MENGUKUR KUALITAS DIRI SENDIRI
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MENGUKUR KUALITAS DIRI SENDIRI

Terbit 1 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hikmah / Motivasi / Tadzkiroh / Ustadz Uril
MENGUKUR KUALITAS DIRI SENDIRI

Memulai perkuliahan semester ganjil 2016/2017 pada tahun ini, sebagaimana juga pada perkuliahan perdana pada semester-semester sebelumnya, selalu saya mulai dengan materi tentang evaluasi diri dan bagaimana mengukur sebuah capaian. Tujuan saya menyampaikan materi sederhana ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri dan juga para mahasiswa tentang posisi masing-masing, sudah sampai dimana perjalanan kehidupan kita, utamanya yang terkait dengan sisi akademik, karena memang kita semua berada dalam dunia akademik itu. Selanjutnya agar kita semua bisa menata kembali langkah-langkah strategis berikutnya, melanjutkan kesuksesan yang telah kita raih dan mengejar ketertinggalan dari hal-hal yang belum kita dapatkan.  

Untuk menilai atau mengukur diri manusia, sesungguhnya yang paling dapat menilai dengan sangat valid dan tidak akan salah sama sekali adalah jika penilaian itu datangnya dari Allah swt. Namun, selain penilaian dari Allah, penilaian yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri sesungguhnya memiliki validitas yang tinggi pula, karena memang manusialah yang paling mengetahui kondisi dirinya sendiri dan bukan orang lain. Karena itulah Umar bin Khattab pernah berkata: “hisahlah dirimu sendiri sebelum dihisab oleh Allah”. Dalam hal ini Umar bin Khattab tidak menyuruh orang lain untuk menilai diri kita, tapi diri kita sendiri yang disuruh untuk itu sebelum nantinya penilaian itu dilakukan oleh Allah.  

Penilaian yang dilakukan oleh orang lain, meskipun katanya lebih objektif, sesungguhnya orang lain itu hanya dapat menilai hal-hal yang secara dzahir kelihatan oleh kasat mata. Banyak sekali hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh orang lain dari diri kita, seperti bagaimana situasi hati, motivasi dan kecenderungan kita, yang dapat mengetahui dengan lebih objektif hanyalah diri kita sendiri. Karena itu, patut kita renungkan mengapa Rasulullah saw. pernah memerintahkan kepada kita untuk meminta fatwa kepada hati kita sendiri dalam menilai baik atau buruknya sesuatu. Memang hati mansusia itu sendiri yang bisa menilainya dengan objektif.  

Lebih dari itu, untuk mempermudah manusia mengukur dirinya, kejelasan tujuan adalah merupakan sarana yang paling efektif untuk melakukan evaluasi. Bagaimana mungkin kita dapat mengetahui posisi kita dalm kondisi sukses atau tidak, jika tidak ada tujuan yang dapat kita jadikan sebagai acuan dalam penilian. Seorang mahasiswa yang telah menentukan tujuannya, misalnya dalam waktu setahun dia harus bisa menulis lima makalah dengan menggunakan bahasa Arab, ketika pada akhir tahun yang ditentukan dia baru bisa menulis tiga makalah saja, maka dalam hal ini dia dengan mudah dapat menilai dirinya bahwa dia belum sukses, karena masih dua makalah lagi yang belum dapat diselesaikan.  

Motivasi

Bandingkan dengan mahasiswa lain yang tidak membuat tujuan atau target apapun selama satu tahun berjalan, kemudian di akhir tahun dia diminta untuk menilai dirinya. Sudah barang tentu dan pasti dia tidak akan dapat mengatakan bahwa dirinya gagal dan tidak pula dapat menyebut dirinya telah sukses. Karena itu, sebelum terlambat, hendaknya dalam setiap masa terterntu dalam kehidupan kita, apakah setiap satu tahun atau dua tahun, seyogyanya kita dapat menentukan suatu tujuan atau target tertentu, sehingga kita dapat mengukur diri kita dengan mudah.  

Dengan tujuan yang jelas pula, kita akan menjadi lebih bersemangat untuk menyelesaikan target-target yang telah kita tentukan, karena target dan tujuan itu selalu hadir di depan mata dan menuntut kita untuk segera menyelesaikannya. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki tujuan akan memaksa dirinya untuk berusaha dan mencari cara yang terbaik agar dapat mencapai tujuannya. Seandinya tujuannya adalah menulis makalah berbahasa Arab, maka dia akan memaksa dirinya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan mencoba terus menerus untuk menulis makalah tersebut. Dia akan terus termovifasi sebelum pada akhirnya dia dapat menulis makalah bahasa berbahasa Arab.  

Lain halnya dengan orang yang tidak punya target atau tujuan, dia akan dapat tenang tidur nyenyak tanpa beban apapun. Tidak ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera bangkit dan bekerja, bahkan bisa jadi justru akan menjadi penyakit bagi kawan-kawannya yang lain. Memang, mereka akan hidup dengan tanpa beban apapun, mungkin juga mereka menikmati kehidupannya yang santai dan nyaman, namun jelas tidak ada manfaat dari kehidupannya kecuali hanya makan enak dan tidur nyenyak untuk dirinya sendiri saja.   

Tentunya kita tidak ingin menjadi orang yang tidak memberi manfaat anatu kontribusi positif buat orang lain. Semboyan kita adalah sabda Rasulullah saw. “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”. Untuk itu perlu adanya target dan tujuan yang jelas, sehingga kita dapat mengukur kesuksesan dan memotivasi diri kita untuk selalu berusaha dan bekerja menjadi orang-orang yang terbaik. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaPINTU-PINTU MENUJU RABBANI SesudahnyaKESEMPURNAAN ZIKIR

Berita Lainnya

0 Komentar