BERDAKWAH DENGAN KETELADANAN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

BERDAKWAH DENGAN KETELADANAN

Terbit 22 June 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / Kisah Nabi / Kisah Sahabat / Mu'amalah / Tips & Trik / Ustadz Uril
BERDAKWAH DENGAN KETELADANAN

Keteladanan adalah media dakwah dan pendidikan yang paling efektif, karena di dalamnya berpadu antara kata­-kata dan perbuatan, bersatu antara idealitas dan realitas. Karena itu, dalam dakwah yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw. dan juga para da’i yang menjadi pewarisnya dalam menyebarkan Islam, selalu mengedepankan keteladanan sebelum mereka menyampaiakan pesan dakwah kepada objek dakwahnya.  

Pada saat perjanjian Hudaibiyah, setelah Rasulullah dan para sahabat merampungkan penandatanganan perjanjian dengan orang kafir Quraisy, kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Wahai para sahabat, bangkitlah, potonglah sembelihan kalian dan rambut kalian”. Namun anehnya, untuk kali ini para sahabat tidak ada yang bangkit memenuhi seruan Rasulullah, meskipun Rasulullah telah menyeru mereka sampai tiga kali. Kemudian beliau masuk ke tempat Ummu Salamah dan menceritakan penolakan sabahatnya terhadap perintahnya.   

Ummu Salamah kemudian menasehatkan kepada Rasulullah, seraya mengatakan: “Wahai Rasulullah, kalau betul engkau menghendaki mereka untuk melakukan itu, keluarlah sekarang, jangan berbicara kepada siapapun hingga engkau terlebih dahulu menyembelih dan memotong rambutmu”. Setelah itu beliau keluar, kemudian menyembelih binatangnya dan memanggil tukang cukurnya untuk memotong rambut beliau. Setelah para sahabat melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah, mereka berbondong-bondong menyembelih binatang mereka dan saling memptong rambut mereka, hingga kelihatan seakan-akan mereka saling memotong leher diantara mereka.  

Suatu hari, Hasan Al Basri didatangi oleh sekelompok hamba sahaya untuk meminta beliau agar pada hari Jum’at pekan itu berkhutbah dengan mengambil tema tentang keutamaan memerdekakan budak, namun beliau tidak memenuhi permintaan mereka. Pada pekan berikutnya orang-orang itu datang kembali kepada beliau untuk menyampaikan permohonan yang sama, dan beliaupun belum dapat memenuhi permintaan itu. Baru setelah mereka datang lagi pada pekan ketiga, Hasan Al Basri mau berkhutbah Jum’at dengan mengambil tema keutamaan memerdekakan budak. Kaum muslimin yang memiliki budakpun akhirnya berlomba-lomba untuk memerdekakan budak setelah mendengar khutbah dari Hasan Al Basri.  

Peranan Teladan

Para hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh majikannya datang kembali menemui Hasan Al Basri, kali ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih, sekaligus menanyakan alasan beliau yang baru memenuhi permintaan mereka pada kali yang ketiga. Beliau menjawab: “Pada saat permintaan pekan pertama dan kedua, saya belum punya beaya untuk memerdekakan budak, dan saya baru bisa memberi contoh memerdekakan hamba sahaya pada saat kalian meminta saya pada pekan ketiga”.   

Suatu hari, saat Imam Ahmad bin Hambal ditahan oleh Khalifah Al Makmun karena sikap beliau yang tidak mau mengatakan bahwa al Quran itu adalah makhluk, salah seorang ulama bernama Abu Ja’far Al Ambari mengunjunginya untuk menyampaiakan nasehat kepada beliau, seraya berkata: “Wahai Imam, engkau adalah pemimpin, umatmu akan mengikuti apa saja yang engkau katakana, maka takutlah kepada Allah, jangan sampai engkau mengatakan bahwa al Quran itu adalah makhluk”. Imam Ahmad menjawab: “Mā syā’a Allah, aku berjanji untuk itu”.  

Pada hari-hari berikutnya, Imam Ahmad mendekam dalam penjara yang tidak lepas dari paksaan, tekanan dan siksaan agar mau mengatakan bahwa al Quran itu adalah makhluk. Namun Imam Ahmad tidak bergeming, selalu ingat nasehat yang disampaikan oleh Al Ambari.   

Pada suatu hari, salah seorang sahabat beliau yang lain bernama Marwazi mengunjunginya dan mengingatkan agar sang Imam mau merubah sikapnya agar dapat hidup bebas dan tidak tersiksa di dalam penjara. Kemudian sang Imam menjawab: “Keluarlah wahai Marwazi, engkau akan mendapatkan jawaban”. Setelah Marwazi keluar, dia mendapati sejumlah manusia yang tidak terhitung jumlahnya sedang menanti sikap terakhir dari Imam Ahmad sambil memegang mushaf, kertas dan pena, siap mengabadikan perkataan Imam Ahmad terkait dengan al Quran.  

Kemudian Marwazi masuk kembali menemui Imam Ahmad dan menceritakan apa yang terjadi di luar. Saat itu Imam Ahmad mengatakan: “Wahai Marwazi, apakah aku tega menyesatkan mereka semua, ataukah lebih baik aku mati sementara mereka tidak tersesat?”.  

Itulah tiga kisah keteladanan yang ditampilkan oleh baginda Rasulullah saw., Hasan Al Basri dan Imam Ahmad bin hambal. Mereka semua yakin keteladanan itu sangat penting dalam aktifitas dakwah yang menjadi tugas suci mereka. Semoga Allah swt. selalu memudahkan kita untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat dalam mentaati Allah swt. dan Rasul-Nya saw. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaMEMBANGUN KETELADANAN SesudahnyaMENJAGA RAHASIA

Berita Lainnya

0 Komentar