6 Prinsip Dagang dalam Islam – Islampos
SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

6 Prinsip Dagang dalam Islam – Islampos

Terbit 8 February 2021 | Oleh : Admin | Kategori : Berdagang / Dagang / Hadits / jual beli / Prinsip Dagang / Prinsip Dagang dalam Islam / Tsaqofah
6 Prinsip Dagang dalam Islam – Islampos


MEMBACA hadits-hadits Rasulullah ﷺ, akan kita jumpai beberapa ajaran sunnah terkait dengan cara berdagang. Seperti memudahkan pelanggan atau memperlakukan mitra bisnis dalam berbisnis. Di antaranya adalah:

Mendahulukan dalam pengucapan salam.

Salam merupakan doa dari seorang muslim kepada yang lainnya. Salam merupakan sapaan, seseorang terhadap orang lain.

Dan setiap orang tentunya suka dan senang jika di sapa terlebih dahulu, apalagi jika sapaan tersebut juga merupakan doa. Salam juga merupakan ‘rahasia’ dalam mempererat hubungan antara seseorang dengan orang lain.

Oleh karenanya, salam juga merupakan rahasia, untuk menumbuhkan ‘ikatan hati’ seorang pebisnis terhadap customernya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak (dikatakan) beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahu pada kalian pada satu hal, yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai? (Yaitu) sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Akan lebih baik lagi tentunya, jika seroang pebisnis memulai salam terlebih dahulu kepada mitra atau customernya, baik malalui telpon, sms, email, surat menyurat, maupun dalam kontak langsung.

Memulai mengucapkan salam, merupakan bentuk pemberian perhatian kepada customer. Karena begitu pentingnya salam ini, dalam hadits lain, Rasulullah SAW bahkan menganjurkan agar kita mengucapkan salam, baik kepada orang yang kita kenal, ataupun bahkan terhadap yang belum kita kenal:

Dari Abdullah bin Amru ra, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, amalan Islam apakah yang paling baik? Rasulullah SAW bersabda, “Memberikan makan (pada orang miskin) dan mengucapkan salam baik terhadap orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal. (HR. Bukhari).

1 Memberikan senyuman

Selain menganjurkan mengucapkan salam, kita juga dianjurkan untuk memberikan “senyuman” atau menampakkan wajah yang ceria dan bahagia, khususnya ketika bertemu dengan mitra bisnis (walaupun makna utama dari hadits ini adalah memberikan senyuman secara umum kepada saudara muslim). Dalam sebuah hadits digambarkan :

Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Senyumanmu terhadap saudaramu adalah shadaqah bagimu, amar ma’ruf dan nahi mungkarmu adalah shadaqah, menunjukkan jalan pada orang yang tersesat adalah shadaqah, membantu penglihatan pada orang yang pandangannya lemah adalah shadaqah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalanan adalah shadaqah, menuangkan air dari timba ke timba saudara kita adalah shadaqah.” (HR. Turmudzi)

Memberikan wajah yang ceria kepada mitra bisnis maupun kepada customer merupakan teknik jitu merenggut “hati” mereka. Wajah ceria maupun senyuman ini, bisa berarti makna hakiki namun bisa juga berarti makna majazi (kiasan).

Karena senyuman atau wajah ceria dalam skala yang lebih besar dapat berupa tampilan tempat usaha atau toko yang “nyaman” dan menyenangkan bagi pelanggan. Di samping juga tentunya para petugas, pelayan ataupun pegawai yang senantiasa memberikan senyuman secara makna yang hakikinya.

BACA JUGA: Ini 7 Sikap yang Wajib Dimiliki agar Sukses dalam Bisnis Rumahan

2 Memperhatikan keperluan-keperluannya

Memperhatikan keperluan saudara kita merupakan sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW kepada kita. Karena hal ini akan sangat memberikan pengaruh khususnya pada ‘ta’liful qulub’ antar sesama muslim, tidak terkecuali juga terhadap mitra bisnis maupun customer.

Karena Islam memandang bahwa memperhatikan kebutuhan orang lain di satu sisi memang terlihat seolah hanya untuk kepentingan customer. Namun di lain fihak sesungguhnya hal ini akan berdampak pada kemudahan yang Allah berikan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, …”Dan barang siapa yang (memperhatikan) keperluan saudaranyal, maka Allah SWT pun akan (memperhatikan) keperluan-keperluannya. (HR. Bukhari)

3 Memulai sejak pagi sekali

Memulai bisnis sejak pagi hari, merupakan salah satu bentuk sunnah Rasulullah SAW dalam berbisnis. Karena memulai bisnis di pagi-pagi sekali menunjukkan kesungguhan seseorang dalam berusaha.

