hamba-hamba yang dicintai-Nya dan mengokohkan langkah-langkah mereka (QS Al Isra’:74). Karena itu, mereka para nabi dan juga hamba-hamba Allah yang ṣalih selalu memohon tsabat kepada-Nya, utamanya dalam menghadapi hari-hari yang penuh dengan fitnah dan cobaan seperti saat ini. Contoh permohonan tsabat itu sebagaimana doa yang diajarkan oleh Allah:  

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS Ali Imran:147).  

Keempat: Bersahabat dengan orang-orang yang ṣalih dan dengan membaca kisah ke-tsabat-an mereka. Karena dengan bersahabat dengan mereka, akan terjadi saling tolong menolong dalam kebaikan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran serta hanya menyibukkan diri dengan hal-hal yang akan mendekatkan manusia kepada Allah (QS Al Kahfi:28).  

Kelima: Membentengi diri dengan tarbiyah dan pembinaan yang kokoh. Kisah tentang pentingnya pembinaan dan kaitannya dengan tsabat, telah jelas ditunjukkan oleh Allah pada perang Hunain, dimana jumlah pasukan Islam saat itu lebih banyak jika dibandingkan dengan peperangan sebelumnya, namun jumlah yang banyak itu justru mengundang kekalahan karena ketiadaan tsabat yang disebabkan kurang matangnya tarbiyah dan pembinaan. Sebagian besar pasukan perang Hunain hanya datang dalam bentuk fisiknya saja, sementara keterikatan mereka dengan dunia masih hinggap di hati mereka.   

Karena itu, tarbiyah dengan segala dimensinya, utamanya dimensi imaniyah (spiritual), ṡaqafiyyah (intelektual) dan da’awiyyah (operasional dalam berdakwah) harus selalu kita tanamkan pada diri kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu tsabat pada kebenaran Islam dan Iman serta jalan dakwah yang telah kita yakini hingga bertemu dengan-Nya kelak. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMEMAHAMI MAKNA TAWAKKAL SesudahnyaSYARAT KEMENANGAN ITU ADALAH TSIQOH

Berita Lainnya

0 Komentar