INDAHNYA IBADAH TAFAKKUR
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

INDAHNYA IBADAH TAFAKKUR

Terbit 17 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / Kisah Sahabat / Tadzkiroh / Ustadz Uril
INDAHNYA IBADAH TAFAKKUR

Suatu ketika, Abu Syuraih sedang berjalan, tiba-tiba duduk dan menutup wajahnya dengan kain surbannya sambil menangis. Lalu salah seorang sahabatnya bertanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Syuraih?”. Beliau menjawab: “Saya merenungkan berkurangnya umurku, sedikitnya amalku dan dekatnya ajalku”. Itulah salah satu contoh dari ibadah tafakkur yang dilakukan oleh ulama salafus shalih kita, Abu Syuraih -semoga Allah merahmatinya-.  

Tafakkur adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada manusia melalui ayat-ayat al Quran dengan berbagai redaksi (QS Al A’raf:185) dan juga hadis-hadis Rasulullah saw. Ibadah tafakkur ini belum banyak dilakukan oleh kaum muslimin, padahal ia memiliki urgensi dan manfaat yang sangat besar untuk meningkatkan keimanan seseorang. Bahkan jarang kita temukan pesan-pesan atau anjuran dari para muballigh kita untuk melakukan ibadah tafakkur ini, padahal perintah untuk tafakkur sama halnya perintah untuk shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Selama tidak ada dalil yang mengubah perintah itu menjadi sunnah atau hukum yang lainnya, maka konsekuensi perintah itu tetap wajib.  

Ayat-ayat Allah yang digelar di jagad raya sangat banyak jumlahnya, hingga tak seorangpun yang mampu untuk menghitungnya. Setiap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, pada saat yang sama adalah merupakan ayat Allah yang harus direnungkan. Dengan mentafakkuri nikmat-nikmat tersebut, maka akan memudahkan kita untuk bersyukur kepada Allah. Mengapa kita sulit untuk mensyukuri nikmat Alla yang diberikan kepada kita? Diantara sebabnya adalah karena kita jarang merenungkannya, sehingga kita tidak merasakannya sebagai nikmat, apalagi mensyukurinya.  

Dalam beribadah, hakekatnya manusia sedang berinteraksi dan berkomunikasi dengan Tuhannya. Sebagaimana interaksi itu dapat kita lakukan melalui shalat, dzikir, berdoa dan baca al Quran, dapat juga kita lakukan dengan tafakkur dan merenungkan kekuasaan Allah yang tak terhingga. Sehingga dengan bertafakkur, manusia akan semakin dekat dengan Allah swt., akan semakin memiliki komitmen dan keterikatan dengan ketaatan kepada Allah dan akan takut mendekat kepada kemaksiatan dan larangan yang telah ditentukan oleh Allah swt. Akankah manusia mau melakukan kemaksiata, jika ia telah mampu merasakan karunia nikmat yang luar biasa dari Allah swt.? Dan merasakan keagungan nikmat Allah itu hanya bisa dilakukan melalui ibadah tafakkur.  

Ibadah tafakkur akan mewariskan ilmu, dan ilmu itu akan mengantarakan seseorang untuk beramal. Rasanya tidak mungkin seseorang mau beramal jika dia tidak memiliki ilmu. Bahkan Imam Syafi’i rahimahullah menganggap tafakkur itu sebagai sarana untuk menentukan hukum dan merupakan bukti kecerdasan seseorang. Tafakkur juga merupakan sarana untuk menghidupkan hati kita, karena dengan tafakkur seseorang akan dapat mengambil ibrah atau pelajaran, dan dari pelajaran itulah hati seseorang akan menjadi hidup. Lebih-lebih lagi jika tafakkur itu dibarengi dengan dzikir, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat Ali Imran; 190-191, maka perannya dalam menghidupkan hati akan lebih dahsyat lagi.  

Salah satu contoh ibadah tafakkur, seperti kita merenungkan tentang ketidaksempurnaan diri kita. Ternyata diri kita memiliki banyak sekali kekurangan dan kelemahan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa. Coba kita lihat lisan kita pada hari ini saja, sejak kita bangun tidur sampai sekarang, betapa banyak ucapan yang keluar dari lisan ini yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Bukankah lisan kita hari ini terlah berbohong? Bukankah lisan kita hari ini telah membicarakan aib orang lain? Bukankan lisan kita hari ini telah mengejek orang lain? Dan masih banyak lagi dosa-dosa yang dilakukan oleh lisan kita, tidak terhitung jumlahnya. Semua dosa dan kemaksiatan itu bisa kita sadari jika kita melakukan tafakkur dan merenungkannya.  

Contoh lain, misalnya kita mau merenungkan tentang ibadah yang telah kita lakukan hari ini, bagaimana kita melakukan shalat? Bukankah kita masih belum khusyu’ dalam shalat kita? Bukankah kita masih memperhatikan kuantitas daripada kualitasnya? Apakah betul-betul kita telah ikhlas dalam menjalankannya? Apakah tadi kita pergi ke masjid sudah betul-betul hanya mengharapkan penilaian dari Allah, ataukah karena ingin dilihat oleh atasan kita?  

Demikianlah, jika kita mau melakukan ibadah tafakkur, kita akan semakin takut dengan Allah, sehingga seluruh aktifitas kita akan semakin berkualitas dan diridhai oleh Allah swt. Ibadah tafakkur itu perlu dilatih sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Awalnya, mungkin kita akan merasa sulit untuk melakukannya, tetapi jika kita mau melatih diri kita, maka akan terbiasa juga. Ibadah tafakkur ini objeknya hanya makhluk yang diciptakan oleh Allah swt., bukan pada Dzat-Nya, karena manusia yang sangat lemah ini tidak akan mampu memikirkan Dzat Allah yang Maha Perkasa.   Semoga Allah swt. memberikan kemudahan kepada kita untuk dapat melaksanakan ibadah tafakkur ini, sehingga akan menambah kesempurnaan kita dalam beribadah kepada Allah swt. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaTAᾹWUN DALAM KEBAIKAN SesudahnyaBERHIAS DENGAN PAKAIAN TAKWA

Berita Lainnya

0 Komentar