Hai Adam, Tetangga Seperti Apakah Aku Ini bagimu? – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Hai Adam, Tetangga Seperti Apakah Aku Ini bagimu? – Islampos

Terbit 16 December 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / Kisah Nabi / nabi adam
Hai Adam, Tetangga Seperti Apakah Aku Ini bagimu? – Islampos


NAFSU dan bisikan setan adalah musuh. Maka, ingatlah kembali bagaimana kisah Nabi Adam.

Allah menciptakan Nabi Adam dengan tangan-Nya, dan Allah telah menghembuskan dari ruh-Nya kedalam tubuh Nabi Adam. Ia dibawa ke surga dengan kawalan dari para malaikat.

Nabi Adam tidak pernah melakukan dosa, kecuali satu yaitu memakan buah larangan. Karena dosa itu, Nabi Adam dan Istrinya (Hawa) diturunkan dari surga ke suatu tempat di bumi.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat, Allah bertanya kepada Nabi Adam, “Hai Adam, tetangga seperti apakah Aku ini bagimu?”

BACA JUGA: Hikmah di Balik Kisah Adam Dikeluarkan dari Surga

Adam menjawab, “Engkau sebaik-baik tetangga, wahai Tuhanku.”

Maka Allah Ta’ala berfirman, “Hai Adam, keluarlah dari sisi-Ku dan tanggalkan mahkokta kemuliaan-Ku dari kepalamu. Sebab, tidak akan bertetangga dengan-Ku orang yang mendurhakai-Ku.”

Sampai pada suatu riwayat yang mengatakan, jika Nabi Adam menangisi dosanya selama dua ratus tahun. Barulah kemudian Allah menerima tobatnya dan mengampuni dosa yang satu itu.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisaa: 110)

BACA JUGA: Mulianya Umat Nabi Muhammad, Nabi Adam pun Tak Memilikinya

Begitulah sikap Allah terhadap Nabi dan manusia pilihan-Nya, karena dosa yang diperbuatnya. Adapula salah satu sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Sebaik-baiknya kalian adalah setiap orang yang tergoda dengan perbuatan dosa, tapi kemudian kembali bertobat.” []

Sumber: Minhajul Abidin, Jalan para ahli ibadah/ Penulis: Imam al-Ghazali/Penebit: Khatulistiwa Press, 2008



Source link

SebelumnyaCabut Bulu Ketiak, Apa Hukumnya? SesudahnyaEmbargo dan Tahun Duka Cita

Berita Lainnya

0 Komentar