MENANAMKAN SIKAP WASPADA
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MENANAMKAN SIKAP WASPADA

Terbit 22 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Kisah Nabi / Tadzkiroh / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
MENANAMKAN SIKAP WASPADA

Nabi Luth as., terpaksa harus meninggalkan kaumnya yang sudah keterlaluan dalam melanggar aturan Allah itu, melalui perintah-Nya: “Pergilah bersama keluargamu pada akhir malam, dan jangan ada seorangpun diantara kamu yang menoleh kebelakang kecuali istrimu” (QS Hud:81). Dalam ayat tersebut beliau diperintahkan oleh Allah untuk pergi di akhir malam agar tidak diganggu oleh kaumnya.   

Pada saat persiapan menjelang hijrah ke Madinah, Rasulullah saw. sempat resah dan tidak bisa tidur. Beliau juga sempat minta penjagaan dari para sahabatnya, hingga tertacat nama-nama yang secara bergantian menjaga keselamatan beliau diantaranya Sa’d bin Muadz, Muhammad bin Maslamah, Zubair, Abu Ayyub dan Dzakwan bin Abdul Qais. Sampai akhirnya Allah menurunkan ayat: “Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia” (QS Al Maidah:67).   

Peristiwa yang terjadi pada nabi Luth dan juga pada Rasulullah saw. di atas adalah merupakan bagian dari bentuk sikap waspada, menjaga diri, siap-siap dan selalu terjaga agar diri dan dakwah yang diembannya tidak diganggu oleh orang-orang yang membencinya. Dengan demikian, maka setiap muslim dalam kehidupan ini harus memiliki sikap waspada dari bahaya yang mengancam diri, keluarga, masyarakat dan negaranya, Lebih-lebih jika bahaya itu mengancam agama dan dakwah Islam, maka kewaspadaan harus lebih ditingkatkan lagi.  

Waspada

Untuk dapat menanamkan sikap waspada dalam diri setiap muslim, pertama: seorang muslim harus betul-betul memahami dan mengetahui sesuatu yang diwaspadai. Seorang muslim tidak mungkin memiliki sikap waspada dan bersiap-siap untuk akhirat jika dia belum mengetahui apa yang terjadi di akhirat kelak, jika belum mengetahui kekuasaan Allah swt yang maha dahsyat yang akan membangkitkan kembali manusia dan meminta pertanggungjawaban dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia. Apabila manusi telah memahami dengan baik, maka sikap waspada dan selalu bersiap diri itu akan terbangun dalam dirinya. Karena itulah Allah menegaskan bahwa yang akan takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah orang yang memiliki ilmu (QS Faṭir:28).  

Syarat kedua, agar seorang muslim dapat memiliki sikap waspada adalah dengan berusaha untuk segera bersiap-siaga. Pemahaman saja tidak cukup dapat membuat orang menjadi waspada jika tidak diteruskan dengan persiapan, yaitu menyiapkan segala sarana yang dibenarkan oleh Islam dalam rangka berjaga-jaga dan mempertahankan diri dari bahaya yang dilancarkan oleh pelaku kejahatan (QS Al Anfal:60). Dalam rangka menyiapkan diri untuk selalu waspada, Rasulullah juga memasang mata-mata yang disebar di bumi Makkah, ketika sampai berita kepada beliau bahwa orang kafir Quraisy telah melanggar poin-poin perjanjian Hudaibiyah, dengan mudah Rasulullah dapat mengetahuinya dan menyiapkan pasukan untuk melakukan penaklukan kota Makkah.  

Syarat ketiga adalah selalu dalam konsisi terjaga dan mengintai segala kemungkinan datangnya bahaya secara tiba-tiba. Hal ini telah digambarkan oleh Allah dalam kisah nabi Musa as., dimana tiba-tiba datang seorang laki-laki menyampaikan berita kepada nabi Musa, bahwa semua manusia telah melakukan konspirasi untuk membunuh nabi Musa, hingga dia menyarankan agar nabi Musa segera keluar dari kota tempat tinggalnya (QS Al Qaṣaṣ:20). Laki-laki itu tidak mungkin dapat memberi berita dengan benar dan terperinci jika dia tidak dalam kondisi terjaga dan mengintai segala sesuatu yang dilakukan dan sedang disiapkan oleh musuh dan para kompetitor.  

Beberapa ibadah yang disyariatkan dalam Islam, jika kita cermati, kita akan dapatkan sebuah pesan kewaspadaan dibalik pelaksanaan ibadah tersebut. Mengapa ada syariat shalat khauf? Agar kaum muslimin tetap dalam kodisi waspada dan siap-siaga. Mengapa tidak boleh berlebih-lebihan dalam mengagungkan para nabi dan orang-orang ṣalih? Agar kaum muslimin dapat terjaga dari polusi kesyirikan. Mengapa Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan, tidak berkhalwat dengan wanita yang bukan muhrimnya dan tidak berhias atau tabarruj? Agar kaum muslimin terjaga dari kotoran kemaksiatan. Mengapa Allah memerintahkan kaum muslimin untuk selalu berkata baik, berbaik sangka dan tidak bertengkar? Arab kesatuan ṣaf kaum muslimin tetap terjaga dengan baik.  

Kewaspadaan itu bukanlah ketakutan. Jika kewaspadaan sudah mengarah kepada ketakutan, maka hal itu adalah merupakan kewaspadaan yang berlebih-lebihan dan menjadi terlarang. Sebagaimana kisah ribuan orang yang lari dari kampung halaman mereka karena menghindari kematian yang akhirnya dimatikan oleh Allah juga (QS Al Baqarah:243).

Demikian pula tidak disebut waspada jika seseorang dengan alasan waspada kemudian berhenti dari aktifitas dakwah atau mengajak orang kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran. Kewaspadaan seorang muslim hendaknya selalu dikaitkan dengan kemaslahatan agama dan dakwah, bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMEMBANGUN KEBERSAMAAN SesudahnyaMENUAI HIKMAH DARI SETIAP LANGKAH

Berita Lainnya

0 Komentar