Meneladani Itsar Para Sahabat
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Meneladani Itsar Para Sahabat

Terbit 2 February 2020 | Oleh : Mimin | Kategori : Artikel / Hadits / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
Meneladani Itsar Para Sahabat

Itsarnya Para Sahabat

Ketika Abdurrahman bin ‘Auf sampai di kota Madinah, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. mempersaudarakannya dengan salah seorang sahabat Anshar bernama Sa’d bin Ar Rabi’. Persaudaraan atau taākhi ini adalah agenda kedua yang dicanangkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. setibanya di kota Madinah, setelah sukses membangun masjid Quba’ yang merupakan agenda pertamanya. Diantara tujuan program taākhi ini adalah untuk menghilangkan sekat-sekat antara kaum muslimin yang datang dari Makkah (Muhajirin) dan kaum muslimin penduduk asli kota Madinah (Anshar), disamping tujuan-tujuan yang lain seperti masalah ekonomi, tempat tinggal dan lain sebagainya.

Sebagaimana sahabat-sahabat lainnya yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam., Abdurrahman bin ‘Auf sekarang telah memiliki saudara baru yang disatukan dalam keimanan dan bukan karena hubungan kerabat atau nasab. Suatu hari Sa’d bin Ar Rabi’ mengajak Abdurrahman bin ‘Auf berbincang-bincang, seraya mengatakan:

“Wahai saudaraku, aku termasuk orang yang paling kaya di kota ini, aku ingin membagi harta kekayaanku menjadi dua, satu bagian untukku dan satu bagian lagi untukmu. Aku juga punya dua orang istri, mana diantara keduanya yang engkau suka, akan kuceraikan dia dan seletah selesai masa iddahnya, engkau bisa menikahinya”.

Mendapat tawaran dari saudaranya, Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan:

“Saya tidak membutuhkan itu semua, kalau ada, saya hanya ingin ditunjukkan dimana letaknya pasar yang ada aktivitas jual beli, saya ingin berdagang”,

maka ditunjukkanlah ke sebuah pasar di kampung Qainuqā’.

Abdurrahman bin ‘Auf pun mulai berdagang hingga memiliki keuntungan dan kekayaan yang banyak dan menikah dengan salah seorang wanita Ansar. Itulah protret Itsar yang ditunjukkan oleh dua sahabat Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam., Sa’d bin Ar Rabi’ dan Abdurrahman bin ‘Auf, yang diabadikan oleh Allah dalam al Quran surat Al Hasyr:9.

Itsar adalah salah satu dari akhlak mulia kaum muslimin, yaitu sikap mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri dalam urusan dunia dalam rangka memperoleh kebaikan di akhirat kelak. Barang siapa yang dapat sampai pada sifat Itsar ini, berarti dalam berukhuwah dia telah mencapai posisi atau tingkat yang paling tinggi. Itsar yang kebalikan dari kikir itu adalah bukti keimanan seseorang, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Untuk membentuk tatanan masyarakat muslim yang baik, sikaf itsar ini perlu ditanamkan dan direalisasikan dalam kehidupan nyata. Karena dengan itsar, kaum muslimin akan saling mencintai dan memberikan kemudahan antara sesama mereka. Untuk menyelesaikan berbagai macam konflik di masyarakat, sikap ῑṡar juga akan menjadi sarana yang efekti, karena biasanya konflik itu terjadi disebabkan karena masalah materi dan kepentingan duniawi. Bagi para da’i atau penyeru kepada kebaikan, sifat ῑṡar dapat membantu mereka dalam rangka menarik hati dan simpati objek dakwah yang pada akhirnya akan mendukung dan mengikuti kebaikan yang diserukan.

Dalam kajian yang lebih luas, sesungguhnya Itsar tidak terbatas pada sikap mendahulukan orang lain dalam urusan dunia semata. Sikap memilih ridha Allah daripada keinginan manusia adalah Itsar juga. Mengutamakan kepentingan akhirat daripada dunia, menurut al Quran juga termasuk dalam kategori Itsar (QS Al A’la:16-17). Mengikuti kebenaran dan mengalahkan hawa nafsu juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Itsar (QS Thaha:72).

Dalam prakteknya, Itsar tidak boleh dilakukan jika berdampak pada perilaku yang dilarang atau diharamkan, seperti dengan memberikan sebagian harta kita kepada orang lain akan membuatnya malas bekerja dan mencari nafkah. Itsar juga tidak boleh dilakukan jika terkait dengan masalah ibadah, seperti mengutamakan orang lain untuk menempati shaf pertama dalam shalat berjamaah, sementara kita cukup di belakang saja. Ῑṡar juga tidak boleh dilakukan jika mengakibatkan terjadinya kedzaliman, seperti mengutamakan duduk berlama-lama bersama orang lain dalam rangka mengajaknya kepada kebaikan, padahal bisa dibuat lebih efektif.

Diantara hal-hal yang dapat mengantarkan kita kepada sifat Itsar dengan mudah adalah kekuatan iman yang ada dalam diri kita, karena iman adalah motivator utama untuk melakukan kebaikan, semakin kokoh keimanan seseorang, semakin mudah melakukan kebaikan yang diantaranya adalah Itsar. Disamping itu, kebersihan hati dari penyakit dengki, sikap zuhud terhadap dunia, yakin dengan baiknya segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah dan selalu ingat bahaya perbuatan kikir, adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam rangka merealisasikan sifat Itsar.

Tidak lupa pula kita selalu berdoa dan memohon kepada Allah, agar senantiasa kita dimudahkan untuk dapat merealisasikan sifat itsar ini, karena dengan demikian kita akan menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMenjaga Sebuah Amanah SesudahnyaLaporan Keuangan Per Januari 2020

Berita Lainnya

0 Komentar