Atheisme dan Riba – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Atheisme dan Riba – Islampos

Terbit 18 December 2020 | Oleh : Admin | Kategori : atheis / Hadits / riba / Tsaqofah
Atheisme dan Riba – Islampos


Oleh: Shaykh Habib Bewley Imam Masjid Jumu’ah – Cape Town

ALLAH berfirman dalam Al-Quranul Karim yang artinya: ‘Jika Kebenaran itu mengikuti keinginan dan hawa nafsu mereka, langit dan bumi dan semua orang di dalamnya akan terbawa dalam kerusakan.’

Semua masalah pada hari ini, semua krisis yang saat ini melanda dunia, dapat dilihat sumbernya pada satu hal dan hanya satu hal ini saja. Hal itu adalah digantikannya penyembahan kepada Allah oleh kultus diri sendiri.

Manusia, dalam kesombongan mereka, menghadirkan dan memandang diri mereka sebagai tuan dari alam semesta. ‘Untuk apa saya memerlukan Tuhan,’ kata mereka, ‘ketika saya bisa membuat hukum yang bisa lebih baik melayani umat manusia sendiri?’

Tapi, faktanya adalah bahwa hukum mereka tidak membawa apa-apa kecuali kesengsaraan, ketidakadilan, kemiskinan dan penderitaan.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah, yang artinya: ‘Mereka mengatakan, ‘Kami hanya melakukan hal yang benar.’ Sungguh tidak demikian! Mereka adalah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya.’ Dan itu nyaris tak mengejutkan, sebab diri yang tidak diliputi oleh keimanan kepada Allah hanya akan membawa kepada keburukan.

BACA JUGA: Larangan Riba, Begini Al-Qur’an Menjelaskannya

Menuhankan Akal dan Hawa Nafsu

Allah berfirman, yang artinya: ‘Nafs membawa tindakan buruk – kecuali bagi mereka yang dikasihi oleh Tuhan.’ Nafs yang tidak diliputi oleh keimanan kepada Allah akan selalu membawa kepada selera dan keinginan yang lebih rendah, sampai hanya sedikit di atas hewan atau bahkan lebih rendah darinya.

Allah berfirman, yang artinya: ‘Apakah kamu melihat orang yang telah mengambil keinginan dan hawa nafsunya sebagi tuhannya? Apakah kemudian kamu akan menjadi penjaganya? Apakah kamu mengira kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka hanya seperti binatang ternak. Bahkan mereka lebih sesat.’

Dan mengapa tidak, di mata mereka, dunia ini adalah segalanya dan akhir dari segala eksistensi. Filsafat tak bertuhan mereka tidak lagi memberikan mereka sebuah cita-cia apa pun.

Mengapa mereka harus peduli pada kesejahteraan planet ini ketika mereka akan mati dan dikuburkan jauh sebelum planet itu punah? Apa urusannya jika mereka menyebabkan satu juta orang mati kelaparan, sedang mereka sendiri berkelimpahan dengan pakaian dan makanan?

Tidak ada salah dan benar bagi mereka, karena mereka tidak memiliki kompas moral yang dapat membedakan yang benar dan yang salah.

Bagi mereka, sukses diukur oleh berapa banyak uang yang dapat dikumpulkan dan berapa banyak materi yang dapat diperoleh – tidak ada hal lain sebagai tujuan.

Dan itulah mengapa begitu banyak dari mereka mengklaim bahwa mereka tidak pernah merasa cukup, berbohong, menipu dan mencuri untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi.

Jadi, pertumbuhan adalah penggerak utama yang mendukung pandangan dunia ateis kapitalis, dan karenanya ketergantungan pada riba atau penambahan dalam transaksi. Yakni penciptaan ‘kekayaan moneter’ – yang dalam kenyataannya, hanya angka-angka pada layar komputer – yang diciptakan dari ketiadaan.

Shaykh Abdalqadir mengatakan tentang ini, dalam esainya, Keruntuhan Kaum Monetaris: 
 ‘Fondasi dari ateisme modernis tidak terletak pada bangunan metafisis yang menyatakan bahwa manusia tidak ‘memerlukan’ ide Ketuhanan – tapi terletak pada pemberlakuan riba yang tidak ada lagi sebagai larangan, tapi keharusan.

