MEMBANGUN KETELADANAN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MEMBANGUN KETELADANAN

Terbit 20 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hikmah / Mu'amalah / Tips & Trik / Ustadz Uril
MEMBANGUN KETELADANAN

Ketika kita menyaksikan berbagai tayangan yang disajikan oleh media masa semacam televisi, sesungguhnya secara tidak langsung kita setiap hari dipaksa untuk melihat dan meneladani perilaku yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh atau bintang film  pada media tersebut. Anak-anak kita juga menjadi lebih mengenal dan meneladani tokoh-tokoh yang sering muncul pada acara-acara televisi daripada meneladani para sahabat dan salafuṣ ṣalih. Namun sangat disayangkan, ternyata keteladanan yang ditayangkan oleh media masa itu terlalu banyak yang bernuansa negatif atau bahkan semuanya mengajak kepada ketidakbaikan.  

Ketika anak-anak kita melihat acara kekerasan, maka pada saat itu mereka sedang belajar melakukan kekerasan. Ketika yang mereka saksikan adalah film yang menampilkan kemarahan, maka pada saat itu mereka sedang belajar marah. Jika mereka menikmati tayangan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya, maka pada saat itu sedikit demi sedikit, mereka sedang menghapus memori tentang pergaulan yang diajarkan oleh Islam. Dan seterusnya, ternyata seluruh menu yang disajikan tidak berpihak kepada penguatan nilai-nilai Islam dan keteladanan yang baik.   

Keteladanan atau dalam bahasa Arab disebut dengan qudwah memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian dan mengembangan potensi yang dimiliki oleh masing-masing pribadi dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya keteladanan juga akan dengan mudah dapat mendorong orang lain untuk melakukan kebaikan, bahkan rela berkurban demi terwujudnya kebaikan tersebut. Karena itu, Allah swt. selalu mengirim utusan untuk setiap kaum, tujuannya adalah agar utusan tersebut dapat menjadi tauladan bagi kaumnya dalam rangka mentaati Allah swt.  

Utusan itupun diutus dari kalangan manusia itu sendiri, agar memungkinkan untuk diteladani. Karena jika utusan dimunculkan dari kalangan malaikat misalnya, maka manusia mungkin banyak yang tidak mau mengikutinya karena jenis malaikat berbeda dengan jenis manusia. Dengan diutusnya rasul dari sesama manusia, hidup bersama masyarakat, makan dan minum serta bekerja bersama mereka, maka masyarakat akan dapat dengan mudah mengetahui nilai-nilai kebaikan yang datang dari Allah itu bisa dicontoh oleh mereka. Mereka juga akan berbondong-bondong -dengan ijin Allah- untuk menyambut dakwah yang dibawa oleh para nabi dan rasul mereka.  

Pentingnya Keteladanan

Sejarah mencatat, bahwa untuk tersebarnya Islam dikawasan Indonesia, Melayu dan Pilipina tidak perlu lagi menggunakan kekuatan pedang atau kekerasan. Begitu juga masuknya Islam di sejumlah kawasan di Afrika seperti Nigeria, Sinegal, Tanzania dan Somalia, juga tidak memerlukan kontak senjata. Masyarakat di kawasan itu dengan suka cita menyambut dakwah Islamiyah karena mereka melihat keteladanan dari para saudagar muslim yang datang berdagang, yang memiliki komitmen ke-Islaman yang tinggi, baik dari sisi aqidah, ibadah maupun muamalah. Para pedagang itu pada saat yang sama adalah para duta yang datang untuk berdakwah dengan menggunakan keteladanan akhlak dan pergaulan yang mulia.  

Dalam dunia pendidikan, keteladanan menjadi fokus utama yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik. Kesuksesan pendidik adalah ketika dia dapat menjadi tauladan dalam shalat berjamaah di masjid, menjadi tauladan dalam pelakukan sejumlah kebaikan yang diajarkannya kepada muridnya. Keberhasilan guru bahasa Arab adalah ketika dia memberi contoh dan keteladanan berbicara dengan menggunakan bahasa Arab. Karena itu, meneladani nabi Muhammad saw. dalam kehidupan ini, dan sebelumnya juga meneladani nabi Ibrahim as., adalah merupakan perintah yang tegas disebutkan oleh Allah dalam al Quran (QS Ali Imran:31). Demikian pula meneladani para rasul secara umum dan orang-orang yang baik adalah juga merupakan perintah dari Allah swt. (QS Al An’am:90).  

Menjadi juru dakwah yang pekerjaannya mengajak manusia kepada kebaikan harus selalu mengutamakan keteladanan dalam kehidupannya. Objek dakwah akan melihat dan meniru perilaku yang ditampilkan oleh para juru dakwahnya, mereka juga secara otomatis akan dapat menyadari kekurangan yang ada pada diri mereka ketika melihat keteladanan yang baik dari para juru dakwah.  

Dikatakan, bahwa “barang siapa yang tidak dapat memperbaiki kesalahan dirinya, maka dia tidak akan bisa memperbaiki kesalahan orang lain”. Maka seharusnya para pendidik dan para da’i menjadi tauladan bagi murid dan objek dakwahnya. Mereka perlu melihat dan meneladani gurunya bagaimana memiliki keimanan yang kuat, akhlak yang mulia dan perilaku yang baik. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaLANGKAH MENUJU ILMU (2) SesudahnyaBERDAKWAH DENGAN KETELADANAN

Berita Lainnya

0 Komentar