Keutamaan Malam Nisfu Syaban dan Cara Mendapatkannya
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Keutamaan Malam Nisfu Syaban dan Cara Mendapatkannya

Terbit 27 March 2021 | Oleh : Admin | Kategori : Fadhilah / Featured / Hadits / keutamaan / nisfu syaban / syaban
Keutamaan Malam Nisfu Syaban dan Cara Mendapatkannya


Malam nisfu syaban
ilustrasi (pinterest)


Banyak hadits-hadits dhaif bahkan maudhu’ tentang malam Nisfu Syaban. Namun ada pula hadits shahih yang menjelaskan malam Nisfu Syaban. Apa keutamaan malam Nisfu Syaban dan bagaimana cara mendapatkannya? Berikut ini hadits shahih dan penjelasannya.

Apa Itu Malam Nisfu Sya’ban?

Malam Nisfu Syaban adalah malam pertengahan bulan Syaban, yakni tanggal 15 Sya’ban. Tidak seperti kalender masehi yang tanggal baru dimulai pada tengah malam jam 00:00, kalender hijriyah memulai tanggal baru sejak matahari terbenam.

Jadi, malam Nisfu Syaban adalah malam 15 Syaban. Pada tahun 1442 hijriyah ini, malam Nisfu Syaban insya Allah jatuh pada Ahad malam Senin, bertepatan dengan tanggal 28 Maret 2021.

Malam Nisfu Syaban termasuk tema yang menimbulkan perdebatan di kalangan para ulama. Terutama soal kemuliaan dan menghidupkannya dengan ibadah. DR Abdul Ilah Bin Husain Al Afraj dalam buku Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih menjelaskan, sebagian salafush shalih seperti tabiin yang hidup di negeri Syam menyatakan malam Nisfu Syaban memiliki keutamaan. Maka mereka pun memuliakannya dan beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya.

Sebagian yang lain seperti tabiin yang hidup di negeri Hijaz tidak menetapkan keistimewaan apapun bagi malam Nisfu Syaban, sama seperti malam-malam biasa.

Yang menarik, Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ ash Shirati al Mustaqim menerangkan bahwa malam Nisfu Syaban memang memiliki keutamaan dan karenanya sebagian ulama salaf mengkhususkan malam itu dengan memperbanyak ibadah shalat.

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Banyaknya hadits dhaif dan maudhu’ seputar malam Nisfu Syaban termasuk yang menyebut keutamaannya berkaitan dengan mengubah atau menunda ajal. Hal itu membuat sebagian ulama memperingatkan untuk tidak memuliakannya.

“Berkenaan dengan malam Nisfu Syaban, tidak ada hadits yang bisa dijadikan sebagai landasan bagi yang berkenaan dengan keutamaannya atau yang berkenaan dengan padanya ketentuan ajal diubah,” kata Imam Ibnu Al Arabi. “Oleh karena itu janganlah kalian memperhatikannya.”

Namun, ada satu hadits shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nisfu Syaban. Keshahihannya diakui banyak ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR. Ibnu Majah; shahih)

Terkait hadits ini, Atha’ bin Yasar rahimahullah mengatakan, “Tiada suatu malam selain Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Syaban. Pada malam ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia kemudian memberikan ampunan kepada seluruh hamba-Nya kecuali orang musyrik (berbuat syirik), suka dengki atau pemutus tali persaudaraan.”

Inilah keutamaan malam Nisfu Syaban yang kita dapati dari hadits shahih. Pada malam itu, Allah mengampuni seluruh hamba-Nya, kecuali musyrikin dan musyaahin.

Cara Mendapatkan Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Dari hadits di atas, kita mengetahui cara agar mendapatkan keutamaan malam Nisfu Syaban. Dua cara agar mendapat ampunan Allah di malam itu adalah jangan menjadi musyrikin dan jangan menjadi musyaahin. Jangan berbuat syirik dan jangan bermusuhan (memutus tali persaudaraan) dengan sesama mukmin.