Dalam dunia yang terbatas dan fana manusia modern menyatakan bahwa pertambahan dalam pertukaran tidak hanya diizinkan tetapi secara teoritis tanpa batas. Ateisme telah mendahului riba. Sang Maha Pencipta telah menegaskan kenyataan-Nya bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, segala sesuatu dalam eksistensi, yaitu penciptaan, adalah sesuatu-selain-dari-Nya, sehingga berada dalam waktu, memiliki bentuk dan batas.

Karena sifat keterbatasan alam semesta inilah, sistem pertukaran yang mengakui teori yang menyatakan pertambahan [riba, pen.] dapat berfungsi, sedangkan yang di tangan adalah terbatas, harus dilarang.’

Riba dan hukum manusia telah membawa dunia ini ke tepi jurang – lautan terpolusi, hutan gundul dan bahkan langit yang menipis – semua demi memenuhi keserakahan mereka, dan kebutuhan kepuasan instan.

Mereka berpikir bahwa ‘perdagangan’ mereka membawa sukacita dan kebahagiaan, tetapi kenyataannya hal itu bahkan tidak menguntungkan mereka di dunia ini, karena Allah mengatakan, yang artinya, ‘Allah memusnahkan riba tetapi menyuburkan sedekah.’

Dengan kata lain, menurut para mufassirun, riba tidak memberi mereka manfaat di dunia ini. Dan, untuk di akherat kelak, mereka akan dibakar di neraka, abadi selamanya. Allah berfirman yang artinya, ‘Adapun orang yang melewati batas dan lebih memilih kehidupan dunia ini, api menyala-nyala akan menjadi rumah-Nya. Adapun orang yang takut kepada Tuhannya dan melarang diri dari hawa nafsu yang rendah, surga akan menjadi perlindungan-Nya.’

BACA JUGA: Kejamnya Riba

Penegakan Kembali Pilar Islam

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan planet kita dan mengembalikan kesehatan dan kemuliaannya, satu-satunya harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia adalah pemulihan dari Dien Islam secara keseluruhan.

Islam harus sekali lagi diberlakukan di setiap negeri. Islam adalah Dienul Fitrah dan setiap aspeknya diarahkan menempatkan manusia selaras dengan dirinya sendiri dan dengan seluruh kehidupan.

Dunia ini seperti sebuah mesin yang diminyaki dengan segala sesuatu dalam penciptaan yang memainkan peran dalam menjaga agar berfungsi dengan lancar.

Tapi jika satu bagiannya, terutama jika bagian itu adalah bagian yang penting seperti manusia, sebagai roda penggerak, rusak dan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, maka seluruh mesin berhenti berfungsi dan mulai lepas dari jalinannya, sebagaimana yang kita lihat saat ini. Jadi manusia harus kembali untuk memenuhi fungsi utamanya sekali lagi.

Tapi apakah fungsi utama manusia?

Ini ada dua – yang pertama untuk menyembah Tuhan kita dan kedua untuk menjaga dan memelihara bumi atas nama-Nya. Allah berfirman yang artinya ‘Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.’

Dan Dia mengatakan, ‘Dialah yang menunjuk kamu menjadi khalifah-Nya di bumi.’ Ini adalah visi manusai yang lebih tinggi, yang dijelaskan oleh Syaikh Abdalqadir dalam esainya, ‘Krisis Dunia’:

‘Manusia telah ditempatkan di bumi untuk melestarikan dan melindunginya. Manusia, dalam Islam, adalah penjaga dunia, tanahnya, airnya, udara, dan semua makhluk hidupnya. Kembalinya Islam akan memberikan penyelamatan ekologis bagi planet yang tengah sekarat.’

Sebab tidak ada sesuatu tugas yang lebih tinggi daripada memenuhi pekerjaan yang telah dipercayakan kepada manusia ini.

Mengembalikan Sunnah

Adapun bagian pertama dari tugas manusia dalam kehidupan adalah menyembah Tuhannya, satu cara untuk melakukan itu adalah dengan mengikuti sunah Rasul-Nya yang terkasih. Jika bukan karena dia tidak satupun dari kita dapat mengetahui Tuhan kita, dan jika bukan karena dia tidak satupun dari kita akan tahu bagaimana untuk beribadah.

