Alquran Sebut Maryam Saudara Perempuan Harun, Apakah Ibunda Nabi Isa Itu Hidup Semasa dengan Nabi Musa? – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

Alquran Sebut Maryam Saudara Perempuan Harun, Apakah Ibunda Nabi Isa Itu Hidup Semasa dengan Nabi Musa? – Islampos

Terbit 21 December 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Hadits / harun / Maryam / Miracle of Quran / Nabi Harun / QS Maryam: 28
Alquran Sebut Maryam Saudara Perempuan Harun, Apakah Ibunda Nabi Isa Itu Hidup Semasa dengan Nabi Musa? – Islampos


DALAM QS Maryam ayat 28 disebutkan bahwa Maryam, ibu nabi Isa as., dipanggil oleh kaumnya dengan sebutan saudara perempuan Harun.

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS Maryam: 28)

Nama Harun yang disebut dalam ayat tersebut dianggap merujuk pada sosok nabi Harun yang merupakan saudara Nabi Musa, nabi yang diutus kepada Bani Israil. Namun jika demikian, terjadi kerancuan. Sebab Maryam tak sezaman dengan Nabi Musa dan nabi Harun. Paling tidak ada 600 tahunan atau ada yang mengatakan lebih dari 1.000 tahun terpaut, sebagaimana keterangan Az-Zamakhsyari.

Lantas, apa maksud penyebutan “saudara perempuan Harun” kepada Maryam? Apakah yang dimaksud adalah Harun lain yang memang sejaman dengan Maryam? Atau, apakah Maryam memiliki saudara lelaki bernama Harun yang sama-sama berasal dari keluarga Imran?

BACA JUGA: Viral, Inilah Teknik Bersalin Maryam yang Terinspirasi dari Kisah Ibunda Nabi Isa

Seperti diketahui, Maryam, ibu nabi Isa, merupakan putri dari keluarga Imran. Ya, keluarga Imran yang dimaksud adalah yang disebut sebagai salah satu nama surat dalam Alquran yakni Ali Imran.

Tentu saja para ulama berbeda pendapat dalam masalah siapakah yang dimaksud dengan Harun dalam ayat tentang Maryam itu.

Pendakwah internasional, Ahmad Deedat berpendapat, “Penyebutan Harun sebagai saudara Maryam didalam QS Maryam: 28 adalah satu-satunya ayat yang menyebut demikian (kepada Maryam). Dan, penyebutan “saudara Harun” bukan sebuah penjelasan tentang Maryam itu sendiri, tetapi sebagai sebuah panggilan kepadanya. panggilan dari Kaumnya setelah mengetahui ia punya anak (tanpa suami).

Maka, apakah sebuah panggilan pasti bermakna yang sebenarnya? Tidak bukan?

Menurut Ahmad Deedat, banyak sekali kemungkinan dari makna sebuah panggilan. Bisa makna sesungguhnya, bisa sebagai panggilan “alias”, bisa sebagai olok-olok, bisa bermakna kiasan, dan lain-lain.

BACA JUGA: Telusur Garis Silsilah 25 Nabi, dari Adam sampai Muhammad SAW (2-Habis)

Menurut Tafsir as-Sa’di/Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H, Maryam dipanggil sebagai saudara perempuan Harun, karena ia seorang wanita yang saleh sebagaimana kesalehan Nabi Harun ‘alaihis salam.

Ayat itu sendiri menyebutkan sebuah tudingan yang diarahkan kepada Maryam karena memiliki anak (nabi Isa) tanpa seorang suami. Sehingga oleh kaumnya, Maryam dianggap melanggar keshalihan yang selama ini melekat pada karakternya.

Terdapat pendapat juga yang mengatakan makna ayat ini adalah Wahai orang yang kami kira seperti Harun dalam ibadah, bagaimana kamu melakukan perbuatan yang seperti ini (zina)?

