MEMBANGUN KEBERSAMAAN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MEMBANGUN KEBERSAMAAN

Terbit 21 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hikmah / Tadzkiroh / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
MEMBANGUN KEBERSAMAAN

Di dalam al Quran al Karim, tepatnya pada surat al Kahfi, ada kisah yang tidak kalah merariknya dengan kisah Ashabul Kahfi, yaitu kisah tentang seorang raja bernama Zulkarnain. Seorang yang telah diberi kekuasaan yang besar oleh Allah swt., dilengkapi dengan segala sesuatu yang mendukung untuk keberlangsungan kekuasaannya, mulai dari tentara yang kuat, peralatan perang yang lengkap dan peradaban yang tinggi. Karena itu, dia menjadi penguasa bumi pada zamannya, seluruh raja-raja yang ada di dunia pada saat itu tunduk kepada kekuasaannya (QS Al Kahfi:84).   

Meskipiun demikian, ada ungkapan menarik ketika dia mau membangun projek tembok pembatas, sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam al Quran, dia mengatakan: “Maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka” (QS Al Kahfi:95). Zulkarnain ternyata masih membutuhkan bantuan untuk membangun tembok, dia tidak bisa mengerjakan sendiri. Seakan-akan dia ingin mengungkapkan bahwa dia telah memiliki kekuatan materi dan gagasan, dan rakyatnya memiliki kekuatan tenaga, namun kekuatan materi dan gagasan saja tidak mungkin bisa merealisasikan sebuah tujuan jika tidak didukung dengan kekuatan tenaga dari rakyatnya.  

Itulah ungkapan al Quran yang sangat ringakas “maka bantulah aku dengan kekuatan”, namun memiliki makna yang sangat dalam. Ungkapan itu mengajarkan kepada kita bahwa untuk melakukan sebuah pekerjaan besar harus dengan menyatukan seluruh kekuatan dan potensi yang dimiliki, dengan membangun kebersamaan dan bukan malah mencerai-beraikannya. Masyarakat yang sukses adalah masyarakat yang dapat memobilisasi seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pemimpin yang cerdas dan sukses adalah pemimpin yang mampu merangkai seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya untuk merealisasikan tujuan yang diimpikan bersama.   

Together

Dalam sebuah komunitas, pasti diantara mereka ada yang memiliki kekuatan berfikir dan membuat konsep, dan mereka tidak akan mampu untuk merealisasikan konsepnya jika tidak didukung oleh kekuatan yang lain. Di sisi lain, ada diantara komunitas masyarakat itu yang hanya memiliki waktu dan tenaga, yang jika tidak ada konsep dan pemikiran, maka merekapun tidak mampu berbuat apa-apa. Koordinasi dan singkronisasi untuk membangun kebersamaan adalah kunci untuk mewujudkan cita-cita besar bersama.  

Betapa banyak saat ini di masyarakat muslim, kita saksikan potensi yang tidak tersalurkan, banyak kekuatan yang tidak terberdayakan, banyak anggaran yang tidak terserap dengan baik dan banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak pekerjaan yang hanya numpuk pada sebagian orang saja, sementara banyak sember daya manusia lain yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Sudah saatnya para pemimpin komunitas itu meniru manajemen Zulkarnain dalam membangun peradaban, mengoptimalkan seluruh potensi mereka dan selalu menjadikan semboyannya adalah “maka bantulah aku dengan kekuatan”.  

Kebersamaan adalah kebutuhan dasar manusia, maka ajaran Islam yang sangat memperhatikan masalah-masalah kemanusiaan, nilai-nilai yang diajarkan kepada pemeluknya adalah ajakan untuk membangun kebersamaan. Tidak sedikit ayat al Quran yang memerintahkan manusia untuk mewujudkan kebersamaan, demikian pula Rasulullah saw., yang diantaranya, beliau mengibaratkan kaum muslimin itu seperti satu bangunan yang kuat dan saling menguatkan. Shalat wajib juga lebih baik dilakukan dengan bersama-sama, bepergian juga sebaiknya dengan kebersamaan. Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seseorang dengan kebersamaan itu jauh lebih baik dari pada hidup menyendiri, meskipun dengan hidup bersama itu dia merasa tersakiti dan mengharuskannya untuk banyak bersabar.  

Bagi para da’i yang telah memproklamirkan diri sebagai penyeru kebaikan, kebersamaan ini sangat diperlukan. Meminta pendapat kepada sesama aktifis dakwah adalah suatu kemestian untuk membangun semangat kebersamaan. Bukankah Rasulullah saw., nabi yang telah terjaga dari kesalahan juga banyak meminta pendapat dari para sahabatnya? Bahkan dengan jelas hal itu diperintahkan oleh Allah dalam al Quran (QS Ali Imran:159), yang menurut Hasan Al Basri tujuanya bukan untuk mengambil pendapat dari mereka, namun untuk mengajarkan kepada mereka bahwa dalam musyawarah itu ada keberkahan dan agar umatnya mencontoh kebiasaan bermusyawarah tersebut.  

Dengan membangun kebersamaan, mereka para da’i juga akan saling menghormati pendapat diantara mereka. Hanya mengagumi pendapat pribadi dan mengabaikan pendapat orang lain adalah penyakit yang akan menghancurkan bangunan dakwah itu sendiri. Dengan membangun kebersamaan juga akan terwujud saling menasehati antara para da’i. Bukankan Rasulullah telah menerima pendapat Hubab bin Al Munzir pada perang Badar terkait dengan posisi pasukan yang tepat? Bukankan Rasulullah juga telah menerima nasehat dari Salman Al Farisi untuk menggali parit pada perang Khandaq?  

Sayangnya, realitas sementara yang terjadi antara para penyeru kebaikan, mungkin hanya karena perbedaan organisasi atau bahkan perbedaan sudut pandang dalam suatu masalah, mereka tidak mau menerima pendapat dari yang lain. Bahkan lebih disayangkan lagi, ada yang sampai menjelek-jelekkan saudaranya sesama da’i yang jelas-jelas memiliki misi yang sama, yaitu menyebarkan kebaikan Islam. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaJIDDIYYAH SesudahnyaMENANAMKAN SIKAP WASPADA

Berita Lainnya

0 Komentar