KETIKA IBTILA' DATANG
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

KETIKA IBTILA’ DATANG

Terbit 17 January 2020 | Oleh : Mimin | Kategori : Artikel / Asatidz / Tadzkiroh / Ustadz Uril
KETIKA IBTILA' DATANG

Ibtila’

Dalam kehidupan kita di dunia ini, kita selalu dihadapkan pada pilihan yang terkadang menyenangkan atau terkadang banyak yang justru tidak sesuai dengan keinginan kita. Suatu saat, kita merasakan kenikmatan yang luar biasa dari Allah, namun di waktu lain kita harus merasakan kepedihan yang tak terhingga. Suatu ketika, kita dapat bersenang-senang, jalan-jalan ke luar negeri, atau aktifitas menyenagkan lainnya, namun pada situasi tertentu kita harus merasakan penderitaan karena disakiti oleh orang yang paling kita cintai. Dalam terminologi Al Quran, kedua kondisi itu disebut dengan ibtilā’ atau fitnah atau miḥnah.

Sebagai muslim, memahami hakekat adanya ibtilā’ dalam kehidupan ini menjadi sebuah keharusan (Ali Imran:137), agar dapat memiliki ketegaran dalam menghadapinya dan mencari solusi yang paling tepat apabila ibtilā’ itu berupa sesuatu yang tidak kita inginkan. Lebih dari itu, agar setiap muslim menyadari bahwa ibtilā’ itu adalah merupakan sunnatullah atau sunnah kauniyah dalam kehidupan ini, sekaligus meyakini bahwa di balik ibtilā’ itu pasti tersembunyi hikmah dan pelajaran berharga untuk kebaikan manusia (Ali Imran:186).

Ibtilā’ dapat menimpa siapa saja, baik personal maupun komunal. Secara personal, ibtilā’ itu bisa berupa rasa takut, lapar, sakit, kemiskinan dan lain sebagainya (Al Baqarah:155). Adapun secara komunal, ibtilā’ itu juga bisa menimpa komunitas orang-orang yang beriman, biasanya berupa ibtilā’ yang menimpa individu namun memiliki dampak kepada institusi atau organisasi (Muhammad:31), atau juga bisa berupa ancaman terhadap institusi itu sendiri, yang mana akan berdampak pada orang-orang yang ada di dalam dan sekitarnya.

Bagi seorang muslim, jika ibtilā’ itu menimpanya, maka harus diyakini bahwa hal itu dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajatnya, disamping itu juga sebagai sarana membuktikan penghambaan manusia kepada Allah. Karena dalam dua kondisi ibtilā’, manusia tetap dituntut untuk hanya beribadah kepada Allah saja. Dalam Al Quran, ibtilā’ juga memiliki fungsi untuk membersihkan barisan kaum muslimin dari para pembohong dan penipu atau orang-orang munafik, juga untuk memastikan kehancuran orang kafir (Ali Imran:141). Begitpula juga ibtilā’ dapat menjadikan seorang muslim sadar, bertaubat dan meminta ampun kepada Allah serta kembali ke jalan yang benar dan lurus.

Ibtilā’, dengan berbagai macam bentuknya pernah dilalui oleh kaum muslimin pada sepanjang sejarah manusia. Bahkan para nabi yang merupakan kekasih Allah juga harus melaluinya. Kita tidak pernah lupa dengan ibtilā’ yang dialami oleh nabi Ibrahim as dan yang menimpa pada nabi Yusuf as dalam dakwahnya. Kita juga telah membaca dalam al Quran ibtilā’ yang dialami oleh Ghulam yang ada dalam cerita Ashabul Ukhdud. Demikian pula ibtilā’ yang menimpa Rasulullah saw. serta para Shahabat saat perang Uhud. Dengan demikian, semakin tinggi cinta Allah kepada hamba-Nya, maka semakin besar ibtilā’ yang diberikan oleh Allah kepadanya hamba tersebut.

Maka dari itu, dalam menghadapi setiap ibtilā’, benar-benar harus dipastikan bahwa kita harus tetap bersabar dan selalu meningkatkan kesabaran itu. Karena ibtilā’ itu adalah indikator dari penghambaan, maka kita harus kembali kepada Allah dan hanya meminta kepada-Nya. Karena setiap muslim di dunia ini pada hakekatnya sedang membuktikan keimanannya, maka dengan ibtilā’ itu juga kita harus menyadari bahwa jalan keimanan itu tidak mudah, melainkan penuh hambatan dan rintangan. Dalam menjalani ibtilā’, jangan lupakan Allah swt, kita tetap harus selalu ingat dan berdzikir kepada-Nya.

Bergaul dan menempel pada orang-orang yang baik dan shalih juga menjadi media tersendiri untuk dapat terhindar dengan sukses dari ibtilā’ yang menimpa kita. Dengan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan shalih pada saat ibtilā’ itu menimpa kita, maka kita akan mendapat dukungan untuk tetap dalam kebaikan, minimal mereka akan membantu menguatkan ma’nawiyah dan spirit kita dalam menghadapi ibtilā’ (Al Maidah:2). Sebaliknya, jika kita sendirian dan tidak bersama mereka, maka kata Rasulullah: “Hanyalah serigala itu akan menghabisi kambing yang sedang sendirian”.

Semoga Allah swt. selalu menolong kita berupa diberikannya kemudahan dalam menyelesaikan setiap ibtilā’ yang hadir, sehingga dengan adanya ibtilā’ itu kita justru semakin dekat dengan Allah swt. dan semakin mudah untuk mendapatkan ridha Allah swt. Wallahu a’lam. ==============

[email protected]

Facebook

SebelumnyaAMALAN SUNNAH SETELAH SHOLAT JUMAT SesudahnyaKarakteristik Pekerjaan Terbaik ala Rasulullah

Berita Lainnya

0 Komentar