Ampunan dari Sepotong Roti – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Ampunan dari Sepotong Roti – Islampos

Terbit 21 February 2021 | Oleh : Admin | Kategori : Abu Musa Al-Asy'ari / dosa / Hadits / Ibrah / Roti
Ampunan dari Sepotong Roti – Islampos


Oleh: Aditya Budi
Penikmat Islamic Studies
[email protected]

DALAM sebuah riwayat diceritakan kisah yang cukup populer dimana terkandung hikmah dan pelajaran berharga di dalamnya. Salah satunya diceritakan dalam Kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani.

Adalah seorang Abu Musa Al-Asy’ari r.a, salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Dalam sumber lain dikatakan bahwa pada masa Kekhalifahan Umar bin Khatab r.a, Abu Musa pernah diamanahi menjadi gubernur di Bashrah.

Tak berselang lama, pada masa Khalifah Utsman bin Affan r.a, Abu Musa dialihkan untuk menjadi gubernur di Kufah.

Bashrah dan Kufah merupakan dua kota yang menjadi pusat para ulama dan cendikiawan menumbuhkan kultur akademik sekaligus sebagai salah satu pusat peradaban Islam kala itu. Menjalang akhir hayatnya, Abu Musa r.a menceritakan sebuah kisah nan penuh hikmah kepada anak-anaknya. Yaitu kisah tentang sepotong roti dan ampunan di dalamnya.

BACA JUGA: Tukang Roti: Aku Ingin Bertemu dengan Imam Ahmad

“Wahai anak-anakku, ingatlah kalian akan sebuah kisah tentang seorang pemilik sepotong roti?” begitulah kira-kira Abu Musa r.a mengawali kisahnya.

Dahulu ada seorang ahli ibadah yang begitu tekunnya taat kepada Allah. Ia menetapi sebuah tempat dan menghabiskan tujuh puluh tahun hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Hari-harinya ia habiskan hanya untuk beramal ketaatan kepada Allah.

Hingga suatu ketika datanglah bujuk rayu setan melalui seorang wanita. Wanita tersebut mendatangi tempat dimana ia tinggal dengan tujuan untuk menggodanya. Mungkin sekali dua kali nampak masih kuat, namun setan tentu tak akan pernah kehabisan akal.

Hingga akhirnya terbujuk rayulah ahli ibadah tersebut. Terperosoklah ia, sang ahli ibadah dalam kubangan perbuatan maksiat dan dosa. Ia bersama wanita tersebut melakukan perzinahan selama tujuh hari lamanya.

Akhirnya setelah tujuh hari penuh dengan perbuatan nista, sang ahli ibadah mulai menyadari kesalahannya.
Ia bertaubat kepada Allah dan menyesali semua kekhilafahnnya selama tujuh hari itu.

Perbuatan dosa yang mungkin tak pernah terlintas sedikitpun dipikirannya. Ia mulai melangkahkah kakinya untuk menempuh perjalanan, mungkin ia merasa sudah tak pantas lagi tinggal di tempat dimana ia biasa beribadah sebelumnya.

Ia berjalan dan setiap di tengah perjalanan selalu ia iringi dengan shalat dan sujud. Pada satu titik dalam perjalanan tersebut ia nampak mulai kelelahan. Dalam situasi tersebut ia mendapati sebuah pondok yang nampak kurang terawat. Namun di dalam pondok tersebut ternyata dihuni oleh dua belas orang fakir miskin.

Sang ahli ibadah kemudian bermalam, mengindap di pondok tersebut berbaur dengan dua belas orang fakir miskin lainnya. Ternyata setiap hari di pondok tersebut ada seorang dermawan yang senantiasa memberi dan mengantarkan roti untuk kebutuhan para penghuni pondok itu.

Tak terkecuali pada hari itu, dermawan tersebut mengantarkan roti yang berjumlah persis dua belas sesuai dengan penghuni pondok sebagaimana biasanya, tak kurang tak lebih.

Ahli ibadah yang ikut berbaur tentu ikut kejatahan pembagian roti itu. Dan sudah bisa diduga bahwa ada satu orang fakir miskin yang tak mendapat jatah roti. Sang dermawan pun ditanya oleh seorang yang tak mendapatkan roti.

“Mengapa engkau tidak memberiku roti?”

“Engkau lihat sendiri bahwasanya aku telah membagikan semua roti dan tak satupun dari mereka kecuali hanya mendapat sepotong roti,” jawab sang dermawan. “Apakah engkau melihat bahwa aku menahannya (roti)?”

“Tidak,” jawab seorang miskin itu.

Melihat sebuah peristiwa tersebut, tergeraklah sang ahli ibadah untuk memberikan sepotong roti yang ia terima kepada salah seorang fakir miskin. Ia berikan sepotong roti yang sebenarnya ia pun tengah dalam kondisi lapar dan butuh pada malam itu. Terlelap tidur dengan perut kosong ia jalani dengan ikhlas.

Dalam proses kesungguhan taubat dan penyesalannya akan dosa tujuh hari itu, sang ahli ibadah meninggal. Ia meninggal tepat pada keseesokan harinya selepas semalam sebelumnya ia memberi sepotong roti.

Abu Musa r.a melanjutkan ceritanya. Di akhirat ditimbanglah amal perbuatan yang telah dilakukan oleh sang ahli ibadah. Ternyata ketaatan tujuh puluh tahun ia beribadah, timbangannya dikalahkan seketika dengan dosa tujuh malam yang ia lakukan bersama wanita yang menggodanya kala itu.

Kemudian timbangan dosa tujuh malam itu ditimbang dengan amalnya memberikan sepotong roti kepada seorang fakir miskin di pondokan. Ternyata amal sedekah sepotong roti itu mampu mengalahkan dosa tujuh malam yang ia lakukan. Dosa yang sebelumnya mengalahkan amal ibadah tujuh puluh tahun.

BACA JUGA: Roti Gosong di Rumah dr. Abdul Kalam

“Wahai anakku, ingat-ingatlah kalian akan kisah pemilik sepotong roti itu,” gumam Abu Musa Al-Asy’ari r.a menutup kisahnya.

Kisah tersebut mengajarkan banyak hal. Satu diantarannya mungkin tentang keikhlasan beramal sedekah.

Rasulullah Saw sendiri pernah bersabda bahwa sedirham dapat menggungguli seratus dirham. Bagaimana bisa, karena yang sedirham berasal dari harta seorang yang hanya memiliki dua dirham. Sedangkan seratus dirham berasal dari seorang pemilik harta yang melimpah.

Atau pemaknaan yang lebih luas akan kisah tersebut, bahwa rahmat dan ampunan Allah Swt akan datang sebanding dengan beratnya amal dan kesusahan yang dijalankan. Semakin ia ikhlas dalam langkah-langkah yang berat, susah, lelah, dan bahkan penuh penderitaan maka semakin besar pahala dan anugerah Allah di dalamnya. Wallahu’alam Bishshawab. []



Source link

SebelumnyaSeorang Anak di Tempat Parkiran Mobil SesudahnyaNasihat Rasulullah bagi yang Terlilit Utang

Berita Lainnya

0 Komentar