AGAR KEHIDUPAN KITA MENJADI TAWᾹZUN
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

AGAR KEHIDUPAN KITA MENJADI TAWᾹZUN

Terbit 18 May 2020 | Oleh : Admin | Kategori : Aqidah / Hikmah / Kisah Sahabat / Ustadz Uril
AGAR KEHIDUPAN KITA MENJADI TAWᾹZUN

Tawazun Dalam Islam

Sebagian dari kita seringkali megeluhkan banyaknya tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas, sehingga tidak sedikit diantara kita yang tidak mampu megerjakan semua tugas dan kewajibannya, hanya sebagian kecil saja yang dapat diselesaikan, sementara sebagian besarnya terbengkalai, padahal sama-sama penting dan harus dikerjakan. Maka, tidak sedikit pula target-target yang telah kita tetapkan, misalnya ingin menikah pada usia 25 tahun, namun terpaksa harus mundur satu atau dua tahun baru bisa menikah. Tidak tercapainya keinginan atau tertundanya target dalam kehidupan kita, salah satu sebabnya adalah karena kita tidak mampu menyelesaikan pekerjaan kita dengan tawāzun.  

 Tawāzun adalah memberikan segala sesuatau kepada yang berhak menerimanya tanpa ditambah maupun dikurangi karena telah mengetahui hakekat, batasan, tujuan dan manfaat dari sesuatu tersebut. Tawāzun itu adalah hikmah sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam surat al Baqarah: 269. Tawāzun adalah perintah agama yang jika dilaksanakan oleh manusia, pasti memilki dampak kebaikan dan keindahan pada hidupnya. Dunia seisinya ini telah diciptakan oleh Allah dengan prinsip tawāzun, sehingga terlihat serasi dan indah, tidak ada yang kurang apalagi tidak bermanfaat dari ciptaan Allah swt.  

Melihat pentingnya tawāzun dalam kehidupan kaum muslimin, maka doa yang diajarkan oleh Allah dan harus selalu dibaca dan dipanjatkan oleh setiap muslim adalah permohonan untuk tawāzun. Bahkan doa itu selalu kita ulang-ulang, tidak kurang dari 17 kali setiap hari kita memohon tawāzun kepada Allah melalui doa kita “ihdinaṣ ṣiraṭal mustaqῑm”, dan jalan yang lurus itu adalah tawāzun, karena jalan agama Islam yang telah digariskan oleh nabi Muhammad saw. adalah syari’at yang tawāzun atau seimbang.  

Tawāzun diperluakan dalam setiap aktifitas manusia. Jika berlebihan atau mengurangi dari yang seharusnya, justru akan berdampak negatif bagi pelakunya. Tidak menutup kemungkinan juga dampak negatif dari sikap tidak tawāzun itu akan mencoreng institusi Islam, ketika ada seseorang atau sekelompok orang Islam yang malas beribadah atau malas bekerja, maka bisa jadi sifat malas itu akan disematkan kepada seluruh umat Islam. Bisa jadi yang berlebih-lebihan dalam beribadah dan memmahami perintah itu hanya sekelompok kecil saja dari umat Islam, namun brand radikal seringkali dialamatkan kepada Islam secara keseluruhan.  

Agar kehidupan kita menjadi tawāzun, hendaknya kita mulai dari diri kita masing-masing. Kita mulai memahami dan menerapkan hal-hal yang prinsip seperti aqidah secara tawāzun, kita beribadah juga harus dilakukan dengan cara tawāzun, memandang dunia juga harus menggunakan prinsip tawāzun. Bukankan doa sapu jagad yang juga selalu kita baca adalah permohonan tawāzun antara kebaikan dunia dan akhirat.   

Dalam melakukan penilaian terhadap segala sesuatu harus pula dilakukan dengan tawāzun, itulah sikap ojektif yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sikap tawāzun. Pada kenyataannya masih ada orang Islam yang menilai saudaranya dengan tidak menimbang kebaikan dan kejelekannya, masih banyak kelompok kaum muslimin yang menilai kelompk lain hanya dengan melihat kejelekannya saja, sementara kebaikannya yang sangat banyak itu dilupakan. Merupakan kesalahan yang besar, jika kita menghukumi sebuah organisasi dengan hanya melihat perilaku anggotanya atau bahkan sagelintir orang dari anggota organisasi tersebut.   

Disebutkan dalam kitan Al Bidāyah wan Nihāyah, bahwa Muhammad bin Sirin pernah mengatakan: “Anda telah berbuat dzalim kepada saudara anda, jika anda menilainya lebih jelek dari kenyataannya dan menyembunyikan kebaikannya”. Pada kenyataannya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah berbuat kesalahan, diantara mereka yang pernah berbuat salah ada yang seharusnya tidak patut disebut-sebut kesalahannya, karena kebaikannya telah melampaui kesalahannya. Begitu juga, tidak boleh kita hanya melihat seseorang dengan menggunakan satu kacamata saja yang menghalangi kita dari mengetahui beberapa kesalahannya yang perlu dibetulkan.  

Lebih dari itu, umat Islam sengaja dibuat oleh Allah menjadi umat yang tawāzun atau dalam istilah lain wasaṭ, sehingga memiliki kelayakan untuk mengelola bumi dan segala isinya. Tidak mungkin bumi yang tawāzun ini dapat dimakmurkan oleh umat atau manusia yang tidak tawāzun.   

Semoga Allah swt memudahkan segala urusan kita, dapat melakukan semuanya dengan penuh tawāzun, sehingga segala sesuatu yang menjadi cita-cita kita dapat kita capai dengan sukses dan barokah. Wallahu a’lam.

[email protected]

Facebook

SebelumnyaTANᾹFUS SesudahnyaDIALOG DENGAN AIR MATA TAUBAT

Berita Lainnya

0 Komentar