JIDDIYYAH
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

JIDDIYYAH

Terbit 21 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Kisah Sahabat / Tsaqofah Islamiyah / Ustadz Uril
JIDDIYYAH

Apabila kita perhatikan dalam kehidupan ini, seringkali kita mendapati keluhan-keluhan yang muncul dari diri kita sendiri, dari kawan-kawan kita dan dari atasan kita. Keluhan itu muncul karena keinginan atau target yang kita canangkan tidak sesuai dengan harapan. Ketika ditanya tentang sebabnya, kebanyakan menjawab, “gak ada waktu untuk mengerjakan itu”, sebagaian lain mengatakan, “waktunya gak cukup”. Jadi, hampir semua beralasan dengan waktu, padahal waktu yang tersedia bagi semua manusia tidak ada yang berbeda, semuanya sama, dalam sehari jumlahnya 24 jam.   

Sama-sama memiliki waktu 24 jam, namun salah seorang ulama kita yang bernama Abu Wafa bin ‘Aqil Al Hambali telah berhasil menulis 20 judul buku. Yang menarik adalah, bahwa diantara 20 judul buku yang ditulisnya, salah satunya yang berjudul “Al Funun” terdiri dari 800 jilid. Semua ulama sepakat bahwa buku “Al Funun” adalah buku terbesar di dunia.  

Banyak diantara kita ketika tidak berhasil, mengalamatkan kegagalannya kepada pihak lain, dalam hal ini adalah waktu atau kepada orang lain. Jarang yang mau mengevaluasi dirinya sendiri. Jika kita menyalahkan waktu, maka sesungguhnya secara tidak langsung yang salah adalah diri kita sendiri, karena kita yang memiliki tugas untuk memanfaatkan waktu tersebut, bukan waktu yang kita tuntut bertanggungjawab atas kegagalan kita, apalagi orang lain. Cukup dan tidaknya waktu kita tergantung pola kita dalam menggunakan dan memanfaatknya. Karena itu, al Quran telah memperingatkan kepada kita akan pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, hingga secara khusus digunakan untuk menamai salah satu dari surat al Quran yaitu al ‘Aṣr.  

Permasalahannya sekarang adalah, bagaimana cara memanfaatkan waktu sebagaimana yang diperintahkan oleh al Quran? Apabila kita renungkan kembali ayat-ayat al Quran, akan kita temukan berbagai strategi untuk memanfaatkan waktu dengan baik, diantaranya dengan jiddiyyah. Yaitu, apabila kita mengerjakan sesuatu, agar efektif dan sesuai dengan target yang kita inginkan, maka harus dilakukan dengan jiddiyah. Untuk memahami makna jiddiyyah, mungkin kita pernah hafal sebuah ungkapan berbahasa Arab “man jadda wajada”, kata “jadda” itu adalah kata dasar dari jiddiyyah, yang berarti adanya kesungguhan dengan menggunakan seluruh potensi yang dimiliki, perhatian dengan penuh semangat terus-menerus, dan tidak ragu-ragu lagi mengerjakannya hingga sampai pada target yang diinginkan.   

Bersungguh-sungguh

Jiddiyyah dalam setiap aktifitas kebaikan perlu kita miliki, karena waktu yang tersedia bagi kita untuk hidup di dunia ini sangat terbatas dan tugas-tugas kita jauh lebih banyak dari waktu yang ada. Disamping itu, jiddiyyah adalah perintah dari Allah dan merupakan sifat orang-orang yang beriman (QS Al Mukminun:61). Lebih dari itu, jika potensi yang kita miliki tidak dimaksimalkan dengan penuh jiddiyyah, bisa jadi potensi yang asalnya positif itu akan berbalik menjadi negatif dan merusak. Sebagaimana air, apabila tidak dialirkan dan digerakkan, maka akan merusak air itu sendiri.  

Respon dari Allah terhadap manusia tergantung kuantitas dan kualitas respon kita dalam memenuhi panggilan-Nya. Semakin intensif kita mendekat dan berkomunikasi dengan-Nya, maka Allah akan semakin lebih intensif lagi dalam membantu dan menolong kita. Dengan kata lain, kedekatan kita kepada Allah sangat tergantung dengan jiddiyyah kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya, balasan itu sesuai dengan jenis pekerjaan, dan upaya kebaikan akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Tidak sama orang yang memiliki jiddiyyah dalam aktifitasnya dengan orang yang malas atau duduk berpangku tangan tanpa alasan (QS An Nisa:95).   

Perlu kita fahami kembali sisi-sisi kehidupan kita yang harus kita lakukan dengan penuh jiddiyyah, agar keluhan-keluhan diatas dapat diminimalisir, diantaranya jiddiyyah dalam ber-Islam, berdakwah, mencari ilmu, mendidik keluarga, membina persahabatan dan lain sebagainya. Jiddiyyah juga diperlukan dalam upaya mencapai keinginan dan cita-cita. Islam mencela orang yang hanya memiliki cita-cita dan angan-angan kosong tanpa didukung dengan jiddiyyah, sebagaimana keinginan Bani Israil untuk berjihad, namun tidak diikuti dengan persiapan yang serius (QS Al Baqarah:246).  

Jiwa yang kerdil adalah jiwa yang melihat kebahagiaan ada pada kehidupan yang santai, sedikit bekerja, banyak makan dan minum, berpakaian indah, berkendaraan mewah dan bermalas-malasan. Sementara jiwa yang besar adalah jiwa yang tidak rela kehidupannya seperti kehidupan binatang. Jiwa yang besar selalu menghadapi tantangan untuk menggapai kemuliaan, selalu mencurahkan seluruh potensi untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Bukankan jalan menuju surga itu penuh dengan hambatan?, sementara jalan menuju neraka itu lempang dan penuh dengan kenikmatan.  

Sikap selalu menunda pekerjaan adalah penyakit jiddiyyah, kita harus ingat bahwa pada setiap waktu ada tugas yang menunggunya, menunda pekerjaan hari ini sama dengan menumpuk atau bahkan menggeser pekerjaan hari esuk dan seterusnya. Kadang pekerjaan hari ini terasa tidak cukup untuk diselesaikan pada hari ini, bagaimana mungkin tugas hari ini bisa diselesaikan pada hari lain yang juga memiliki pekerjaan tersendiri.  

Semoga Allah swt selalu memudahkan kita untuk dapat memiliki sikap jiddiyyah dalam memanfaatkan waktu yang amat terbatas ini, hingga banyak manfaat kebaikan yang dapat kita berikan kepada orang lain. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaSYARAT KEMENANGAN ITU ADALAH TSIQOH SesudahnyaMEMBANGUN KEBERSAMAAN

Berita Lainnya

0 Komentar