BERHIAS DENGAN PAKAIAN TAKWA
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

BERHIAS DENGAN PAKAIAN TAKWA

Terbit 17 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Aqidah / Hikmah / Kisah Sahabat / Tadzkiroh / Ustadz Uril
BERHIAS DENGAN PAKAIAN TAKWA

Cara Bertaqwa

Aisyah ra. pernah bercerita tentang ayahnya, suatu hari pembantu Abu Bakar As Shiddiq datang kepadanya dengan membawa makanan, kemudian Abu bakar bertanya tentang asal usul dari makanan itu. Kemudian pembantunya  menjawab: “Dulu di zaman jahiliyah kami bekerja sebagai dukun meskipun sebenarnya kami tidak ahli dalam hal itu, seringkali kami menipu orang-orang dengan perdukunan kami. Hari ini, salah seorang yang pernah kami bantu baru saja bertemu dengan saya dan memberi hadiah makanan ini”.   

Mendengar cerita itu, Abu Bakar memasukkan jarinya ke dalam mulutnya dan memuntahkan semua makanan yang telah ditelannya, seraya mengatakan: “Ya Allah, ini upaya saya untuk menjaga diri kami dari makanan yang haram, maka ampunilah kami jika diantara makanan tadi sudah ada yang menjadi darah dan daging kami”.  

Diceritakan pula oleh Ghannam bin Hafṣ, bahwa suatu ketika ayahnya pernah selama lima belas hari sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sebagai hakim, kemudian dia dipanggil oleh ayahnya dan diberikannya uang 100 dirham seraya berkata, “pergilah menemui seorang karyawan di pengadilan, berikan kepadanya uang ini sebagai pengganti lima belas hari saya tidak bisa bertugas karena sakit, uang itu bukan milik saya”.  

Kalifah Abu Bakar dan hakim Hafṣ dalam cerita di atas telah mengajarakan kepada kita bagaimana caranya berhias diri dengan pakaian takwa yang sangat penting untuk kita teladani dalam kehidupan kita di zaman modern ini. Betapa banyak para pegawai di zaman sekarang yang terlambat masuk kerja selama berjam-jam, bahkan tidak masuk kerja berhari-hari melebihi hakim Hafṣ, namun jarang sekali yang mau menghisab dirinya dari gaji yang diterimanya, apakah halal atau haram? Betapa banyak diantara kira yang tidak peduli dengan rizki yang masuk ke dalam diri kita, dari mana sumber dan asal usulnya?  

Itulah takwa, yang didefinisikan oleh Ali bin Abi Thalib dengan “perasaan takut kepada Allah, berusaha mengamalahkan al Quran yang diturunkan oleh-Nya, merasa puas dengan pemberian-Nya meskipun sedikit, dan selalu bersiap diri untuk menghadapi hari kepergian atau akhirat”. Diantara definisi lain dari takwa adalah agar Allah selalu melihat kita berada pada seluruh aktifitas yang diperintahkan oleh-Nya dan tidak melihat kita pada hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Sinonim dari kata takwa adalah wara’, yang merupakan kebaikan dari ke-Islam-an seseorang yang secara jelas telah digambarkan oleh Rasulullah dalam hadisnya, yaitu “meninggalkan segala sesuatu yang bukan menjadi urusan seorang muslim”.  

Takwa merupakan inti dari prinsip Islam, seluruh nilai-nilai Islam ukurannya adalah ketakwaan, bahkan ibadah dalam Islam tujuannya adalah untuk mencapai ketakwaan itu sendiri. Aktifitas sosial seperti persahabatan dalam Islam juga harus dikaitkan dengan takwa jika ingin memberi dampak kebaikan kepada pelakunya (QS Az Zukhruf:67). Hati manusia yang disiram dengan air ketakwaan, akan menjadi hati yang selalu menghormati syariat dan batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah (QS Al Hajj:32). Bukan hanya itu, dengan ketakwaan, seseorang akan terjaga dari berbagai bentuk keburukan dunia, ia adalah cahaya yang dengan mudah akan dapat menyinari dan membedakan antara yang haq dengan yang bathil (QS Al Anfal:29).  

Dengan menghiasi diri dengan ketakwaan, seorang muslim akan menjadi orang yang paling mulia di sisi Allah, akan bersama Allah sehingga selalu merasakan pengawasan yang terus-menerus dari-Nya. Segala keinginannya untuk melakukan kebaikan akan mendapat dukungan penuh dari Allah, tipu daya syaithan pun tidak akan mampu menghalanginya (QS Ali Imran:120), sehingga semua urusannya menjadi mudah termasuk dalam hal mencari rizki akan dipermudah dah diluaskan oleh Allah swt., bahkan datang dari pintu yang tidak sisangka-sangka (QS At Thalaq:2-3).   

Untuk dapat menghiasi diri dengan pakaian takwa bukanlah sesuatu yang sulit, segala sesuatunya sudah jelas dan telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw., mulai dari mengerjakan segala kewajiban, berperilaku dan berakhlak yang baik sesama manusia, segera sadar dan bertaubat jika melakukan khilaf atau kesalahan, mau berkorban untuk kebaikan dan syiar Islam, menghormati dan mengagungkan Rasulullah saw., berbuat adil dan objektif, menjaga lisan dari perkataan yang berdampak negatif, selalu introspeksi diri dan berusaha mencontoh perilaku orang-orang yang bertakwa.   Semoga Allah swt. selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya dalam setiap situasi. Utamanya dalam dunia modern seperti sekarang ini yang lebih membutuhkan praktik-praktik ketakwaan dalam kehidupan. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaINDAHNYA IBADAH TAFAKKUR SesudahnyaTANᾹFUS

Berita Lainnya

0 Komentar