JALAN MENUJU ISTIQAMᾹH
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

JALAN MENUJU ISTIQAMᾹH

Terbit 24 January 2020 | Oleh : Mimin | Kategori : Artikel / Tadzkiroh / Ustadz Uril
JALAN MENUJU ISTIQAMᾹH

Istiqamah

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah saw. pernah ditanya oleh sahabatnya tentang sebab memutihnya rambut beliau. Rasulullah saw. menjawab: “Yang menyebabkan rambutku cepat memutih adalah surat Hud dan yang semisalnya”. Secara khusus, yang dimaksud dengan surat Hud disini tepatnya adalah ayat 112 dan ayat-ayat lain yang sama-sama memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk istiqāmah.

Allah berfirman: “Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan”.

Para salafus shalih telah memahami istiqāmah dengan definisi yang beragam, diantaranya Abu Bakar As Shiddiq ra mengatakan: “Jika engkau tidak menyekutukan Allah”. Umar bin Khatab mengetakan: “Jika engkau tetap berpegang teguh dengan perintah dan larangan Allah”. Utsman bin ‘Affan mengatakan: “Jika engkau memurnikan seluruh amal perbuatan hanya karena Allah swt.”. Ibnu Abbas memaknainya dengan: “Jika engkau dapat melaksanakan seluruh kewajiban”.

Dan masih banyak lagi definisi serupa yang disampaikan oleh pada ulama kaum muslimin tentang istiqāmah, yang secara umum dapat kita simpulkan bahwa istiqāmah adalah sikap berpegang teguh dan komitmen dengan agama Islam secara utuh, mulai dari niat, perkataan hingga perbuatan kita. Bersikap istiqāmah adalah keharusan, karena itu adalah perintah dari Allah swt., status perintahnya sama dengan perintah-perintah yang lain.

Ketika seorang muslim dapat bersikap istiqāmah, maka Allah akan memberikan dukungan kepadanya dengan hadirnya malaikat yang membawa berita gembira, bahwa dia akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia karena Allah telah melimpahkan rizki dan ketenangan kepadanya, dan di akhirat Allah akan mengampuni segala dosanya dan menempatkannya pada tempat yang paling membahagiakan juga, yaitu surga.

Untuk menuju istiqāmah bukan sesuatu yang mustahil, banyak jalan yang bisa kita tempuh. Diantaranya, dengan melakukan segala macam ketaatan secara sungguh-sungguh, baik yang wajib maupun yang sunnah, karena setiap ketaatan akan berdampak positif pada perilaku seseorang. Mendasari seluruh aktifitas keaatan kita dengan ilmu dan keikhlasan adalah merupakan sarana lain untuk menuju istiqāmah, karena dengan ilmu akan tumbuh keyakinan dan kemantapan, sementara dengan keikhlasan akan mengantarkan seseorang kepada kejelasan orientasi dan kekuatan dalam beraktifitas.

Mengikuti aturan main yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya termasuk sarana yang paling efektif untuk menuju istiqāmah. Karena Allah yang menciptakan manusia, paling mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh makhluk-Nya, maka ketika Dia membuat aturan main dalam ibadah yang diwajibkan kepada manusia, tentunya aturan itu sudah dibuat sesuai dengan kemampuannya. Mencoba-coba untuk membuat aturan baru yang berbeda dengan buatan Allah, bisa jadi akan semakin membebani manusia itu itu sendiri, yang pada akhirnya justru akan menjauhkan manusia dari istiqāmah.

Menjaga keseimbangan dan disiplin melaksanakan nilai-nilai moderat yang diajarkan oleh Islam juga merupakan sarana yang efektif untuk menuju istiqāmah. Sikap berlebih-lebihan dalam beribadah sekalipun tidak dianjurkan dalam Islam, karena sikap itu akan membelokkan manusia dari istiqāmah. Disamping tidak boleh berlebihan, kita juga tidak boleh mengurangi dari ketentuan yang ada, karena keseimbangan akan berkurang jika unsur-unsurnya dikurangi.

Karena yang membolak-balikkan hati adalah Allah, maka untuk menuju istiqāmah, kita harus juga memohonnya kepada Allah. Berusaha untuk berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang baik serta semakin mendekat dengan al Quran dengan membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkannya adalah aktifitas yang dapat menunjang merealisasikan istiqāmah dalam kehidupan.

Dalam menuju istiqāmah, seringkali kita menemui banyak hambatan dan rintangan, diantaranya karena kita sering meremehkan kemaksiatan, seringkali kita mentolelir diri kita untuk melakukan kemaksiatan dengan alasan masih ada waktu untuk memperbaiki. Terlalu menyibukkan diri dengan dunia hingga sedikit demi sedikit melupakan akhirat juga menjadi penghalang menuju istiqāmah. Demikian pula terlalu membuka kesempatan dan berlebih-lebihan dalam mengerjakan hal-hal yang mubah, serta bergaul dengan kawan-kawan yang suka mengajak kepada keburukan.

Sungguh berat istiqāmah itu, sehingga Rasulullah saw. menganggapnya sebagai perintah yang paling berat diantara perintah-perintah yang lain. Semoga Allah memudahkan kita untuk dapat memiliki sikap istiqāmah dalam hidup kita. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaKetika Buya Hamka Ditawari dengan Permempuan Muda di Salah Satu Hotel SesudahnyaFatwa Lengkap MUI Pusat tentang Haramnya Menggunakan Atribut Natal

Berita Lainnya

0 Komentar