Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah

Terbit 31 January 2020 | Oleh : Mimin | Kategori : Artikel / Ustadz Uril
Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah

Salah satu pilar utama bangunan masyarakat muslim adalah ukhuwah. Karena itu, kokohnya pilar ini menjadi perhatian Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. saat membangun masyarakat Islam di Madinah. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dengan kaum Anshor, penduduk asli Madinah. Ukhuwah yang dibangun oleh Rasulullah berbeda dengan persaudaraan keluarga atau ikatan pertemanan lainnya. Ukhuwah yang dimaksud disini dibangun di atas landasan Iman dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala., sehingga yang menyatukan mereka dalam ukhuwah ini adalah simpul aqidah dan kesamaan dalam berpegang teguh dengan tali Allah Subhanahu Wa Ta’ala . (Al Hujurat:10).

Sebagai contoh praktek dari ukhuwah Imaniyah itu adalah kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’ yang telah dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. Suatu hari Salaman mengunjungi rumah saudaranya Abu Darda’. Di sana Salman mendapati Ummu Darda’ berwajah cemberut, kemudian Salman bertanya kepadanya: “Ada apa wahai Ummu Darda’?”, “saudaramu Abu Darda’ tidak lagi menginginkan dunia”, jawab Ummu Darda’. Kemudian datanglah Abu Darda’ dan mempersilahkan makan, seraya berkata: “Saya lagi puasa”. Salman menjawab: “Saya tidak akan makan sebelum engkau makan”. Kemudian setelah itu Abu Darda’ mau makan.

Pada malam harinya menjelang tidur, Abu Darda’ berdiri untuk shalat malam, dicegah oleh Salman seraya berkata: “Tidurlah”. Kemudian tidur sebentar dan setelah itu bangun lagi untuk shalat. Ditegur lagi oleh Salman: “Tidurlah”, kemudian tidur lagi. Di akhir malam, Salman membangunkannya seraya berkata: “Sekarang saatnya untuk shalat”. Ketika kisah itu sampai kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam., beliau berkata: “Betul, apa yang dilakukan oleh Salman”.

Ukhuwah Imaniyah ini dibangun di atas landasan Iman yang tujuannya adalah saling tolong menolong dalam merealisasikan kebaikan serta saling memberi dan menerima nasehat. Keterikatan mereka bukan hanya saat di dunia ini saja, namun berlanjut hingga di akhirat kelak. Pada saat semua jenis persahabatan telah bercerai-berai, ikatan ukhuwah Imaniyah ini saja yang masih tetap kokoh abadi (Az Zukhruf:68). Ukhuwah ini juga merupakan ikatan hati dan perpaduan jiwa, bukan perkumpulan untuk mencapai kepentingan materi duniawi.

Sarana penopang kokohnya ukhuwah ini adalah nilai-nilai keimanan yang telah diajarkan kan oleh Allah kepada manusia melalui Nabi agung Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ukhuwah ini mengharuskan antar kaum muslimin untuk menebar salam dan saling menunjukkan wajah berseri. Ukhuwah Imaniyah ini menuntut adanya ungkapan tulus “aku mencintaimu karena Allah” antara sesama muslim. Ukhuwah ini akan semakin kokoh jika disiram dengan sikap saling memberi hadiah, saling mengunjungi dan saling mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Ukhuwah ini juga menganjurkan kepada kita untuk saling merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita, ikut bahagia karena saudara kita bahagia dan ikut sedih karena saudara kita mendapat musibah.

Diantara pilar-pilar lain yang dapat mengokohkan ikatan ukhuwah ini adalah adanya sikap husnudz dzan atau baik sangka antar sesama saudara. Jika ada perilaku yang kita pandang salah dari saudara kita, maka kita harus pandai mencarikan 1001 alasan agar perilaku saudara kita itu tidak menjadi aib atau kesalahan baginya, bukan malah menguatkan kesalahan tersebut dan menebarkannya. Kekuatan doa kebaikan untuk saudara kita juga merupakan pilar utama untuk mengokohkan tali ukhuwah Imaniyah ini, lebih-lebih lagi jika saudara yang kita doakan tidak mengetahuinya. Doa yang demikian itu efek positifnya akan kembali kepada kita karena doa itu akan di-amin-kan oleh Malaikat.

Ukhuwah Imaniyah ini akan terganggu kemesraannya jika muncul kepentingan duniawi yang akan mengantarkan kepada timbulnya sifat dengki, iri hati dan memenangkan diri. Dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan juga akan perpengaruh terhadap turunnya kualitas ukhuwah kita. Demikian pula sikap berlebih-lebihan, akan mengganggu kokohnya ikatan ukhuwah kita. Saling mengunjungi itu dianjurkan, namun jika berlebih-lebihan, bisa berdampak negatif bagi ukhuwah. Demikian pula berlebih-lebihan dalam meberi pujian, menyintai, berdebat, bergurau dan lain sebagainya.

Dalam aktifitas mengajak manusia kepada kebaikan atau yang biasa disebut dengan dakwah, ukhuwah Imaniyah ini sangat diperlukan. Agar proyek dakwah itu dapat berjalan dengan baik, maka para pelakunya harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai ukhuwah, seperti saling meminta pendapat dalam melakukan suatu aktifitas yang terkait dengan dakwah, dan tidak berjalan sendiri meskipun ia telah yakin dengan aktifitasnya itu akan menghasilkan kebaikan. Sikap saling memberikan kepercayaan sesama pelaku atau kelompok pelaku dakwah juga dibutuhkan, demikian juga pengorbanan baik harta maupun tenaga. Nilai-nilai ukhuwah tersebut sangat diperlukan karena proyek dakwah yang besar itu tidak mungkin dapat dikerjakan oleh sekelompok orang saja.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala. memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat menjalin tali ukhuwah diantara kita sesama muslim, sesama aktifis dakwah dan sesama organisasi dakwah. Agar bangunan masyarakat muslim menjadi semakin kokoh dan betul-betul kita dapat menyaksikan bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang menyamainya. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaBerikut Hasil Penelitian tentang Pola Makan yang Diajarkan Rasulullah SesudahnyaMenjaga Sebuah Amanah

Berita Lainnya

0 Komentar