DARI MANA KITA BELAJAR?
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

DARI MANA KITA BELAJAR?

Terbit 30 July 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hikmah / Motivasi / Ustadz Uril
DARI MANA KITA BELAJAR?

Saat itu, saya sedang duduk di ruang tunggu bandara Abdurrahman Saleh Malang. Pesawat Sriwijaya yang seharusnya akan mengantarkan saya ke Jakarta berangkat pukul 12.45, menurut petugas chek in akan mengalami terlambat dan baru akan diberangkatkan pukul 13.25. Waktu yang disampaikan petugas sudah lewat, bahkan saat itu sudah menunjukkan pukul 14.00, namun pesawat juga belum tiba. Padahal saya sudah mengantongi tiket penerbangan lanjutan ke Jambi pukul 16.10. Sudah hampir dapat dipastikan bahwa saya harus beli tiket lagi untuk penerbangan lanjutan. Tidak ada yang perlu disesali, juga tidak tidak perlu bersedih karena kejadian itu. Saya sangat yakin bahwa kehendak Allah ini pasti ada hikmahnya.  

Betul, saya tiba di Jakarta pukul 16.40, artinya Lion Air yang akan menerbangkan saya ke Jambi sudah tidak mungkin lagi terkejar, sehingga tiketpun hangus dan harus membeli lagi tiket yang baru. Untuk membeli tiket baru lewat online juga sudah tidak mungkin lagi, karena pelayanan penjualan online sudah tutup. Jalan satu-satunya adalah mencari calo yang biasanya masih menyimpan secercah harapan. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga tiket yang tentunya dengan harga yang melebihi standar. Dengan ijin Allah, dapat sampai di bumi Jambi sekitar pukul 21.00.  

Sedih dan bahagia yang biasa dirasakan oleh setiap orang pasti ada penyebabnya. Biasanya orang berbahagia jika memiliki harta yang melimpah, kebahagiaan juga bisa terjadi karena adanya kenaikan jabatan dan pangkat, seperti seorang akademisi yang mendapatkan gelar akademik puncak menjadi guru besar adalah kebahagiaan puncaknya. Ketika seseorang sembuh dari sakit yang dideritanya, muncullah kebahagiaan di sana. Secara umum, manusia akan bahagia jika dunia ini tersenyum padanya. Sebaliknya, kesedihan biasanya muncul karena persoalan yang membelitnya. Manusia bersedih karena sakit, dihinakan dan dikecewakan oleh orang lain. Sebagaimana orang dapat bersedih karena tertinggal pesawat dan harus membayar kerugian dengan membeli tiket baru lagi.  

Sudah menjadi suratan dari-Nya kalau dalam kehidupan ini kondisi seseorang dapat berbolak-balik dan berubah-ubah. Suatu saat dia dapat menikmati manisnya kehidupan dan pada saat yang lain justru yang dirasakan adalah pahitnya. Tidak ada dalam kehidupan ini orang yang berada pada ritme yang sama, selalu dalam posisi kebahagiaan, atau sebaliknya, sejak lahir hingga meninggalkan dunia selalu dalam kepahitan. Saya sangat sepakat dengan sunnatullah seperti itu, dan saya yakin anda juga menyepakatinya.   

Ada Hikmah dibalik Sebuah Kisah

Namun, mengapa sebagian manusia memberikan porsi berlebihan untuk kesedihannya, sementara porsi untuk kebahagiaannya hanya sedikit. Mengapa sebagian manusia harus bersedih selama berhari-hari, padahal sangat mungkin ia dapat merubahnya menjadi hanya beberapa saat saja. Mengapa harus bersedih karena suatu peristiwa yang seharusnya tidak perlu bersedih karenanya? Susah dan sedih itu akan dengan mudah keluar masuk ke dalam hati seseorang. Pada saat satu pintu kesedihan terbuka, sesungguhnya disekitarnya terdapat seribu pintu untuk menutupinya. Sehingga tidak perlu lama-lama bersedih, hendaknya kita segera mencari jalan keluar untuk menggantinya menjadi kebahagiaan.  

Dalam kehidupan ini, kita juga sering mendapati seseorang yang dicintai oleh banyak orang karena setiap kali kita bertemu dengannya, yang kita rasakan adalah kebahagiaan. Seakan-akan dia tidak mempunyai masalah sedikitpun. Masalah kita pun akan terurai karena kita bertemu dengannya. Banyak orang yang senang duduk membersamainya. Tidakkah patut kiranya kita menjadi orang seperti itu, yang dapat penjadi pengurai setiap problem yang dihadapi oleh lain.  

Mengapa kebanyakan dari kita lebih senang dikagumi dan dipuji meskipun pengaguman dan pujian itu sesungguhnya tidak layak kita terima. Mengapa kita tidak berusaha merubah sikap suka dikagumi itu menjadi pribadi yang betul-betul mengagumkan karena prestasi dan kebaikan yang ada pada diri kita. Pribadi yang mengagumkan tidak membutuhkan pengaguman dan pujian, ia tetap menjadi orang yang luar biasa, baik ada orang yang memujinya atau tidak. Rasanya kita perlu belajar dan merubah diri kita menjadi seperti itu.  

Sering kita saksikan, ada orang yang perkataannya sangat memukau para pendengar. Apabila orang itu berbicara, semua orang akan memasang telinga dan mendengarkannya. Banyak orang yang kagum dengan cara bicaranya yang sangat baik itu. Namun, mengapa pula jika kita yang berbicara, orang lain tidak mau mendengarkan omongan kita, bahkan sebagian ada yang meninggalkan tempat atau lebih memilih berbicara sendiri dengan orang yang disampingnya dengan tema lain. Kita juga perlu belajar dari mereka yang mampu mempengaruhi kebaikan kepada orang lain tersebut.  

Banyak sekali kejadian-kejadian yang memberi pelajaran berharga untuk kita semua. Kita perlu belajar dari setiap pelajaran yang kita temui di lapangan. Di sana kita akan belajar bagaimana menikmati kehidupan. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaSepanjang Sejarah Islam, Ibadah Haji Tidak Pernah Berhenti – Islampos SesudahnyaDikecam karena Parodikan Allah dan Malaikat Demi Konten, Pengguna TikTok Ini Minta Maaf

Berita Lainnya

0 Komentar