KESEMPURNAAN ZIKIR
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

KESEMPURNAAN ZIKIR

Terbit 2 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Uncategorized
KESEMPURNAAN ZIKIR

Agar menjadi manusia yang sempurna, setipa muslim dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan tiga unsur utama yang membentuk mansuia, yaitu akal, hati dan jasad. Jika kebutuhan tiga unsur tersebut tidak dipenuhi secara seimbang, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang pada akhirnya akan menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri. Sebagai contoh, jika manusia hanya fokus memperhatikan kebutuhan fisiknya saja, maka ia akan menjadi orang yang kuat secara fisik, namun lemah akal dan ringkih spiritualnya. Fisiknya yang kuat itupun pada akhirnya akan menjadi tidak berarti karena untuk memanfaatkannya membutuhkan kecerdasan akal dan spiritual.  

Salah satu diantara kebutuhan hati manusia adalah dzikir. Sebagian orang memahami dzikir hanya sebatas membaca tasbih, tahlil dan sejenisnya. Sesungguhnya dzikir memiliki jangkauan yang lebih luas dan lebih sempurna. Aktifitas dzikir mencakup seluruh aktifitas ketaatan kepada Allah dan semua kegiatan yang tujuannya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu para ulama membagi dzikir menjadi dua jenis, yaitu: dzikir mutlak dan terbatas.  

Dzikir mutlak adalah semua jenis ketaatan, baik yang nampak secara dzahir maupun yang tidak nampak. Baik berupa aktifitas lisan maupun pekerjaan fisik manusia. Segala sesuatu yang difikirkan, diinginkan, dikerjakan dan diucapkan oleh manusia jika semuanya dilakukan dalam rangka mendekarkan diri kepada Allah, maka termasuk dalam kategori dzikir kepada-Nya. Bukanlah Allah mensyari’atkan semua amal ibadah tujuannya adalah untuk ber dzikir kepada-Nya.   

Karena itu sebagai pendidik, kita harus menghadirkan perasaan dzikir kepada Allah saat melakukan aktifitas pembelajaran. Sebagai mahasiswa juga harus merasa bahwa ia sedang berdzikir kepada Allah pada saat mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Demikian pula para petani, nelayan, pegawai dan semua pelaku aktifitas kebaikan hendaknya menghadirkan situasi berdzikir pada saat mereka berkeringat menunaikan tugas di lapangan. Apabila kita semua mampu menghadirkan perasaan berdzikir kepada Allah dalam setiap pekerjaan yang kita lakukann, maka hal itu dapat membantu kita dalam rangka meluluhkan hati dan menguatkan keimanan. Dapat menambah keterikatan kita dengan Allah swt., yang pada akhirnya semakin menambah keikhlasan kita dalam bekerja.  

Macam – macam Dzikir

Jenis dzikir kedua adalah dzikir terbatas atau muqayyad. Jenis dzikir muqayyad ini terbatas pada aktifitas tertentu yang telah diperintahkan secara khusus oleh Allah dalam al Quran atau melalui nabi Muhammas saw. Paling tidak, ada lima macam dzikir jenis muqayyad ini, yaitu:   

Pertama: membaca al Quran. Jika dilihat dari sejumlah aktifitas dzikir jenis muqayyad, membaca al Quran termasuk macam dzikir muqayyad yang paling utama, karena dengan membaca al Quran berarti seorang muslim telah melakukan banyak aktifitas dzikir dan memadukannya dalam satu pekerjaan. Dengan membaca al Quran, berarti kita sedang memuji Allah, berdoa kepada-Nya, memahami Islam dari sumber aslinya, mengambil pelajaran kehidupan, menambah keimanan, mentadabburi tanda-tanda kekuasaan-Nya dan lain sebagainya.   

Kedua: membaca tasbih dan tahlil. Baik tasbih maupun tahlil adalah merupakan aktifitas memuji Allah swt., dengan memperbanyak membaca tasbih “subhanallah”, berarti kita meneguhkan keyakinan kita bahwa Allah adalah Żat yang Maha suci, dan jika manusia sebagai hamba-Nya yang banyak berlumuran kotoran mau menyucikan diri, maka harus mendekat kepada Żat yang Maha suci tersebut. Demikian juga dengan memperbanyak membaca tahlil “lā ilāha illa Allah”, berarti manusia semakin mengokohkan keyakinannya bahwa sumber kekuatan itu hanya ada pada Allah swt., dan jika manusia mau menjadi kuat, maka harus mencari kekuatan dari Allah swt.  

Ketiga: berdoa kepada Allah. Allah telah menegaskan bahwa setiap doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya, setelah memenuhi syarat dan ketentuannya, Allah menjamin akan mengabulkan doa tersebut. Doa, meskipun isinya adalah memohon kepada Allah, adalah merupakan aktifitas dzikir yang mulia, karena dengan berdoa kepada Allah, berarti manusia mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya, dan pada saat yang sama juga mengakui kebesaran dan kemampuan mutlak dari-Nya. Diantara kesempurnaan doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. adalah doa memohon kebaikan di dunia dan di akhirat sekaligus, bahkan doa ini adalah doa yang paling banyak dibaca oleh beliau dalam hidupnya.  

Keempat: membaca istighfār. Merupakan bagian dari kegiatan berdzikir kepada Allah swt. adalah membaca istighfār. Yaitu sebuah aktifitas meminta ampunan dari Allah swt. dari kesalahan dan dosa. Jika berdoa adalah aktifitas memohon kepada Allah yang bersifat umum, maka istighfār adalah permohonan khusus agar Allah berkenan memaafkan dan menghapus kesalahan dan dosa manusia. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah bersalah, karena itu pintu utama untuk menghapuskan kesalahan itu adalah bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Rasulullah saw., yang sudah terjaga dari kesalahan saja, setiap harinya masih beristighfār lebih dari tujuh puluh kali, apalagi kita yang tidak terjaga dari kesalahan.  

Kelima: Menunaikan shalat. Dalam al Quran disebutkan bahwa tujuan shalat adalah berdzikir kepada Allah  (ṭāhā :41). Demikian itu karena dzikir adalah merupakan tujuan yang paling utama dari setiap ibadah, dengan berdzikir manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan kebaikan. Hati yang tidak berdzikir adalah hati yang tidak akan mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan. Karena itu, selain shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam, seyogyanya manusia muslim juga memperhatikan shalat-shalat sunnah, dengan demikian akan semakin banyak potensi dzikir yang dilakukan oleh manusia.  

Semoga Allah swt. memudahkan kita untuk selalu berdzikir kepada-Nya dengan melakukan sejumlah aktifitas dzikir, baik yang mutlak maupun muqayyad, hingga betul-belul kebahagiaan dan kebaikan dari Allah selalu berfihak kepada kita. Wallahu a’lam. 

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMENGUKUR KUALITAS DIRI SENDIRI SesudahnyaAGAR DZIKIR KITA BERDAMPAK PADA KEHIDUPAN

Berita Lainnya

0 Komentar