Menjaga Sebuah Amanah
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Menjaga Sebuah Amanah

Terbit 1 February 2020 | Oleh : Mimin | Kategori : Artikel / Hadits / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
Menjaga Sebuah Amanah

Amanah x Khiyanah

Sutau ketika dalam sebuah perjalanan dari Makkah ke Jeddah, seorang kawan yang menjemput kami bercerita bahwa dia baru saja pulang dari liburan di Turki, dia kagum dengan perkembangan negera itu yang sangat cepat, hingga dia mencari tahu rahasia kesuksesan pemimpinnya dalam mengelola negara. Salah satu rahasia yang dia ceritakan kepada kami bahwa pemimpin Turki itu ketika ditanya, jawabannya: “ana lā asriq” atau “saya tidak korupsi”. Dengan kata lain, pemimpin itu memiliki sifat amanah.

Sebelum diutus sebagai Rasul, Muhammad kecil adalah sosok yang dikenal amanah oleh kaumnya, masyarakat Quraisy. Karena itu, tidak segan-segan mereka menyematkan gelar al amin pada diri beliau yang mulia. Bukan hanya gelar yang disematkan, namun mereka juga telah memberikan kepercayaan itu kepada baginda nabi Muhammad saw., dengan menitipkan harta benda mereka kepada Muhammad tatkala mereka tinggal pergi berniaga ke luar negeri. Sifat amanah itu menjadi modal dasar utama untuk menunaikan tugas mulia beliau, membangun peradaban baru manusia.

Salah satu sifat mulia yang harus dimiliki oleh setiap mukmin adalah amanah. Amanah itu adalah sikap menahan diri seseorang dari segala sesuatu yang tidak terkait dengannya. Amanah itu adalah sikap menunaikan segala sesuatu yang sudah ditugaskan kepadanya untuk dikerjakan dengan profesional. Amanah itu juga menjaga dan bertanggung jawab terhadap hak orang lain untuk ditunaikan dengan sempurna tanpa mengurangi sedikitpun atau menyelewengkannya.

Dengan amanah, akan mengantarkan seseorang untuk sukses dalam kehidupannya. Amanah itu adalah jalan manusia menuju sukses dunia dan akhirat. Keseuksesan utama yang akan didapatkan oleh seseorang karena amanah ini adalah sukses akherat dengan masuk surga Firdaus yang paling tinggi derajatnya diantara tingkat surga yang lain (QS Al Mukminun:8-11).

Amanah itu adalah merupakan sifat utama para nabi dan rasul yang telah diutus oleh Allah kepada manusia. Dalam surat as Syu’arā’, sifat yang paling ditonjolkan oleh Allah dari para nabi dalam rangka sukses menunaikan tugas dakwahnya adalah sifat amanah. Baik nabi Nūh, Lūth, Hūd, Ṣālih dan nabi Syu’aib dalam ayat-ayat itu memiliki sifat yang sama, yaitu:

“Sesungguhnya saya adalah rasul terpercaya buat kalian” (QS as Syu’ara’: 107, 143, 162, 178). Raja Heraklius, ketika mau melihat kebenaran risalah yang dibawa oleh Muhammad saw., salah satu yang ditanyakan kepada Abu Sufyan -yang saat itu masih kafir- adalah tentang amanah, karena itu adalah sifat para nabi.

Amanah itu adalah ciri orang yang beriman. Rasulullah saw. bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sifat orang mukmin?, jika diserahi kepercayaan, dia amanah”

(HR Ahmad).

Bahkan iman dan amanah itu bagaikan dua sayap seorang mukmin, tidak akan sempurna seorang mukmin kecuali jika telah memakai dua sayap itu. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak sempurna keimanan jika tidak ada amanah, dan tidak sempurna agama seseorang jika tidak ada komitmen dengan perjanjian”

(HR Ahmad).

Orang yang memiliki sifat amanah adalah orang yang paling berhak memikul tanggung jawab. Cerita puteri nabi Syu’aib yang memohon kepada ayahnya untuk mempekerjakan Musa itu juga karena sifat amanh. Allah berfirman:

“Wahai ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya”

(QS al Qaṣaṣ:26).

Amanah yang telah dibebankan oleh Allah kepada manusia ini sangat banyak, mulai dari amanah menjaga aqidah tauhid, karena Allah telah mengeluarkan manusia untuk pertama kalinya di dunia ini dalam kondisi ber-tauhid. Amanah lain adalah amanah dakwah, tugas mengajak orang lain kepada kebaikan adalah amanah yang telah dibebankan kepada kita baik melalui firman Allah (QS Ali Imran:110), maupun melalui lisan nabi Muhammad saw.

Tubuh kita dengan segala kesempurnaannya ini juga merupakan amanah dari Allah, harus benar-benar hanya ditundukkan untuk kepentingan beribadah kepada Allah semata. Mata adalah amanah, hanya boleh digunakan untuk kebaikan (QS an Nūr:30-31), dan untuk melihat hal-hal yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain (QS al Ghasyiyah:17-20).

Lisan juga amanah, harus dijaga dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, mulai dari berkata bohong, ghibah, adu domba dan menghina orang lain. Masih banyak lagi amanah yang sesungguhnya telah kita pikul di dunia ini, seperti amanah harta, keluarga, anak, istri, tetangga, teman sejawat, organisasi, profesional kerja dan lain sebagianya, yang semuanya itu menuntut agar kita tunaikan dengan sempurna. Jika tidak, maka berarti kita telah mengingkarinya atau khiyanat terhadap amanah tersebut, dan khiyanat itu adalah sifat yang dibenci oleh Allah.

Semoga Allah swt. selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menunaikan segala amanat yang telah dibebankan kepada kita dengan sebaik-baiknya, hingga ridha-Nya dan kesuksesan masuk surga di akhirat kelak menjadi bagian kita. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMengokohkan Ukhuwah Islamiyah SesudahnyaMeneladani Itsar Para Sahabat

Berita Lainnya

0 Komentar