ILMU DAN AMAL
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

ILMU DAN AMAL

Terbit 10 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Asatidz / Hikmah / Kisah Sahabat / Tadzkiroh / Ustadz Uril
ILMU DAN AMAL

Nilai dari iman yang dimiliki oleh seseorang terlihat pada amal perbuatan yang menyertainya. Apabila kita mengaku beriman, maka sebagai konsekwensinya harus diikuti dengan amal. Iman bukan hanya sekedar angan-angan, namun hakekat iman adalah keyakinan yang menghujam dalam hati kemudian dibuktikan dengan amal. Karena itu apabila kita lihat dalam al Quran, akan kita temukan ebih dari 50 ayat yang berbicara tentang keimanan dan langsung digandeng dengan printah untuk beramal sekaligus. Memang antara ilmu dan amal dalam Islam tidak dapat dipisahkan, dalam pepatah Arab dikatakan, bahwa “ilmu yang tidak dibarengi dengan amal itu ibarat pohon yang tidak berbuah”.  

Allah swt. akan menilai dan memberi balasan kepada manusia berdasarkan keyakinan dalam hati dan amal perbuatan yang telah dikerjakan. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan harta yang kalian miliki, namun Allah akan melihat hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim). Perbuatan manusia itu juga nanti di hari kiamat akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah (QS An Nahl:93). Sebagaimana perbedaan derajat manusia di hari kiamat nanti didasarkan kepada perbedaan mereka dalam beramal (QS Al Ahqaf:19). Karena itu, Allah swt. sangat membenci orang yang bisanya hanya berbicara saja, namun tidak diikuti dengan kerja (QS Aṣ Ṣaf:2-3).  

Tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini adalah untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah dalam bingkai ibadah, “Yang menciptakan matia dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” (QS Al Mulk:2). Setiap muslim dituntuk oleh Allah untuk beramal hingga sampai pada batas akhir kehidupannya, seandainya esok adalah hari kiamat sekalipun, dan seseorang masih menggenggam biji-bijian yang bisa ditanam, maka hendaknya menanamnya, hal itu sebagimana diperintahkan oleh Rasulullah saw. Sungguh Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan membenci kemalasan.  

Dalam dunia dakwah, sebuah aktifitas mengajak kepada kebaikan akan lebih efektif jika para penyerunya bukan hanya pandai berbicara, namun juga pandai mempraktekkan ilmu yang disampaikan dalam kehidupannya. Dikatakan bahwa dakwah dengan amal perbuatan itu lebih mengena dibandingkan dengan dakwah dengan ucapan. Dunia dakwah sekarang membutuhkan orang-orang yang jujur dan sungguh-sungguh, kejujuran dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah akan terwujud apabila para penyeru dakwah juga memberi contoh dan berkerja dengan sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan.  

Sayang, kita sering mendapati kesenjangan yang terjadi pada para penyeru kepada kebaikan yang hanya bisa menyampaikan nasehat kebenaran, berapi-api dalam mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berinfaq misalnya, namun ketika diminta untuk mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki, mereka enggan untuk melakukannya. Banyak para dai yang pandai berbicara tentang keutamaan mendahulukan kepentingan orang lain, keutaman zuhud dan kisah-kisah teladan tentang orang-orang yang zuhud, namun pada saat yang sama mereka masih mementingkan diri mereka sendiri dan kencenderungan mereka terhadapa dunia juga masih tinggi.  

Lemahnya Islam

Para penyeru kepada kebaikan yang tidak bisa melakukan kebaikan yang diserukan, mereka pada saat yang sama telah memperburuk citra dakwah Islam, karena manusia melihat para da’inya hanya bisa berbicara namun tidak pandai mengamalkan. Seorang sufi bernama Muhammad bin Al Fadl mengatakan, bahwa Islam akan lemah jika berada di tangan empat golongan manusia, yaitu: (1) orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang mereka ketahui, (2) orang-orang yang mengerjakan apa yang tidak mereka ketahui, (3) orang-orang yang tidak bekerja dan tidak mengetahui, dan (4) orang-orang yang menghambat dan menghalangi manusia untuk belajar mengetahui.  

Diantara yang menghambat kita tidak bersegera untuk beramal adalah karena kita terlalu sibuk untuk memikirkan ilmu, membahas dan mendiskusikannya. Kita lupa kalau tujuan utama dari ilmu itu adalah untuk amal dan bukan untuk ilmu, ilmu itu adalah sarana, seandainya bukan karena amal, maka kita tidak membutuhkan ilmu. Lari dari tanggung jawab juga merupakan penyakit yang akan menghambat kita untuk beramal. Seringkali manusia tidak mau bekerja melakukan perbaikan karena menurut anggapan mereka, tanggung jawab itu ada pada ulama atau kelompok tertentu saja, atau karena kerusakan telah merajalela di masyarakat sehingga tidak ada gunanya lagi melakukan perbaikan.  

Kita harus mengakui juga bahwa seringkali kita menunda pekerjaan yang seharusnya dapat dilakukan hari ini, kita menundanya hingga akhirnya kita tidak mampu mengerjakannya juga. Jika kita menunda pekerjaan hari ini, maka sudah dapat dipastikan kalau pekerjaan itu tidak dapat jatah waktu di esok hari, karena hari esok sudah ada pekerjaan khusus tersendiri yang tidak bisa ditambah dengan pekerjaan hari ini. Hendaknya kita menghindari dari menunda pekerjaan, karena hal itu merupakan senjata syaetan untuk mengajak manusia untuk tidak beramal.  

Semoga Allah memudahkan kita untuk segera beramal, sehingga keimanan yang kita miliki dapat dibuktikan dengan amal, ilmu yang kita miliki selalu disertai dengan kerja. Demikian pula Allah berkenan menjauhkan kita dari segala sesuatu yang dapat menghambat dan menghalangi kita dari amal. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaLaporan Keuangan Per Mei Tahun 2020 SesudahnyaIBADAH ADALAH IDENTITAS PRIBADI MUSLIM

Berita Lainnya

0 Komentar