BERSAMA PECINTA BAHASA ARAB BANYU ANYAR
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

BERSAMA PECINTA BAHASA ARAB BANYU ANYAR

Terbit 20 July 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hikmah / Motivasi / Tadzkiroh / Ustadz Uril
BERSAMA PECINTA BAHASA ARAB BANYU ANYAR

Bersyukur pada hari ini bisa bersilaturrahim di Pondok Pesantren Banyu Anyar Pamekasan, Madura. Silaturrahim kali ini dikemas dengan acara membersamai para pecinta bahasa Arab, yang terdiri dari guru bahasa Arab di pesantren dan juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Darul Ulum di pesantren tersebut. Semestinya acara pelatihan dimulai jam 08.00 tepat, namun karena di perjalanan menuju lokasi berpapasan dengan konvoi kedatangan dua rombongan jamaah haji Madura, akhirnya acara baru bisa dimulai sekitar pukul 08.30.  

Biasanya saya mengawali pelatihan dengan sebuah pertanyaan yang saya tujukan kepada peserta, yaitu: “Apakah bahasa Arab itu sulit?”. Ternyata jawaban dari para peserta pelatihan di pesantren Banyu Anyar ini berbeda dengan kebanyakan jawaban yang disampaikan oleh peserta pelatihan di tempat lain, yang rata-rata mengatakan bahwa bahasa Arab itu sulit. Para guru dan dosen di pesantren Banyu Anyar yang mengikuti pelatihan semua sepakat bahwa bahasa Arab itu mudah, dengan berbagai argumen yang mereka sampaikan diantaranya, karena Allah telah mengatakan bahwa Al Quran itu mudah, maka bahasanya juga mudah.  

Memiliki persepsi bahwa bahasa Arab itu mudah, adalah modal utama guru bahasa Arab untuk dapat sukses mengajarkan bahasa Arab kepada santri dan mahasiswanya. Begitu pula sebaliknya, seandainya ada guru atau dosen bahasa Arab, dimanapun mereka mengajar, yang mengatakan bahwa bahasa Arab itu sulit, maka dari situlah awal kegagalannya dalam mengajarkan bahasa Arab. Bagaimana mungkin dia akan berhasil mengajarkan bahasa Arab, sementara dia sendiri menganggap bahasa Arab itu sulit.  

Acara pelatihan yang diikuti oleh sekitar 80 orang dari guru dan dosen bahasa Arab itu berjalan dengan penuh antusias dari para peserta. Hampir seluruh peserta ikut berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan dengan menjawab pertanyaan, mengajukan contoh dan menambah data dan informasi terkait dengan materi yang disampaikan. Acara pelatihan tepat diakhiri pukul 13.00 dengan foto bersama.  

Belajar Tiada Henti

Secara pribadi, saya merasa sangat senang karena ternyata pesantren Banyu Anyar ini adalah pesantren tertua di Pamekasan, bahkan di Madura secara keseluruhan yang memiliki perhatian yang tinggi kepada pembelajaran bahasa Arab. Pesantren ini didirikan pada tahun 1873 oleh KH Isbat bin Ishaq yang tidak lain beliau adalah cucu dari Sunan Giri di Gresik. Pesantren yang dihuni oleh sekitar 6000 santri itu sekarang diasuh oleh keturunan keenam dari KH Isbat, yaitu KH Muhammad Syamsul Arifin. Pengasuh kedua pesantren tersebut adalah KH Abdul Hamid bin Isbat, beliau wafat di Makkah dan dikuburkan di kawasan pemakaman Ma’la, Makkah Al Mukarramah.  

Sejak awal ketika saya diminta untuk mengisi acara pelatihan di pesantren tersebut, sesungguhnya nama Banyu Anyar sepertinya bukan nama yang asing. Betul, ternyata saya sudah pernah mengenalnya, diantara anak-anak dan menantu sang Kiai adalah teman akrab saya, bahkan saya pernah numpang hidup beberapa hari di kamar Lora Salahuddin, salah satu dari putra mahkota sang Kiai yang sedang kuliah di Universitas Ummul Qura, saat Ramadhanan di Makkah 11 tahun yang silam. Diantara putri beliau juga pernah menjadi mahasiswi saya di UIN Malang, demikian pula pada semester ini saya sedang mengajar salah satu dari cucu beliau.  

Para alumni pesantren Banyu Anyar adalah orang-orang pintar yang pernah belajar bersama saya di UIN Malang, rata-rata mereka pintar bahasa Arabnya dan memiliki akhlak yang mulia, bahkan tidak sedikit dari jebolan pesantren tersebut yang melanjutkan kuliah di Al Azahar Mesir dan juga di Al Ahqaf Yaman pada program strata satu, kemudian melanjutkan program S2 di UIN Malang.  

Terasa ada nuansa yang berbeda dengan kebanyakan kiai lainnya, beliau KH Muhammad Syamsul Arifin orangnya egaliter, terbuka dan sangat perhatian dengan santri-santrinya. Dituturkan oleh salah seorang santrinya yang kini menjadi dosen tetap di STAIN Pamekasan, bahwa sang kiai sering mengirim SMS menanyakan kabar beritanya ketika dia kuliah di Al Azhar, dan dia merasa senang sekaligus termotivasi dengan adanya perhatian dari sang Kiai tersebut. Sikap egaliternya juga saya saksikan sendiri, setelah mengisi pelatihan, saya diminta untuk sowan kepada beliau, dan hampir satu jam lebih saya dapat berdialog langsung dengan beliau dengan penuh keakraban.  

Semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada beliau dalam berkhidmat mendakwahkan Isalam dan mengajarkan al Quran kepada umat melalui pesantrennya. Semoga Allah memperbanyak orang-orang semacam beliau, dan juga kita dimudahkan untuk dapat mencontoh beliau dalam memberi manfaat kepada umat. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaBila Hari Ini… SesudahnyaKurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Boleh?

Berita Lainnya

0 Komentar