MEMAHAMI MAKNA TAWAKKAL
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

MEMAHAMI MAKNA TAWAKKAL

Terbit 19 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hadits / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
MEMAHAMI MAKNA TAWAKKAL

Dalam sebuah diskusi rutin dua pekanan, salah seorang peserta berbicara tentang bagaimana membangun kesuksesan dalam hidup ini. Dia bersemangat menyampaikan gagasannya bahwa untuk melakukan sebuah projek, harus dimulai dengan perencanaan yang matang, melalui mekanisme mamajemen yang terukur, dan tidak boleh hanya bermodal apa adanya. Selesai berbicara, kemudian giliran peserta lain berbicara, seakan-akan kurang setuju dengan konsep tersebut yang hanya mengandalkan kekuatan manusia semata, dia mengatakan: “Yang penting kita harus memulai dan berusaha, dan semuanya kita serahkan kepada Allah”.  

Dalam kehidupan ini, seringkali kita temukan manusia berada dalam dua kutub dalam bekerja atau berusaha. Pertama, adalah mereka yang terlalu mengandalkan kekuatan akal dan manajemen manusia, segala-galanya diukur dengan teori-teori dan perhitungan akal semata. Hingga seringkali melupakan Dzat yang Maha menguasai segala sesuatu yang ada di atas kita semua, yaitu Allah swt. Mereka yang berada pada kutub ini jumlahnya sangat besar. Kedua, adalah mereka yang dalam bekerja, dengan beralasan tawakkal, tanpa memperhatikan perencanaan apapun, hanya meyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Mereka yang berada pada kutub kedua ini jumlahnya memang tidak sebesar yang pertama.   

Islam mengajarkan kepada kita sebuah konsep istimewa yang disebut dengan tawakkal. Menurut Ibnul Qayyim, tawakkal itu adalah setengah dari agama, yang setengahnya lagi adalah ibadah. Tawakkal juga merupakan syarat sahnya keimanan (QS Al Maidah:23), orang yang beriman harus benar-benar memiliki keterikatan dengan Allah swt. Untuk mengimbangi dan meluruskan persepsi sebagian manusia yang terlalu mengedepankan kemampuan manusia semata dalam berusaha, konsep tawakkal yang benar perlu direalisasikan dalam kehidupan nyata, agar menjadi terapi bagi hati mereka yang terlalu terikat dengan materi belaka.  

Bagi aktifis dakwah, penyeru kepada kebaikan, dengan mempraktekkan konsep tawakkal yang benar, hambatan apapun yang akan ditemuinya di medan dakwah, akan dihadapinya dengan penuh optimis. Tidak terlalu bergembira dengan capaian yang dihasilkan, dan tidak terlalu bersedih karena ketidakberhasilan yang didapati. Semua yang ada adalah sudah menjadi sunnatullah, apabila tujuan dakwahnya adalah menolong agama Allah, maka kesulitan apapun dalam berdakwah, kita harus yakin bahwa Allah yang akan mengatasinya (QS Ali Imran:160).  

Tawwakkal

Rasulullah pernah mengabarkan bahwa ada 70 ribu dari umatnya yang akan masuk surga tanpa hisab, yang salah satu sifat mereka adalah tawakkal. Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa salah satu sifat penghuni surga adalah orang yang hatinya seperti hati burung. Burung adalah makhluk Allah yang sangat ideal dalam mempraktekkan tawakkal, hingga perlu dicontoh oleh manusia. Ia terbang berusaha kesana kemari untuk mencari nafkah, dan Allah-pun mencukupkan kebutuhannya. Namum, ia tidak pernah punya ide untuk membawa makanan pulang melebihi kebutuhannya, apalagi menimbunnya. Dengan demikian, tawakkal yang benar adalah salah satu dari sebab datangnya rizki dari Allah.  

Orang yang memiliki sifat tawakkal adalah orang yang dicintai oleh Allah, akan dilindungi dan dijaga serta dicukupkan oleh Allah swt (QS At Thalaq:3). Karena itu doa keluar rumah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kita adalah doa tentang tawakkal, agar betul-betul kita ingat bahwa perjalanan kita harus senantiasa dalam pengawasan Allah swt., bahkan ketika naik kendaraan-pun doa kita juga tawakkal. Meskipun secara manusiawi seluruh perangkat kendaraan kita sudah betul-betul siap untuk dijalankan, tetap saja kita harus ingat kepada Dzat yang segala sesuatu ada pada genggamannya.  

Pada saat Rasulullah saw. sedang melakukan persiapan perang Tabuk, para sahabat berlomba-lomba untuk menginfakkan hartanya. Umar datang dengan memberikan separuh dari hartanya, Abu Bakar datang dengan meinfakkan seluruh hartanya. Ketika ditanya oleh Rasulullah, “Apa yang engkau sisahkan buat keluargamu wahai Abu Bakar?”, Dia menjawab; “Sudah kutinggalkan bersama mereka Allah dan Rasulnya”.   

Komentar seorang mujahid di era penyebaran Islam ketika diajukan pertanyaan yang serupa, ada yang menjawab: “Tugas kita adalah menyambut panggilan Allah untuk berjihad di jalan-Nya, dan tugas Allah memberi rizki kepada keluarga kita”. Bahkan seorang istri yang ditinggal pergi berjihad oleh suaminya berkomentar: “Saya tahu suami saya orangnya suka makan, dan dia bukan pemberi rizki. Jika tukang makan pergi, yang tersisa adalah pemberi rizki”.  

Demikian indahnya kehidupan para sahabat dan salafus shalih dalam bertawakkal kepada Allah swt. Sehingga wajarlah jika masa mereka disebut oleh Rasulullah dengan sebaik-baik abad. Semoga Allah memudahkan kita untuk mncontoh mereka, utamanya dalam bertawakkal kepada Allah swt. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaDIALOG DENGAN AIR MATA TAUBAT SesudahnyaMENUMBUHKAN TSABAT PADA KEBENARAN

Berita Lainnya

0 Komentar