Menurut Tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram),  kalimat يٰٓأُخْتَ هٰرُونَ (Hai saudara perempuan Harun) maksudnya merujuk pada lelaki shalih yang bernama Harun.

Sedangkan, menurut Syaikh As Sa’diy, Maryam memang saudara perempuan Harun. Namun yang dimaksud Harun bin Imran, bukan nabi Harun yang merupakan saudara Nabi Musa. Sebab, antara keduanya berbeda zaman. Kurun waktu mereka terpaut jauh.

Perlu diperhatikan juga ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang Maryam didalam Alquran. Dalam QS Maryam 35-41, disana secara jelas disebutkan Maryam hidup semasa nabi Zakaria, ayah nabi Yahya. Bukan semasa dengan nabi Musa atau nabi Harun.

Pada masa Maryam hidup, sudah terdapat kebiasaan di masyarakat untuk menamai anak-anak yang lahir di kalangan mereka dengan nama para nabi. Hal itu, karena sudah biasa, bahwa keturunan itu mengikuti orang tuanya dalam kesalehan.

Pada masa Sahabat, ayat tentang Maryam yang disebut sebagai saudara perempuan Harun pun pernah diperbincangkan. Ustaz Ahmad Sarwat dari Rumah Fiqih menyebutkan bahwa yang pertama bereaksi terhadap ayat ini adalah seorang shahabat nabi yang bernama Ka’ab Al-Ahbar.

Dahulu dia seorang pemeluk agama ahli kitab lalu masuk Islam. Sebagai mantan ahli kitab, tentunya beliau punya banyak pengetahuan tentang sejarah dan tsaqafah ahli kitab.

Beliau datang kepada Aisyah dan menyatakan bahwa Maryam itu bukan saudara perempuan Harun, saudara Musa.

Lalu Aisyah berkata, “Kamu bohong.”

Beliau lalu menjawab, “Wahai ibunda mukminin, kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang menyatakan hal itu, tentu beliau lebih benar dan lebih mengetahui. Tapi kalau tidak ada keterangan dari beliau, sesungguhnya aku mendapatkan bahwa di antara keduanya terpisah jarak waktu 600 tahun.”

Maka Aisyah pun terdiam.”

BACA JUGA: Inilah Anggota Keluarga Imran, Keluarga Ibu Nabi Isa

Dari kisah di atas bisa disimpulkan bahwa Harun yang dimaksud dalam ayat tersebut memang bukan nabi Harun yang saudaranya nabi Musa, melainkan orang lain yang bernama Harun, yang menjadi saudara Maryam.

Kesimpulan ini dikuatkan lagi dengan hadis lain yang sahih dari riwayat imam Muslim.

Dari Muhgirah bin Syu’bah berkata, “Ketika aku tiba di Najran, penduduknya bertanya kepadaku, ‘Kalian membaca (Quran), “Wahai saudara perempuan Harun”, padahal Musa hidup sebelum Isa selama sekian dan sekian tahun.”

Ketika bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku tanyakan hal itu dan beliau menjawab, ‘Sesungguhnya mereka biasa menamakan anak mereka dengan nama nabi dan orang-orang saleh yang hidup sebelum mereka.’ (HR Muslim)

Maka jelaslah apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa nama Harun dalam ayat ini bukan Nabi Harun saudara Musa. Ini memunculkan kemungkinan bahwa Maryam memang memiliki saudara lelaki bernama Harun yang semasa dengannya.

Penjelasan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu kemudian juga disimpulkan oleh para ulama bahwa ada kebolehan memberi nama anak dengan nama nabi atau nama orang-orang saleh di masa lalu.

Intinya, apa yang disampaikan Alquran adalah kebenaran, jadi tidak mungkin ada kekeliruan di dalamnya. []

[]

SUMBER: RUMAYSHO | RUMAH FIQIH



Source link

SebelumnyaAwas, Jangan Salah Artikan Tawakal SesudahnyaRusa itu Memanggil Rasulullah

Berita Lainnya

0 Komentar