Dan bukankah sebagai seoarng muslim, waktu minimal untuk memulai aktivitas adalah ketika waktu azan subuh;

Dari Anas bin Malik ra (beliau mamarfu’kannya dari Rasulullah SAW) bersabda, ‘Janganlah kalian tidur (kembali) untuk mencari rizki kalian, yaitu antara waktu shalat subuh hingga terbitnya matahari. (HR. Dailami dalam Musnad Firdaus)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda :

Dari Shakhr Al-Amidi ra dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda, ‘Ya Allah berikanlah keberkahan pada umatku pada (atas usaha yang dilakukan) pada pagi hari.

Dan bahwasanya Shakr adalah seorang pengusaha, dan ia apabila mengirimkan dagangannya beliau lakukan pada pada waktu pagi hari. Maka ia menjadi kaya dan banyak hartanya.” Abu Daud mengatakan, bahwa ia (Shakr) adalah Shakr bin Wada’ah. (HR. Turmudzi, Abu Daud & Ibnu Majah)

Kesimpulannya adalah, bahwa secara umum mencari rizki dari mulai ba’da subuh atau pagi-pagi sekali, akan membawa keberkahan, di samping juga memiliki nilai pahala yang lebih mulia di bandingkan dengan yang memulai bisnisnya di siang hari.

BACA JUGA: Hukum Jabat Tangan dengan Lawan Jenis dalam Islam

4 Menjaga silaturahim

Hal lain yang perlu dilakukan seseorang adalah menyambung silaturahim. Karena silaturahim (tidak terkecuali terhadap customer) akan melanggengkan bisnis, dan bahkan meningkatkan keuntungan, baik duniawi maupun ukhrawi. Hal ini dikatakan langsung oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya.

Dari Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berkeinginan agar rizkinya dilapangkan dan nama baiknya di kekalkan, maka hendaknya ia menyambung tali persaudaraannya.” (HR. Bukhari)

Dalam dunia bisnis silaturahim sangat perlu untuk menjaga kelanggengan hubungan bisnis dengan mitra maupun dengan customer.

Karena dengan silaturahim, jalinan persaudaraan akan lebih erat yang oleh karenanya keeratan hubungan lain pun dapat terbina, seperti dalam hubungan bisnis.

Karena silaturahim menimbulkan dampak psikologis tersendiri yaitu kedekatan emosional yang lebih terbina dengan baik.

Dan di dalam bisnis terkadang seseorang menjalin hubungan bisnis tidak hanya karena harga yang murah atau pelayanan yang baik, namun terkadang hubungan emosional terkadang bisa lebih dominan.

Dan alangkah baiknya, ketika pelayanan yang baik, harga yang murah juga dibingkai dengan bingkaian silaturahim. Tentunya hal ini akan menjadi lebih baik lagi.

Seandainya pun silaturahim secara fisik agak sulit dilakukan, silaturahim dengan media lainpun juga bisa dilakukan, seperti dengan media telpon, sms, surat, email dsb. Pada intinya, jangan sampai hubungan terabaikan dan terputus begitu saja.

BACA JUGA: Ibarat Lubang di Jalan, Dengki Bisa Mencelakakan

5 Itqan

Secara bahasa, itqan berarti mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Namun dalam beberapa hal, itqan juga sering diterjemahkan dengan profesional, melampaui target, tuntas dsb. Dasar dari itqan ini adalah sebuah riwayat dari Imam Thabrani:

Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia mengerjakan sesuatu, ia mengerjakannya dengan itqan.” (HR. Thabrani).

Itqan jika dikaitkan dengan dunia produksi adalah bagaimana memproduksi suatu barang dengan “sempurna”, mulai dari bentuknya, komposisinya, kualitasnya, hingga kepada pengemasannya.

Semua dilakukan dengan baik dan sempurna. Sedangkan dalam marketing, itqon bisa diterjemahkan dengan penjualan prodok minimal mencapai targetnya, atau bahkan melampaui targetnya.

Itqan dalam bekerja adalah bagaimana pekerjaan yang dilakukan seseorang tuntas, selesai, rapi, dan tidak menimbulkan permasalahan lainnya.

Demikian seterusnya. Dan dalam berbisnis secara umum, itqan dapat diterjemahkan dengan usaha yang maksimal, baik dalam memproduksi, menjual, mengemas, membina hubungan baik dengan mitra bisnis maupun dengan customer, termasuk itqan dalam memahami aspek-aspek syariah ketika berbisnis.

Wallahu A’lam Bis Shawab. []

Sumber: Majalah SAKSI, Jakarta, Edisi Januari 2006



Source link

Sebelumnya6 Museum Islam Terlengkap di Dunia SesudahnyaIni Dia Sunnah Nabi yang Dipakai Banyak Perusahaan di Dunia

Berita Lainnya

0 Komentar