1. Jangan Syirik

Agar mendapatkan ampunan Allah di malam Nisfu Syaban, jangan musyrik. Jangan pernah berbuat syirik. Jangan pernah menyekutukan Allah karena ia adalah dosa terbesar dan kesesatan yang paling sesat.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’: 48)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’: 116)

Syirik akan membuat pelakunya tidak bisa masuk surga dan tempat kembalinya adalah neraka.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maidah: 72)

Maka pastikan, hanya kepada Allah kita menyembah. Hanya kepada Allah kita beribadah. Hanya kepada-Nya kita berdoa. Jika dahulu bentuk kesyirikan orang-orang Arab jahiliyah adalah menyembah berhala dan berdoa kepadanya, mungkin saat ini hampir tidak ada orang di sekitar kita yang menyembah berhala. Namun fenomena kesyirikan di zaman sekarang masih banyak bentuknya. Bisa berupa berdoa dan meminta pertolongan kepada jin, mempercayai dukun dan tukang sihir.

Baca juga: Ayat Kursi

2. Jangan Bermusuhan Sesama Muslim

Yang kedua, agar mendapatkan keutamaan malam Nisfu Syaban yakni mendapat ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jangan menjadi musyaahin. Jangan bermusuhan dengan sesama muslim. Jangan hasad dan memutus persaudaraan dengan saudara seiman.

Allah menyebut orang-orang beriman sebagai ikhwah. Saudara yang ikatan persaudaraannya seperti saudara kandung, bahkan lebih kuat lagi.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al Hujurat: 10)

Ukhuwah Islamiyah harus dijaga. Hasan Al Banna rahimahullan menjelaskan, kekuatan ukhuwah merupakan kekuatan kedua yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di masa Rasulullah setelah kekuatan iman dan aqidah.

Pernah terjadi dalam sejarah dunia Islam, Hulagu Khan cucu Jengis Khan membantai Baghdad. Satu riwayat mengatakan korbannya 200.000 jiwa, riwayat lain menyebut korbannya 400.000 jiwa. Hulaghu juga membumihanguskan masjid, istana, bangunan-bangunan bersejarah, dan perpustakaan.

Hulaghu membangun markasnya di luar kota lalu mengirim kabar ingin bertemu ulama terbesar di Baghdad. Tidak ada ulama yang berani menemui Hulaghu karena ia terkenal dengan kebengisannya. Lalu datanglah Kadihan, guru madrasah yang masih sangat muda dan belum berjenggot. Ia membawa serta unta, kambing dan ayam jantan.

“Selama ini apakah mereka hanya menemukan orang sepertimu  untuk menghadapku?” tanya Hulaghu setelah memperhatikan Kadihan dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Jika engkau ingin bertemu dengan yang lebih besar dariku, di luar ada unta. Jika ingin menemui yang berjenggot, di luar ada kambing. Jika ingin bertemu dengan yang suaranya lantang, di luar ayam jantan,” jawab Kadihan dengan tenang. “Engkau bisa menemui mereka kapan pun engkau mau.”

Hulaghu mengerti bahwa pemuda di depannya bukan orang biasa. Lantas ia bertanya, “Apa sebab yang mendatangkanku kemari?”
“Amal-amal kami. Saat kami lupa kepada Allah. Tidak bersyukur atas nikmat-Nya. Berfoya-foya. Saling bermusuhan. Allah mendatangkanmu untuk mencabut nikmat-Nya dari kami.”

“Lalu apa yang bisa mengusirku dari sini?”
“Saat kami sadar kembali lalu bersyukur dan bersatu, engkau tidak akan bertahan menghadapi kami.”

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan

Maka, jangan sampai kita bertengkar dan bermusuhan apalagi terhadap saudara seiman. Apalagi jika mereka adalah orang-orang terdekat seperti kerabat, tetangga, sahabat dan rekan kerja. Semoga dengan itu, Allah mencurahkan rahmat-Nya dan secara khusus menganugerahkan keutamaan malam Nisfu Syaban kepada kita. Mengampuni dosa-dosa kita. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]



Source link

SebelumnyaMau KhatamQuran Selama Ramadhan, Ini Tips-nya SesudahnyaApa Asuransi Syariah Itu? Kenapa Harus Memilih Syariah? – Islampos

Berita Lainnya

0 Komentar