Keberatan Nama dalam Islam (1)
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Keberatan Nama dalam Islam (1)

Terbit 9 January 2021 | Oleh : Admin | Kategori : arti nama / asal-usul nama / Hadits / keberatan nama / nama / nama dalam islam / nama islami / Tahukah Anda


KETIKA kita menemukan seorang anak yang sering mengalami sakit-sakitan, kebanyakan orang beranggapan bahwa itu adalah akibat dari keberatan nama. Maksudnya ialah nama yang menjadi identitas anak tersebut tidak sesuai dengannya.

Entahlah, sebagian orang mengakui akan kebenaran hal itu. Lalu bagaimana Islam menjelaskan masalah tersebut?

Istilah keberatan nama tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Hanya saja, dalam Islam dianjurkan untuk memberi nama yang baik pada anak. Ada kriteria pemberian nama tertentu yang memang dilarang dalam Islam. Berikut kriterianya.

BACA JUGA: Bolehkah Bersumpah dengan Selain Nama Allah?

1. Nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala

Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala.

Baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya. Misalnya: Abdur Rasul (hambanya Rasul), Abdun Nabi (hambanya Nabi), dan sebagainya.

Sedangkan selain nama Nabi SAW, misal: Abdul ‘Uzza (hambanya Al-‘Uzza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (hambanya Matahari) dan sebagainya.

2. Nama yang mengandung pujian diri sendiri

Nama yang mengandung pujian diri sendiri itu, misalnya: Barrah (wanita yang sangat baik sekali).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

أَنّ زَيْنَبَ كَانَ اسْمُهَا بَرّةَ، فَقِيلَ: تُزَكّي نَفْسَهَا، فَسَمّاهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم زَيْنَبَ

“Dulu Zainab bernama Barrah, sehingga orang berkomentar, ‘Dia memuji dirinya sendiri.’ Kemudian Rasulullah SAW menngganti namanya dengan Zainab,” (HR. Bukhari 6192 dan Muslim 5732).

Dalam riwayat lain, “Juwairiyah juga sebelumnya bernama Barrah, kemudian diganti oleh Nabi SAW dengan nama Juwairiyah,” (HR. Muslim 5729).

3. Nama yang maknanya jelek atau keras

Ibnu Umar menceritakan,

أَنَّ ابْنَةً لِعُمَرَ كَانَتْ يُقَالُ لَهَا عَاصِيَةُ فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمِيلَةَ

“Salah satu putri Umar bin Khattab ada yang diberi nama Ashiyah (wanita pembangkang). Kemudian diganti oleh Nabi SAW dengan nama Jamilah,” (HR. Ahmad 4785 dan Muslim 5727).

BACA JUGA: Sudah Tahu Belum? Ini Nama-nama Istri Nabi

Dalam Ensiklopedi Fiqh Islam dinyatakan,

وقد غيَّر النبي صلى الله عليه وسلم الأسماء الممنوعة، فغير اسم عاصية فسماها جميلة، وحَزْن باسم سهل، وبرّة بزينب، وجثّامة إلى حسّانة، وشهاباً إلى هشام، وحرباً إلى سلم.

“Nabi SAW telah mengubah nama-nama yang dilarang. Beliau mengganti nama Ashiyah dengan Jamilah, Hazn (sedih) dengan Sahl (mudah), Barrah dengan Zainab, Jatssamah dengan Hassanah, Syihab diganti dengan Hisyam, dan Harb diganti dengan Salam,” (Mausu’ah al-Fiqh al-Islami).

4. Nama-nama Allah Ta’ala

Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaraka wa Ta’ala juga dilarang dalam Islam. Misalnya: Rahim, Rahman, Kholiq dan sebagainya.

5. Nama-nama syetan

Memberi nama dengan nama-nama syetan jelas dilarang. Misalnya, Al-Ajda’ dan lain-lain.

Selain nama-nama yang diharamkan seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada juga kriteria nama-nama yang dimakruhkan. Di antaranya:

1. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dan lain-lain.

2. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.

3. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’aun, misal: Fir’aun, Qarun, dan Haman.

4. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dan lain-lain.

BACA JUGA: Berdasarkan Pendapat Ulama, Inilah Nama Lain Al Fatihah

5. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama”, dan lafadz “Islam”, misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dan lain-lain.

6. Dimakruhkan memberi nama yang tersusun, seperti: Muhammad Haris, Muhammad Ahmad.

7. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dan lain-lain.

8. Dimakruhkan memberi nama yang arti dan lafadznya tidak disukai oleh hati. []

Sumber: konsultasisyariah.com | jadikanpinter.blogspot



Source link

SebelumnyaSahabat Perlakukan Agama di Atas Segalanya – Islampos Sesudahnya7 Serum yang Mengandung Niacimanide untuk Hilangkan Bekas Jerawat

Berita Lainnya

0 Komentar