Allah berfirman yang artinya ‘Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku dan Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”

Dia adalah panduan kita dalam semua aspek kehidupan kita – ibadah dan mu’amalah, karena hanya ketika kedua bagian dari dien ini diimplementasikan maka dien kita dapat dikatakan berfungsi.

Itu adalah realitas dari kesaksian kita bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sehingga kita harus masukkan ke dalam segala praktek yang dibawanya, mulai dengan pilar-pilar pokoknya.

Kita harus mengembalikan pilar zakat yang hilang dan itu memerlukan kembalinya mata uang Dinar emas dan Dirham perak dan kepemimpinan yang cukup kuat untuk mengambil zakat – bila orang menolaknya.

Sebagaimana Sayyiduna Abu Bakar melakukananya, ketika suku-suku Arab menolak untuk membayar zakat, setelah masa hidup Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, .

Kita harus menghapuskan riba – Allah dan Rasul-Nya telah menyatakan perang terhadapnya – dan menegakkan kembali keadilan dan kesetaraan dalam transaksi. Perdagangan harus kembali ditransaksikan secara kontan dengan uang riil dan untuk barang-barang yang riil.

Dan uang harus berhenti ditumpuk dan ditimbun di bank-bank, tetapi harus beredar di antara orang-orang dan kembali menjadi media pertukaran, sebagaimana Allah sendiri menunjukkan dalam surat Al-Hasyr, yang artinya,

‘Apapun rampasan perang yang Allah berikan kepada Rasul-Nya dari penduduk kota adalah milik Allah dan Rasul serta kerabat dekat dan anak-anak yatim dan sangat miskin dan musafir, sehingga harta – yakni jarahan perang dan semua bentuk lain dari uang – tidak hanya berputar di kalangan kaya di antara kamu – yaitu ditimbun dan tetap terkunci dan tidak dapat diakses oleh masyarakat.’

Uang adalah darah kehidupan masyarakat – ketika uang mengalir lancar tatanan masyarakat berfungsi tetapi ketika terjadi kebekuan, masyarakat berada dalam bahaya kematian dan kehancuran. Hari ini kita berdiri di persimpangan jalan yang penting dalam sejarah umat manusia.

Sistem riba yang berlaku saat ini yang dibangun di atas keserakahan dan ketamakan para penguasa kafir tengah pada titik kehancurannya, terhuyung dari satu krisis ke krisis berikutnya, setiap kali krisis baru yang lebih besar dan lebih destruktif daripada yang sebelumnya.

BACA JUGA: Alasan Kenapa Islam Melarang Riba

Spesies kita telah berada di ambang jurang dan hanya kita sendiri yang memiliki kapasitas untuk menarik kembali ke keselamatan.

Kita, umat muslim, memegang di tangan kita ‘instrumen sosial yang unik penyelamat dari bencana monetaris’, karena kita memiliki akses langsung ke dien otentik dari Allah yang bentuknya secara lengkap dan sempurna telah dipraktekkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Kita memiliki akses kepada sunnah Rasul Allah terakhir, yang praktek dan ajarannya tetap berlaku dan akan berlaku sampai Hari Qiyamah.

Kita memohon kepada Allah agar memberikan niyat yang tegas dan menguatkan kita dalam menjalankan tugas ke depan. Kita meminta kepada-Nya untuk menempatkan kita di garda depan orang-orang yang mendirikan kembali dien-Nya dan membuat semua tindakan kita dan semua transaksi kita adil dan terhormat.

Mari kita wujudkan shahadatayn dalam semua aspek kehidupan kita dan dengan demikian menunjukkan kepada orang-orang bagaimana menjalani hidup dan berinteraksi secara sehat.

Kita meminta kepada Allah untuk melindungi kita dari hedonisme yang meliputi zaman modern dan ekologisme yang muncul sebagai oposisi langsung terhadapnya, dan menjadikan kita ummatan washaton. Kita meminta Dia untuk memberikan kemenangan dan keberhasilan dien-Nya. Aamiin. []

Sumber: Naskah khutbah di Masjid Jum’ah Cape Town



Source link

SebelumnyaKhutbah Jumat – Jangan Serampangan Merealisasikan Cinta Kepada Nabi  SesudahnyaTiga yang Membuat Salman Al-Farisi Terpingkal-pingkal dan Tersedu-sedu

Berita Lainnya

0 Komentar